HOME

Ngidam Bakso Beranak Enak Dari Bisnis Ikha Jakarta

Posted at Februari 6th, 2019
Bakso Beranak Enak

Aku dikejutkan dengan kehadiran mantan pacar Ikha di acara live streaming Kuttu malam itu. Mantan pacar itu satu komplek dengan Ikha, Jakarta. Setelah itu, aku dikejutkan dengan foto hidangan bakso besar. Dua kejutan ini membuatku punya kesimpulan bahwa mantan pacar Ikha tidak berhasil membuat Ikha memiliki anak darinya. Akhrinya, Ikha membuat bakso beranak enak sebagai simbol bahwa Ikha ingin memiliki anak. Seperti yang sudah Ikha jelaskan padaku, bakso besar itu memiliki anak berupa bakso kecil-kecil. Bukan hanya Ikha yang tahu, semua orang sudah mengetahui kalau bakso beranak memang memiliki banyak bakso kecil.

Ikha menamai bakso buatanya dengan Bakso Beranak Enak. Ikha merasa percaya diri bahwa Bakso Beranak Enak memang bakso enak. Kalau dibilang enak, bakso buatan ikha memang memiliki rasa yang enak dan khas. Aku sudah merasakan bakso enak buatan Ikha. Waktu aku pertama kali mencoba bakso, Ikha masih menguji-cobakan bakso buatan untuk kebutuhan para dieters. Bakso yang berbahan dasar daging sapi rendah lemak ini, Ikha kirim menggunakan JNE dari Jakarta ke Cirebon. Aku menyarankan memakai bahan pengawet agar bisa tahan selama 3 hari dalam pengiriman. Pas dicoba, bakso buatan Ikha sudah menunjukkan kualitasnya, rasanya enak. Ikha sudah bisa membuat bakso enak di awal mencoba. Bila sekarang Ikha sudah menamakan dengan Bakso Beranak Enak, ini dianggap masuk akal.

“Kita Jangan Cuma Enak-Enakan Membuat Anak Lalu Di Telantarkan. Bakso Saja Dibuat dan Dijual Sampai Habis”

Sebenarnya, aku jijik mendengar sebutan bakso beranak. Walaupun bakso beranak yang Ikha buat enak, aku agak malas memakannya. Alasanya, bakso sudah menjelma dengan istilah bakso beranak.

“Lu inget kan? Bulan lalu gue pengen sekali mencoba makanan buatan elu. Terutama bakso buatan elu. Gue rela beli bakso enak elu.”

“Iye, inget.”

“Lu nolak mulu.”

“Apanya?”

“Gue minta lu kirimin gua bakso buatan elu. Gue beli dah. Lu Cuma mamerin bakso aja.”

“Kan udah gue kirim. Lu ngaku bakso buatan gue enak. Cihuy. Cuma elu doang. Bohong lu!”

“Lah, lu sendiri napa namai bakso elu dengan Bakso Beranak Enak?”

“Ini beda. Gue udah belajar banyak ama orang yang ngerti resep bakso. Dulu kan gue masih coba-coba. Lu minta, maksa, penbet bakso buatan gueeeh. Ya gue kirim. Lu ngaku enak bakso percobaan gue, kan sotoy.”

“Emang enak. Masak gue harus bilang gak enak? Lu ngambek tujuah hari ampe bikin acara live elu kacau kalau gue ngatain bakso elu gak enak.”

“Bomat.”

“Gak percaya?”

“Kagak!”

Aku biarkan saja ia dalam emosi kecilnya atas ketidakpercayaannya dalam menikmati bakso Ikha. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana kondisiku menikmati bakso enak Ikha yang sedang masa uji-coba itu. Lidah memang tidak bertulang. Lidah juga tidak bisa berbohong. Mungkin, menurut Ikha, ketikan jari bisa saja berbohong. Kebetulan, aku berbincang lewat Whatsapp. Kalau mau kepercayaan bagaimana aku menikmati baso enak Ikha, kita memang harus bertemu secara langsung. Mungkin, pertemuan bisa membuat Ikha mempercayai bahwa lidahku menikmati bakso Ikha. Apalagi, Ikha sekarang sudah mahir membuat bakso dengan variasinya.

“Jangan Biarkan Emosi-emosi Kecil Hidangan Bakso Beranak Enak Penuh Cinta”

“Lu mau kirim bakso beranak enaknya sekarang?”

“Gak lagi nawarin elu.”

“Ya sudah, yuk kita ketemuan! Biar gak usah pakai JNE kalo kirim bakso beranak enak.”

“Gue belum siap. Gue belum mau pensi di live streaming.”

