HOME
Home » Buku Bercerita » Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Posted at September 16th, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

cerita lucu masa kecil

Banyak cerita lucu di masa kecil karena masa itu adalah masa lucu-lucunya. Setelah dewasa, kita pun bisa menertawakan masa kecil kita yang dianggap cerita lucu. Kita bisa tampil percaya diri dengan tampilan yang menurut orang dewasa dianggap norak. Itu artinya, anak kecil tidak memperdulikan cara pandang norak yang sering dijadikan klaim perendahan. Anak kecil bebas berekspresi lucu dengan kontrol orang tuanya yang peduli akan perkembangan anaknya.

Ada banyak cerita lucu yang pernah aku alami di masa kecil sepertinya. Tetapi, aku lupa apa saja cerita lucu yang pernah aku alami di masa kecil diriku itu. Aku masih ingat beberapa cerita lucu salah satunya menggelitiki ketiak temen cewekku ketika masih SD.

“Cerita lucuku salah satunya menggelitiki ketiak temen cewekku”

Aku mengalami suasana mencekam di dalam kelas. Buatku, suasana dikelilingi beberapa cewek di dalam kelas dianggap sesuatu yang mencekam. Entahlah, aku seperti ketakutan bila berteman bersama temen cewek satu kelas walaupun aku selalu bergaul bersama cewek di lingkungan rumah. Waktu itu, di dalam kelas, aku mengurusi beberapa hal, entah apa yang aku kerjakan. Tidak sadar, suasana kelas kosong dari para teman cowok. Aku agak kaget. Aku ingin bergegas keluar.

Salah satu temen cewek seolah mengerti jalur pikiranku. Aku dikenal pemalu di dalam kelas ini. Makanya, ketika kelas hanya dihuni banyak cewek, hanya aku yang sebagai cowok, ia menggodaku.

“Cieh, Ubay sendirian nih,” kata temanku yang sering dipanggil cilok.

Aku bergegas keluar dengan agak berlari. Temanku yang berada di bangku depan ikut berdiri. Jantung degdegan. Temanku lebih dahulu sampai di depan pintu walaupun aku tidak telat sampai di belakangnya. Aku menarik daun pintu. Temanku mencegah pintu terbuka. Sayang, aku tidak bisa bermain maksa. Tetapi, aku pun ingin keluar karena malu sendirian di kelas.

“Aha, aku gelitikin ketiaknya,” batinku setelah secara sepontan menemukan ide untuk keluar.

Aku gelitikin ketiak si cewek. Ia tertawa karena kegelian sampai melepaskan pegangan di pintu. Pintu terbuka, aku segera keluar.

“Ya Allah, mumet banget dah kepala. Badan lemes kayak gak ada ototnya.”

Umur sudah beranjak tua, kondisiku masih seperti ini. Kondisi seperti ini membuatku berat membangun beberapa aset online. Salah satu asetku adalah blog spesial Dinda Clara. Aku harus menulis setiap hari untuk mengurusi blog spesial Dinda Clara ini di tengah kondisi yang terkesan bertambah parah. Kadang ada rasa ingin menyerah menulis spesial Clara. Tetapi, aku harus mencatat banyak aktifitas komunikasi bersama Clara di tengah kondisi seperti ini.

Aku baringan tubuh. Aku lelah.

Malam harapan datang. Aku mengaharapkan waktu bersama Dinda Clara. Aplikasi live streaming dibuka. Ternyata, Dinda Clara belum live. Sebaiknya, aku solat terlebih dahulu. Setelah solat, aku melihat kembali apliasi live streaming.

“Yah, kok belum aktif? Apakah Dinda lagi tahun baruan?”

Aku menduga, Dinda Clara sedang bermalam tahun baruan. Malam ini sedang berlangsung malam tahun baruan hijriah 1 Muharom 1440 H atau tepat di tanggal 11 September.

Lebih baik, aku mendengarkan live orang lain. Aku mengunjungi Ninis. Agak lama di situ, obrolan mereka persoalan pecah-pecahan melulu. Aku tidak paham. Apalagi, kini muncul sosok cowok di layar. Lebih baik aku keluar.

