HOME

Saranghaeyo, Mbak Cantik

Posted at Juli 7th, 2019
cerita cerpen

Ada banyak warna seputa cerita cerpen. Cerita cerpen cinta biasanya yang mendominasi topik atau tema sebuah cerita cerpen. Salah satu cerita cerpen seputar cinta adalah cerita cerpen dengan judul Saranghaeyo, Mbak Cantik. Cerita ini tergolong cerita umum yang berisikan rasa kekaguman, harapan dan keseriusan mengenai cinta pada lawan jenis. Bagaimanakah bentuk cerita cerpen cinta yang dihadirkan dalam cerita cerpen Saranghaeyo, Mbak Cantik?

***

Tiba-tiba saja sepeda motor yang di kendarai berhenti di ujung jalan. Meski telah di starter ulang, matik hitamnya tetapi tidak menyala. Berhubung hampir terlambat, Sultan lantas menitipkan motor kepada pemilik bengkel tambal ban langganannya di pinggir jalan. Untuk ke sekolah, ia memilih naik angkot.

Sepanjang jalan awalnya Sultan mengobrol dengan sopir angkot sampai kemudian tidak sengaja sewaktu menoleh ke kursi penumpang di belakang, ia melihat sesosok penampakan di deretan para siswi seragam putih abu-abu sisi kanan. Pakaian yang dikenakan cukup rapi atau lebih mirip baju yang biasa dikenakan karyawati kantoran. Rambut hitamnya terurai panjang hingga melebihi bahu. Bagian rambut sisi kanan disangkutkan ke celah daun telinga. Di atas pangkuan ada tas berbentuk kotak persegi.

“Berhenti, Pak!”

Perkataan perempuan itu langsung membuat Sultan menghadap ke depan. Dari spion sisi kiri ia melihat lima siswi turun sampai kemudian dia yang paling terakhir.

“Berapa, Pak?” tanya Sarah sambil mengambil dompet dalam tas.

“Ah, Mbak cantik nggak usah bayar,” serobot Sultan tiba-tiba.

“Berapa, Pak?” tanya Sarah lagi yang dengan cepat mengeluarkan uang sepuluh ribu.

Ketika Sarah hendak menyodorkan uang dan sopir akan mengambil, Sultan menyuruh sopir jalan. Sarah yang jelas-jelas sadar belum membayar spontan mengejar angkot.

“Tidak usah di kejar, Mbak cantik! Nanti kamu capek.”

Setelah sedikit jauh, tiba-tiba saja sopir angkot tertawa sampai-sampai Sultan melihat ke belakang karena khawatir sisa penumpang yang tinggal dua siswi SMA dan dua siswi SMP berpikiran macam-macam. Ia memohon kepada sopir supaya berhenti tertawa, tetapi tidak di dengar.

“Lebih baik mundur. Ada larangan siswa menyukai guru.”

Seketika Sultan membelokkan posisi duduk menghadap sopir.

“Guru? Maksudnya Mbak cantik?”

“Siapa lagi coba?! Mbak cantik kamu itu ah, maksudnya guru tadi sudah empat kali naik angkot Bapak.”

“Terus Bapak beneran tahu Mbak cantik guru?”

“Tidak yakin sih karena Bapak tidak pernah tanya-tanya. Tapi Bapak yakin dia guru.”

“Ah, kalo gitu aku yakin Mbak cantik bukan guru.”

Beberapa lama kemudian angkot yang dinaiki Sultan berhenti di SMK yang didominasi siswa cowok. Ia membayar untuk diri sendiri dan juga Mbak cantik. Pak sopir mengingatkan kembali supaya tidak jatuh cinta dengan guru. Tetapi tentu saja hal itu membuat Sultan emosi sampai harus merebut paksa uang kembalian.

Sebelum masuk sekolah, ia lebih dahulu duduk di halte. Ia akan menghubungi teman di SMK tempat Mbak cantik turun. Apapun akan dilakukan demi memperoleh informasi meski ia meminta tolong kepada mantan pacar.

***

Matahari telah berada di puncak kepala. Para siswa SMK yang didominasi cewek masih berhamburan di luar kelas. Ada yang menggerombol di pinggir koridor, ada yang membentuk kelompok kecil dan bercanda depan pintu kelas, ada pula yang lari-lari di koridor lantai dua dan itu adalah Citra mantan pacar Sultan. Citra terpaksa menuruti permintaan mantan pacar. Itu dilakukan demi mendapatkan permintaan maaf atas kandasnya hubungan akibat ulah diri sendiri. Ulah yang seharusnya tidak perlu dilakukan.

Lewat sambungan telepon pagi tadi sebelum bel masuk kelas, Sultan meminta bantuan mencarikan informasi selengkap-lengkapnya tentang Mbak cantik. Citra awalnya tidak peduli bahkan nyaris tidak menanggapi permintaan konyolnya, tetapi saat Sultan mengeluarkan jurus mengungkit-ungkit masalah putus dua sebulan lalu, Citra mau tidak mau menyanggupi apalagi ada janji jika telah mendapatkan informasi yang diminta maka otomatis akan memaafkan.

