HOME
Home » Buku Bercerita » Cerita Belajar Bahasa Minang Demi Novel Clara Oktavia

Cerita Belajar Bahasa Minang Demi Novel Clara Oktavia

Posted at Agustus 15th, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

Aku buka kamus Minang lewat aplikasi smarphone. Kebetulan, kamus ini disertai suara. Barangkali ada ucapan yang tidak sesuai kata. Hm… indak jaleh bahasanyo. Aku belum paham bahasa Minang. Aku ingin belajar bahasa Minang.

Sore telah datang. Artinya, sekarang ini jam anak-anak mengaji di rumah orangtuaku. Sayang, Ibuꟷbiasa aku panggil Emakꟷsedang di Jakarta untuk sambutan keberangkatan haji Pamanku, Mang Aman. Otomatis, Ibu tidak bisa mengajari anak-anak. Namun beberapa anak sudah datang. Aku kebingungan. Aku melongok di area pintu konter untuk memberitahukan pada mereka kalau hari ini masih libur.

“Masih libur. Nanti saja ya.”

“Ang Ubab, sudah gak libur,” sela Zulfa dari sebelah Barat, di tempat meja makan. Perkataannya sebenarnya memakai bahasa Cirebon. Ia memanggil dengan kata Ubab yang sebagai nama asli panggilan. Kalau di dalam online, nama panggilanku Ubay.

“Eh, terus siapa yang menggantikan?”

“Nanti ibuku atau Ang Yayi.”

Aku biarkan anak-anak menunggu guru. Sambil menunggu, mereka pun melantunkan sebuah bahasa yang paling indah di muka bumi ini, bahasa Al-Qur’an. Pengajian di sini lebih kepada praktek membaca Qur’an. Jadi, sebenarnya mereka menanti karena memang datang lebih awal. Tentunya, akan berdatangan beberapa anak lagi walaupun pengajian sudah dimulai sehingga nanti mengantri untuk praktek membaca.

Ya sudah, lebih baik, aku kembali beraktifitas. Aktifitas harianku berjualan pulsa. Tetapi sebenarnya, fokusku beraktifitas jalur online sebagai pemasukan utama. Salah satu aktifitasku adalah menulis cerita novel yang dipersembahkan untuk Dinda Clara. Iya, tidak ada yang salah, cerita novel kali ini dipersembahkan untuknya.

Tetapi, tantangan cerita novel kali ini adalah aku harus menguasai bahasa Minang alias Minangkabau sebagai ciri khas cerita Dinda Clara. Makanya, aku mendownload aplikasi kamus bahasa Minang agar bisa mudah belajar. Tentu, kemampuan ini untuk mendukung menulis novel. Aku akan memasukkan bahasa Minang dalam dialog Dinda Clara bersama orang terdekatnya. Kebetulan, orang tua Dinda Clara asli Minang-Padang-Batusangkar walaupun Clara sendiri lahir dan tinggal di Pekanbaru. Makanya, penulisan novel harus memuat nuansa Minang. Bahasa Minang dianggap tepat untuk memberikan nuansa Minang.

Kenapa bukan bahasa Pekanbaru? Aku tidak melirik bahasa Pekanbaru yang konon lebih ke bahasa melayu. Entah lah, aku tidak memperdulikan bahasa dimana Clara dan keluarga tinggal. Aku lebih melirik bahasa yang berasal dari darah Dinda Clara dan orang tuanya.

“Gimana novelnya, Kak Ubay?” kata Dinda Clara.

“Masih proses,” jawabku singkat.

“Owh. Terus!”

“Aku lagi mempelajari tanah kelahiran orang tua Dinda Clara, Minang-Padang. Maksudnya belajar bahasa Minang juga.”

“Semangat!”

Aku pernah ditertawakan Dinda Clara dan temannya ketika aku salah menyebutkan salah satu kata dari bahasa Minang. Aku lupa seputar perkataan apa yang sempet ditertawakan. Lalu teman Clara mengkaitkanku dengan temannya yang ada di Jawa yang juga kesulitan berbicara Minang. Aku tertawa-tawa saja ketika ucapanku dianggap salah. Padahal, pengucapanku sengaja disalah-salahkan. Biar mereka tertawa.

“Maklum, kemaren aku diajarin Dinda Clara, jadi gini, salah.”

“Idih, kapan Kak Ubay belajar sama aku?” sanggah Dinda Clara.

“Ya gitu dah kalau belajar bahasa Minang sama Clara, bisa menyesatkan. Cahya aja ampe kesulitan bicara bahasa Minang. Ya gitu, Clara, suka nyesatin orang, ha ha,” kata Heris.

“Ha ha…”

Belajar bahasa Minang memang membingungkan. Bahasa Minang lebih kepada bahasa melayu namun dihilang-hilangkan huruf terakhirnya atau dibelokkan bunyi hurufnya sehingga tidak sama dengan bahasa melayu. Sebagai contoh, kata “pergi” malah diucapkan dengan “pay”. Begitu juga kata “atas” diganti dengan “ateh”. Tetapi, kondisi bingung ini dikarenakan aku belum belajar. Bahasa minang memiliki rumusnya sendiri agar mudah dipelajari, bisa merubah dari “pergi” ke “pay”.