Sebenarnya, acara pertemuan itu kode. Aku memberi kode kalau pertemuan adalah inti dari keseriusan. Aku memberi kode untuk perkenalan antar dua keluarga. Pada tahap awal, aku ingin mengetahui rute perjalanan ke rumah Ikha. Itu tahap awal yang dianggap penting bila mau serius. Aku ingin sekali berkunjung ke rumah Ikha. Aku punya banyak saudara di Jakarta jadi tidak perlu khawatir tempat penginapan untuk beberapa hari di Jakarta. Tetapi, Ikha belum siap untuk pertemuan. Ikha selalu memberikan alasan belum pensi dari live streaming. Kalau sudah seperti ini, bagaimana ada pembahasan serius hubungan percintaan?

Aku memang bukan pacar atau tunangan Ikha. Aku hanya seorang teman yang kebetulan sekedar meramaikan suasana live streaming Ikha di Kuttu .

Namun, aku juga memiliki perasaan cinta pada ikha yang membutuhkan kepastian keseriusan. Aku butuh kepastian mengenai penerimaan atau penolakan. Apalagi, aku seorang cowok yang memiliki hasrat di tengah banyak godaan. Kalau tidak ada kepastian kepastian keseriusan, untuk apa pengharapan ini? Tetapi, aku tidak bisa melepas Ikha begitu saja. Aku tidak bisa pergi dalam kehidupannya. Atas nama cinta, aku rela menemaninya walaupun tanpa kepastian.

“Tanpa kepastian apa lu?”

“Cinta gue terombang ambing membutuhkan penolakan atau penerimaan.”

“Kan gue udah bilang, gue gak mau cari jodoh dengan teman-teman live streaming.”

“Okeh, kalau lu masih mempertahankan prinsip lu. Gue juga sebenarnya gak mau cari jodoh di live streaming. Kebetulan aja, gue punya rasa cinta ke elu.”

“Kok Ubay gitu sih? Emang kalau gue ngarepin dapet jodoh dari live streaming gimane?”

“Bomat.”

“Dih, kok gitu sih.”

“Dah. live yang serius biar banyak spender.”

“Anjay.”

“Di Dalam Tubuh, Manusia Memiliki Cinta Berbiji-biji Seperti Tubuh Bakso Beranak”

Dalam perjalanan menuju tempa penjualan konter, aku membayangkan alur cerita soal novel spagete Clarafah. Di dalam cerita itu, aku menuliskan seputar alur makan bakso enak langgnananku bersama Clara. Aku dan Clara menikmati makan bakso enak di tempat Mbak So, bakso khas Wonogiri.

Sebenarnya, Clara yang makan bareng bakso enak khas Wonogiri adalah Clara yang lain, Clara Cirebon. Kebetulan aku bertemu Clara di Grage Mal Cirebon saat ada pentas tari topeng Cirebon. Wakt itu, aku sedang mencari Clara yang ada dalam mimpi. Bertemu Clara Cirebon membuat jantungku copot. Pada akhirnya, pertemuan itu awal hubungan percintaanku bersama Clara Cirebon sampai akhirnya putus di tengah jalan.

Aku memutuskan hubungan bersama Clara karena faktor harga diri. Clara masih mencintai teman kecilnya walaupun ia berbeda agama dengan teman kecilnya. Ketika teman kecilnya menghilang, Clara pun mencarinya. Aku seperti tidak dihargai. Untuk apa mempertahankan hubungan pada orang yang belum menghargai sebuah hubungan? Clara bukan saja tidak menghargai sebuah hubungan tetapi juga tidak menghargai kehadiran diriku.

“Makanya, gue gak ngarepin Ikha, gue udeh pasrah siapapun jodoh yang gue inginkan.”

“Emang boleh ya ngomong ‘Gue pasrah siapapun jodoh yang gue inginkan’?”

“Boleh lah, karena gue juga punya batasan tersendiri. Masak cewek pemabok gue pilih? Gue gak suka cewek pemabok. Cewek ngerokok pun ogah.”

“Oh gitu,” kata Ikha datar.

“Hargailah Cinta Seperti Menghargai Bakso Beranak Walaupun Cinta Tak Ternilai Harganya”

Di depan konter Tcell, aku membeli beberapa lembar vocer kuota. Aku memilih membeli vocer 1 KB masa aktif 30 hari, vocer 2 GB masa aktif 7 hari dan vocer 3 GB masa aktif 15 hari.