Untungnya Citra pernah melihat Mbak cantik ketika upacara bendera dan Mbak cantik berada di baris guru serta staf sekolah sehingga kini ia langsung pergi ke ruang guru. Tetapi saat mengintip ke ruang guru, Mbak cantik tidak ada. Ia lalu pergi ke ruang tata usaha, ruang BP, perpustakaan, laboratorium komputer kemudian kantin dan terakhir ke koperasi namun, ia tidak melihat tanda-tanda Mbak cantik di sana.

Sambil mengambil nafas sejenak, Citra duduk di teras koridor lantai satu. Pandangan di pertajam melihat sekeliling demi menemukan keberadaan Mbak cantik. Suara tawa dari dua siswi sebelah awalnya tidak digubris, tetapi waktu salah satu dari mereka memuji, tanpa rasa malu dan sungkan, ia merapat mendekat.

“Guru kita ada yang suka drama Korea?”

“Ada, Kak. Lihat deh statusnya Bu Sarah. Semua tentang info drama Korea.” Salah satu siswi memperlihatkan layar ponselnya yang sedang menampilkan status-status Mbak cantik di sosial media warna biru.

“Sayangnya guru praktek, Kak. Coba guru tetap, kan di luar jam sekolah bisa saling berbagi info-info drama Korea terbaru dan terbagus,” tambah salah satu temannya.

Setelah mendapatkan sebagian informasi, Citra berpamitan. Ia ragu ke kelas, tetapi juga ragu ke suatu tempat. Dari bawah pohon depan salah satu kelas, ia tidak henti-hentinya melihat bangunan kecil berjendela kaca pinggir pintu gerbang sekolah. Pos satpam mengingatkan pada kejadian kandasnya hubungan dengan Sultan. Sebelum kejadian itu menimpa, setiap istirahat pertama dan kedua pasti ada dalam pos satpam. Semua itu dilakukan demi hobinya yang terus karena hobinya itulah ia putus.

“Halo,” sapa Citra telepon Sultan.

“Akhirnya kamu telepon.”

Depan pohon Citra berjalan bolak-balik. Sesekali melihat pos satpam kemudian pindah menundukkan kepala melihat kaki yang terbungkus sepatu hitam.

“Mana info yang aku minta.”

“Aku cuma dapat sebagian.” Citra menggigit bibir bawah dan jongkok dekat pohon.

“Yang terpenting Mbak cantik bukan guru kan?”

“Calon guru.”

Untuk sesaat Citra tidak mendengar respons Sultan. Ia menjatuhkan ponsel dari kuping dan melihat apa telepon masih tersambung atau tidak.

“Selain itu apalagi?”

“Bu Sarah suka drama Korea,” jawabnya sedikit lirih.

***

Seberang jalan depan SMK tepatnya depan mini market mengantri memanjang empat angkot. Satu angkot kuning, tiga angkot biru. Dari depan sekolah para siswa yang didominasi  siswa cewek berhamburan keluar. Ada yang berbondong-bondong jalan kaki menyebrang yang lalu naik angkot biru, ada juga yang keluar menunggangi motor.

Sultan ke luar mini market sambil meminum air soda merah dalam kaleng. Ia sengaja menunggu Mbak cantik di mini market akibat informasi yang didapatkan dari Citra sedikit. Ia bahkan hanya tahu nama Mbak cantik adalah Sarah. Entah Sarah siapa ia tidak tahu. Ia juga tidak berhasil mendapatkan nomor telepon Mbak cantik. Setelah Citra memberitahu kesukaan Mbak cantik, ia malas mencari informasi lain sehingga telepon Citra tadi dimatikan.

Empat puluh lima menit menunggu dan Mbak cantik belum nongol. Sekolah juga mulai tidak berpenghuni kecuali petugas kebersihan yang sedang menuangkan sampah dari tempat sampah depan kelas ke tempat sampah yang di dorong serta seorang pria paruh baya berpakaian satpam hilir mudik keluar masuk pos. Dengan penuh keyakinan, Sultan berniat menyebrang jalan.

Ketika akan menyebrang, ia melihat Mbak cantik berjalan melintasi lapangan. Ia buru-buru menyingkir dekat gerobak pedagang es kelapa muda sebelah mini market. Ia meminta izin kepada penjual yang sedang melayani untuk sembunyi sebentar.

Mbak cantik pasti nunggu angkotnya di sini, pikir Sultan yang bersamaan dengan itu ada angkot biru berhenti depan sekolah yang lalu Mbak cantik naik.

Melihat kenyataan bahwa Mbak cantik tidak menyebrang membuatnya gelagapan mirip orang hampir tenggelam di kolam renang. Tanpa berpikir panjang, spontan ia teriak menyuruh sopir berhenti. Usahanya tidak sia-sia. Angkot benar-benar berhenti setelah berjalan melewati dua gedung bertingkat dua sebelah sekolah.