“Kamu sendiri bisa gak bahasa Minang?” tanyaku.

“Ya tahu lah, tapi gak maksimal. Soalnya kan biasa ngomong bahasa Indonesia.”

“Emang orang tua gak pernah makai bahasa Minang?”

“Make kalau lagi marah, ha ha…”

“Ha ha…”

Memang, Dinda Clara dan keluarga selalu memakai bahasa Indonesia dengan pengucapannya yang kental Minang. Tetapi karena masih ada hubungan dengan keluarga di Padang, mereka akan memakai bahasa Minang. Tentunya, Dinda Clara harus bisa bahasa minang walaupun terbiasa berbahasa Indonesia.

Walaupun Dinda Clara memakai bahasa Indonesia, kadang aku tidak paham apa yang diucapkan Dinda Clara dan keluarganya. Mungkin pengucapan khas minangnya yang membuatku tidak paham.

Sepertinya, bahasa Minang agak mirip bahasa Jawa dalam pengucapan huruf O di akhir huruf katanya. Seperti kata “Apo” yang mirip dengan orang Jawa yang sering mengucapkan “Opo”. Intinya, kebanyakan O. Namun dalam segi bahasa, bahasa Minang jauh lebih kental melayu. Tetapi, orang melayu sendiri akan sulit memahaminya karena ciri khas minang adalah memotong atau membelokkan huruf terakhirnya seperti “pergi” menjadi “pay”.

Malam tiba, aku mengunjungi teman SD yang sedang menjalani resepsi menikah. Terburu-buru, aku berangkat jam 8 malam. Pas disana, ternyata aku benar-benar terburu-buru. Pengantin pria belum datang ke tempat resepsi. Mereka lagi proses iring-iring yang biasa sebagai khas Buntet Pesantren. Aku ingin kembali ke tempat awal pengantin. Mereka berada di tempat Kiai Amir. Setelah sampai, aku berjalan bersama seiring berjalannya iring-iring menuju tempat pelaminan. Setelah selesai beberapa proses, aku dan teman-teman SD yang lain mengunjung pengantin untuk bersalam amplop. Aku dan teman pun dipersilahkan menyantap hidangan sambil berbincang-bincang.

Setelah kembali ke rumah, aku melihat Ibu. Ibu datang kembali dari Jakarta. Ibu membawaku jeruk. “Nih, jeruk”. Aku menerima beberapa jeruk dari Ibu. “Alhamdulillah.” Aku menikmati sekali.

Aku teringat rencana belajar bahasa Minang tadi siang. Aku mau melanjutkan lagi malam ini. Aku harus banyak melihat-lihat kamus Minang sambil praktek. Tetapi, badanku sudah lelah akibat acara kondangan tadi. Lebih baik, aku hanya membaca.

Bahasa minang apa kabar adalah “apo kaba”. Kalau bahasa Cirebon, “priben kabare”?

Bahasa minang dari cinta adalah “cinto”. Sedangkan kata cinta dalam bahasa Cirebon adalah “demen”. Bila digabungkan dengan kalimat “apo kaba”, bisa menjadi “apo kaba cinto”. Aku pun mencari kata kerja dari cinto yakni bercinta. Hasilnya, kata bercinto menjadi “bacinto”. Sedangkan bahasa Cirebonnya adalah “demenan”.

Lalu bagaimana dengan bahasa minang dari “sayang”? Sepertinya, bahasanya tetap memakai kata “sayang”. Kalau bahasa Cirebon, sayang disebut “eman”.

Banyak kosakata yang dibaca dan dihafal, mataku makin ingin tertidur. Sepertinya, belajar bahasa Minang aku sudahi. Belajar bahasa minang terbaik tentu harus lewat aktifitas menulis langsung.

Dalam penyambutan untuk tidur, aku membayangkan, “Kapan aku bermimpi Dinda Clara?” Padahal, dalam novel spesial Dinda Clara, aku sudah beradegan bermimpi dengan Dinda Clara. Karena mimpi itulah, aku mencari-cari sosok Clara. Aku kepikiran sosok Clara yang dimimpi. Dalam pembuatan usaha spageti pun, aku teringat dengan mimpi bersama sosok Clara sehingga menjadi “Spagete Clarafah”.

Ah, sudah lah, terpenting, kenyataannya, dalam dunia realita, aku sedang bersama sosok Clara Oktavia atau biasa aku panggil Dinda Clara, atau Dinda.

Pembaca jangan berpikiran yang bagaimana dan kemana. Kita berdua tidak ada jalinan percintaan atau persahabatan solmet. Aku bersama Dinda Clara hanya dalam sebuah proyek semata. Semoga, dengan proyek ini, aku dan Dinda Clara sama-sama merasakan kesuksesan. Begitulah. Semoga pembaca paham.

No comment for Cerita Belajar Bahasa Minang Demi Novel Clara Oktavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cerita Belajar Bahasa Minang Demi Novel Clara Oktavia

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More