Dalam pembelian, aku harus memantau transaksi. Hal ini untuk menghindari kesalahan yang pernah aku alami. Waktu itu, aku membeli vocer 3 GB masa aktif 30 hari tetapi diberi lembaran vocer 3 GB masa aktif 15 hari. Tentu, ini bisa merugikan pembeli. Tetapi, kesalahan itu tidak hanya merugikan pembeli. Penjual juga bisa juga mendapatkan kerugian. Waktu itu, aku membeli vocer 1 GB 10 lembar. Si penjaga konter malah memberiku 14 lembar. Karena bukan hak, aku mengembalikan kelebihannya setelah berkonsultasi dengan atasanya.

“Ini gak ada yang salah lagi kan?”

“Liat aja. Barangkali ada yang kurang.”

Aku melihat-lihat. Ternyata, semua pemesanan lengkap.

Memikirkan Bakso Beranak Enak Ikha yang akan dijadikan bisnis baksonya, aku jadi ingin memakan bakso enak khas Wonogiri. Rasanya, aku seperti masih merasakan getaran untuk seorang Clara. Namun, getaran itu langsung ditepis dengan getaran untuk Ikha. Setengah tahun berhubungan dengan Ikha, aku sudah bisa move on. Sosok Ikha memang mampu membangkitkan rasa cintaku. Tetapi, aku tidak sampai mampu untuk mengharapkannya.

Bagaimana gua mau serius sama Ikha sedangkan Ikha belum pensi dari dunia live streaming? Bagaimana mau meminta pacaran, sedangkan Ikha menolak itu, apalagi di dunia live streaming? Bagaimana aku berharap menikahi Ikha sedangkan kita memiliki masalah besar yang sama? Bagaimana mau berharap kalau Ikha sendiri masih ragu bersamaku? Simpel aja, Ikha belum mencintaiku.

Di depan, Mbak So menyapaku.

“Bakso Mas. Sendirian aja? Clara mana?”

“Clara ada di rumah,” Jawabku asal. Padahal, Clara sedang ada di Bali, bersama teman kecilnya, Kevin.”

“Bakso di sini atau dibungkus?” tanya pelayan.

“Disini saja.”

***

Pertengkaranku bersama Ikha membuatku meninggalkannya. Aku lebih memilih cewek lain yang memang sudah siap serius denganku. Memang, pertengkaranku bukan masalah berat. Tetapi, pertengkaran ini lebih membuatku mantap memilih yang lain. Aku lebih memilih Niswah atau biasa dipanggil Wawah.

“Cinta ama elu masih bisa gue pendam Kha. Tapi gue cowok normal. Gue juga punya hasrat ingin segera menikah. Menikah bukan melulu karena cinta. Menikah karena gue butuh pelampias hasrat segera. Gue udah umur tua,” kataku waktu itu.

“Ya udah lu sono nikah ama orang lain.”

“Jadi lu gak cinta ama gue?”

“Apa sih Ubay? Gua gak mau bahas cinta-cintaan. Orang lama yang ngarepin gue aja, gue gak mau menerima.”

“Jadi lu ngerasa sok laku? Lu gak nyesel kalau gue milih yang lain?”

“Kagak. Lu mah maksa. Kalau lu mau serius, nunggu gue pensi.”

“Kagak bisa nunggu. Lama. Gue lagi butuh sekarang. Setidaknya rencanain pernikahan sekarang walaupun nikah setelah pensi.”

“Ogah.”

Kalau sudah urusannya dengan masa lalu Ikha, membawa-bawa orang lain, aku sudah seperti diremehkan. Buatku, sikap Ikha sama seperti Clara. Kehadiranku cuma untuk kebutuhan sesaat.

“Lu sono nikah ama orang lain. Tapi gak usah lu ngatain kalau gue cuma manfaatin elu. Gue gak minta kehadiran elu,” sewot Ikha.

Walaupun Wawah seorang janda dan aku belum memiliki rasa cinta padanya, aku berniat serius menikahinya. Buatku, menikahi janda seperti kisah Nabi SAW yang menikahi janda umur hampir 40 tahun yaitu Siti Khadijah. Menikah juga sudah masuk dalam bagian penting agama. Seburuk-burunya seorang muslim adalah orang yang belum mau menikah di saat sudah layak untuk menikah. Apalagi, aku tipe penyayang pada cewek. Jadi, aku bisa tetap memberikan kebaikan. Buatku, cinta adalah memberi dan menerima kebaikan dengan penuh ikhlas. Luapan hasrat biologis pada lawan jenis yang sering disebut ‘cinta’ cenderung menipu dan tertipu.

“Kenapa Mas Ubay mau menikah ama gue? Mas Ubay belum cinta ama gue loh.”