Dalam angkot ada lima penumpang di antaranya Mbak cantik, siswi berpakaian putih abu-abu, perempuan muda berkerudung, wanita paruh baya bersama suaminya. Keberuntungan seakan sedang berpihak kepada Sultan. Dengan pamerkan senyuman ia duduk depan Mbak cantik.

“Loh, kamu yang tadi pagi kan?”

“Eh, Mbak cantik ingat.”

Spontan sopir dan suami wanita paruh baya tertawa sedangkan penumpang siswa SMA dan perempuan berkerudung senyum-senyum.

“Kamu masih sekolah. Tidak baik merayu guru,” nasihat wanita paruh baya.

“Sekolah yang benar dulu, Mas. Jangan mikirin pacaran terus apalagi merayu seperti tadi,” tambah sopir.

Merasa telah mempermalukan Mbak cantik, Sultan langsung meminta maaf. Bukannya suasana menjadi redam, wanita paruh baya justru semakin cerewet memberi nasihat sehingga sebelum mencapai tujuan Mbak cantik turun yang kemudian diikuti Sultan.

Awalnya Mbak cantik menolak, tetapi karena Sultan mengancam akan teriak bahwa dia pacarnya yang sedang marah, mau tidak mau di izinkan naik becak bersama. Kebetulan dari arahnya menuju tempat yang dituju tidak ada trayek angkutan umum.

Sepanjang jalan, Sultan terus mengoceh menceritakan riwayat singkat. Mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, jumlah mantan sampai account media sosial hingga terpaksa berhenti mana kala Mbak cantik berbagi fokus antara menonton drama Korea dan mendengar.

Saranghaeyo, Mbak cantik.” Sultan menunjukkan finger heart di mana jempol menempel jari telunjuk.

Sejenak Mbak cantik berhenti menonton drama.

“Apa kamu gemar mengatakan tadi kepada perempuan yang baru dikenal?”

“Mengatakan apa?”

“Jangan berani-berani menjebak dengan menanyakan balik.”

“Mbak, tadi aku sudah cerita riwayat singkat siapa itu Sultan. Aku hanya punya dua mantan. Citra anak sekolah tempat Mbak cantik praktek dan satunya anak kota tetangga sebelah dan itu aku nggak bohong.”

“Begini ya, Dek Sultan. Kamu tahukan usia aku di atasmu. Kamu juga tahu aku sedang praktek mengajar dan status kamu murid. Belum lagi kita baru kenal hari ini. Intinya hubungan yang kamu impikan hanya sebatas ilusi.”

“Oke, sekarang Mbak cantik panggil aku Dek dan katanya hanya ilusi. Tapi gimana setelah aku lulus sekolah tahun depan dan terus bekerja? Apa sebutan Dek bisa berubah? Apa hubungan yang ilusi bisa menjadi nyata?”

Semakin Sultan menatap semakin membuat Mbak cantik tertunduk.

“Mbak, beda usia kita hanya lima tahun. Aku juga sekolah di SMK yang setelah lulus bisa bekerja.”

“Bagaimana kalau kita bikin kesepakatan?”

Setelah Sultan mendengarkan detail kesepakatan yang diajukan Mbak cantik, dengan semangat berapi-api lalu menuliskan lokasi pertemuan, tanggal dan bulan yang sama seperti hari ini sedangkan tahun sepakat di tulis dua tahun setelah tahun saat ini. Sultan memberikan tulisannya kepada Mbak cantik dan begitu juga sebaliknya.

“Sultan, apa kamu nggak ingin menemani aku berbelanja?” tanya Mbak cantik setelah di antar sampai pintu masuk.

“Suatu saat sewaktu kita bertemu pasti aku temani. Bahkan tiap hari.”

Perpisahan Sultan dan Mbak cantik akhirnya terjadi. Ia bisa saja mengejar, tetapi tidak dilakukan hanya demi keseriusannya pada kesepakatan yang telah dibuat bersama.

***

Ditulis oleh Nur Istiqomah

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Saranghaeyo, Mbak Cantik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Saranghaeyo, Mbak Cantik

Cara Bisnis Pulsa Dan Kuota Internet

Posted at Juli 9, 2019

Cerita Cara Bisnis Pulsa Dan Kuota Internet lebih kepada pengalaman pribadi walaupun aku memfiksikannya walaupun agak sulit membedakan mana cerita fiksi dan faktanya. Masalah,... Read More

Cerpen “Clara”

Posted at Juli 6, 2019

Aku menghadirkan cerpen fiksi “Clara”. Menurut kamu, dalam cerpen fiksi ini, cerita tentang apa yang dihadirkan? Hm… Pastinya kamu belum tahu. Aku membaca dan... Read More

Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Posted at Juli 1, 2019

Cerita fiksi Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda melengkapi cerita fiksi sebelumnya, dalam arti masih berkaitan dengan tema cinta. Cerita fiksi dibuat setelah... Read More


error: Content is protected !!