“Kebutuhan dan memenuhi sunnah Rasul SAW.”

“Gue janda Mas. Gue mah apa, barang bekasan.”

“Janda tapi masih perawan, he he. Gue juga gak suka cewek rendahin diri gitu. Istri Nabi SAW juga banyak yang janda. Anak Nabi pun berasal dari Janda, Fatimah Binti Muhammad.”

“Hayo, pikirannya udah halu.”

“Tuntutan hasrat ya gini.”

“Ya udah cus ah.”

“Cus apa?”

“Mas sendiri mau apa?”

“Nikahin elu.”

“Ehem…”

“Mau?”

“Gak mau kalau mas belum main ke orang tua gue.”

“Nanti orang tua elu marah kalau ada orang serius ngajak nikah. Katanya, orang tua elu khawatir masa lalu terulang. Jadi gak bisa asal pilih.”

“Emang. Makanya Mas ke rumah gue.”

“Emang rela?”

“Emangnya Ikha? Gue mah asalkan orang itu baik dan niat baik, keluarga nyambut. Urusan diterima apa enggak, itu urusan laen.”

“Kok elu tahu banget soal Ikha?”

“Gue saudaranya Ikha. Gue, Tante paling kecil. Makanya, gue beda 5 tahun.”

Ucapan Wawah bagaikan samberan petir. Aku benar-benar kaget. Aku juga tidak punya pikiran kalau Wawah bersadaraan dengan Ikha. Padahal, mereka berdua live streaming bareng walaupun Wawah baru 1 bulan. Mereka berdua sering saling kunjung. Memang, sebelum permasalahan dengan Ikha, aku tidak pernah mengunjungi room Wawah. Aku kira, mereka sekedar saudaraan live streaming. Ikha sering memanggil Wawah dengan sebutan Tante. Kirain sebutan ini becanda. Ternyata mereka benar-benar bersaudara.

***

Satu tahun berlalu.

“Gue mual Mas. Pengen bakso beranak yang rasanya enak.”

“Nanti gue bikinin bakso beranak yang enak.”

“Mau bakso ponakan gue, Ikha, Bakso Beranak Enak.”

“Gue yang bikin bakso beranak aja ya?” tawarku lagi demi menghindar dari membeli bakso beranak dari Ikha.

“Gak mau! Harus bakso beranak milik ponakan gue.”

“Nanti gue suruh orang buat beli.”

“Gak mau. Harus mas sendiri.”

Sampai detik ini, aku masih bingung harus menghadapi bagaimana dengan kondisi Wawah yang ngidam bakso beranak milik Ikha. Kalau mengidam bakso beranak milik orang lain, aku tidak keberatan membeli bakso beranak. Aku merasa berat membeli bakso beranak milik ponakanya sendiri. Setiap kali aku membeli bakso beranak di Bakso Beranak Enak, Ikha selalu nampak sedih. Ia tidak merespon kehadiranku seperti tersenyum, menyapa apalagi mengajakku ngobrol. Aku harus bagaimana? Faktanya, aku sudah menikahi Wawah. Aku sudah tidak bisa menjadi pelipur lara untuk Ikha.

Aku teringat ketika Ikha pertama kali mengirim bakso beranak buatannya yang sudah dikenal enak itu. Bakso yang dikirim adalah bakso goreng dan bakso biasa namun dari olahan yang sama. Ikha tidak menggoreng bakso beranak yang ia kirim. Ketika aku makan, aku tidak bisa berkata-kata kecuali “Waw, enak, maknyus”. Akhirnya, aku banyak belajar dari Ikha seputar bakso khususnya bakso beranak. Aku berniat membuka bisnis bakso di wilayah Cirebon dan Jakarta. Waktu itu, aku berencana bekerjasama dengan Ikha dengan modal 50%.

“Lu mau buka waralaba bakso gak?”

“Gak ah, ribet.”

“Eh, ini urusan gue. Gue banyak belajar soal waralaba dari klien sambal pecel gue. Dia sudah berhasil membuka waralaba sambal pecel.”

“Emang gimana?”

“Ya emang kudu punya legalitas perusahaan bakso, sistem bisnis bakso yang memenuh standar waralaba.”

“Serah lu lah, Bay. Gue puyeng.”

“Lu mah tinggal enaknya aja. Gue yang ngatur.”

“Gue mau Bakso Beranak Enak gue terkenal di seluruh Jakarta, bahkan Jawa barat.”

“Santai, bakso beranak elu kan enak. Elu emang hebat. Bisa lah untuk terkenal di wilayah Jakarta.”

Sistem waralaba untuk bisnis bakso enak yang ingin diterapkan adalah sistem penjualan memakai gerobak bakso. Si penjual bakso akan difasilitasi dengan gerobak dan resep pembuatan bakso enak. Tentunya, bahan-bahan kebutuhan resep akan disediakan di kantor pusat dan cabangnya. Pihak penjual yang mengelola resep pembuatan bakso enak. Cara seperti ini jauh lebih mengkreatifkan para pedagang. Terlebih, olahan bakso enak mudah basi sehingga harus diserahkan pada penjual atau para pembeli waralaba.

Dalam membuka bisnis waralaba bakso enak, ada dua jenis bakso yang menjadi target bisnis waralaba bakso enak. Pertama, bakso kuah. Bakso kuah menyesuaikan dengan keinginan Ikha yaitu dengan tagline “Bakso Beranak Enak”. Kedua, bakso goreng. Bakso goreng menyesuaikan dengan naget ayam yang laris dipasaran dengan tagline “Bakso Goreng Enak”. Kedua olahan bakso bernaung dalam satu perusahaan bakso.

Sampai sekarang, bisnis waralaba bakso beranak dan goreng enak buatan Ikha belum terwujud. Walaupun sudah tahu resep rahasia bakso enak Ikha, aku tidak akan memanfaatkannya untuk kepentinganku tanpa melibatkan Ikha.

Aku tidak bisa membayangkan kisah lalu yang berbuah kepahitan. Keputusanku memilih Wawah adalah kegagalanku bekerja bisnis bakso dengan Ikha. Disamping aku merasa kecewa atas sikapnya, aku pun bermain belakang dalam memilih Wawah.

“Kalian berdua jahat!” kata terakhir Ikha.

Sekalipun bermain belakang, aku tidak berniat selingkuh. Aku hanya ingin menghormati Ikha. Alasanya, aku memilih tantenya yang umurnya tidak beda jauh dengan Ikha. Untungnya, aku dan Wawah saling tertarik dipandangan pertama.

Kita sepakat tidak mau berlama-lama membiarkan ketertarikan dalam ketidakpastian jodoh. Syetan selalu membisikkan untuk berlama-lama dalam ikatan tidak resmi. Aku tidak mau mendengar bisikan syetan. Sebagian besar orang terjerumus dalam ikatan yang mengabaikan keseriusan menikah. Biasanya, mereka pacaran bertahun-tahun namun sudah merasakan semuanya. Inilah yang diinginkan syetan. Ya, ini diinginkan manusia juga, biar bebas gonta-ganti.

“Sepakat? Bismillah.”

“Sepakat! Bismillah.”

Aku mengakui, ada sifat Ikha dalam tubuh Wawah. Wawah dianggap mirip juga dengan mantanku yang lama. Begitu juga Wawah mengakui, ada wajah mantan di dalam diriku. Walau demikian, aku hanya memandang diri Wawah dan Wawah menandang diriku dalam menjalin rumah tangga.

Pada akhirnya Ikha kembali pulih.

“Ikha, maafkan gue yang ikhlasan menjalani takdir jodoh ini.”

Tidak lama, Ikha menjawab.

“Bang, Ya Allah, maafin gue yang belum menerima kenyataan. Padahal ini sudah sudah takdir Allah.”

“Yuk bikin bakso beranak enak bersama. Sama tante elu juga kali.”

“Nanti, kalau gue udah punya anak.”

Aku sangat sedih mendengarnya. Ikha pun sepertinya sedih dengan pengucapan seperti itu. Aku tahu Ikha selamanya tidak bisa hamil. Aku tidak tahu siapa cowok penggantiku yang ikhlas menerima kondisinya.

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Ngidam Bakso Beranak Enak Dari Bisnis Ikha Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Ngidam Bakso Beranak Enak Dari Bisnis Ikha Jakarta

Cara Menghilangkan Jerawat Di Wajah

Posted at Juni 26, 2019

Cerita fiksi ini menghadirkan suguhan tentang Cara Menghilang Jerawat Di Wajah. Memang, cerita fiksi di blog ini agak terasa aneh yakni menghadirkan tips dalam... Read More

Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Posted at Juni 25, 2019

Kali ini, aku menerbitkan cerpen muslimah. Cerita pendek fiksi yang menautkan cerita antara wanita muslimah dengan pria muslim lewat perantara jilbab biru. Cerpen muslimah... Read More

Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Posted at Juni 24, 2019

Selama menulis tulisan untuk kebutuhan jaringan blog PBN untuk situs buku cerita fiksi dan non fiksi, badanku terasa sakit. Karena itu, aku beristirahat lama.... Read More


error: Content is protected !!