Aku mencari penyiar atau host lain yang sesuai seleraku. Akhirnya, aku menemukan sosok penyiar lain bernama Ola. Ia gadis dari Padang. Aku mengatakan pada Ola, “Cewek padang cantik-cantik ya?” Ola malah merespon dengan percaya diri, “Iya dong.” Obrolanku bersama Ola tidak berlangsung lama. Aku masuk tahap perkenalan. Lebih baik, akun Ola difollow. Ternyata, Ola pun memfollow balik.

Masuk di room Ola, aku teringat Dinda Clara. Orang tua Dinda Clara asli orang Padang. Teringat orang tua Dinda Clara, aku punya inspirasi menulis cerita. Lebih baik, aku menulis cerita seputar keluarga Clara. Ah, cerita ini agak berat untuk dituliskan. Tetapi, aku harus menulis karena ini sudah menjadi kebiasaan. Barangkali, nanti, aku bisa menjalin perkenalan dengan keluarga Clara, sekalipun dalam cerita.

“Teringat orang tua Dinda Clara, aku punya inspirasi menulis cerita”

“Sotoy ayam. Ngapain ngandai-andai kalau dalam cerita?”

Aku ingin membuat cerita lucu. Tetapi, aku tidak mau lagi menulis cerita-cerita lucu yang dibuat-buat untuk melucu. Tulisan lucu ini lebih kepada cerita masa kecil Dinda Clara dan aku sendiri. Walaupun tidak terlalu paham masa kecil Clara, aku akan menulisnya. Tentunya, cerita lucu masa kecil ini disertai ceritaku. Aku membuatnya secara fiksi.

Aku Menulis: Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Hei, aku Clara Oktavia yang lahir di Pekanbaru berdarah minang. Orang tuaku dari Padang. Aku adalah anak dari 3 bersaudara. Aku berada di posisi tengah antara dua bersaudaraku. Kakaku bernama Wahyuni Pratiwi atau biasa dipanggil Ayu. Sedangkan adikku, ia bernama Annisa atau biasa dipanggil Ica.

Sedih deh, ketika aku lagi dimanja-manja orang tua, adikku lahir. Waktu itu, aku berumur 5 tahun. Wajar kan bila aku mengalami sedih? Tiba-tiba ada bayangan kalau aku nanti tidak dibelikan mainan lagi dan sebagainya. Tapi, kondisi sedihku tidak bisa dipahami. Ah, pikiran masa kecil mana tahu? Aku hanya merasa tidak banyak diperhatikan lagi ketika ibuku menggendong adikku yang baru lahir. Anak yang sudah berumur 5 tahun sudah wajar menangis minta diperhatikan ketika ibunya selalu dan selalu mengurusi bayi kecilnya.

“Berarti kamu menangis tidak berhenti-henti ampe digendong Papah dan kamu sampai dihadepin lampu?”

“Maksud Kak Ubay?”

“Ah, kirain gitu.”

“Pengalaman nieh?”

“Ha ha…”

“Ih, kok sama sih?”

“Sama apanya? Beda!”

“Iya, aku nangis pengen bersama Mamah jalan-jalan. Aku nangis gara-gara gak jadi berangkat. Adikku gak bisa ditinggal. Udah, aku gak keluar kamar, nangis. Sedih. Selama 5 tahun aku dimanja-manja, dibeliin ini dan itu. Eh, adikku lahir seakan hilang itu semua.”

“Terus?”

“Papah maksa gendong aku. Aku gak mau, aku mukul-mukul Papah. Tapi Papah tidak peduli. Aku dibawa keluar. Aku disorot sinar matahari pagi, ha ha… Kata Papah, ‘Nih, Papah udah gendong kamu. Panas kan Pekanbaru? Mau kulitmu item? Udah coklat, tambah coklat.’”

“Haha… Tambah nangis kan?”

“Bukan lagi. Aku nangis sejadi-jadinya. Aku sempet ngatain Papah jahat, ‘Papah jahat’. Habisnya kesel, dikatain kulit coklat tambah cokelat.”

“Emang udah ngerti cokelat dan item?”

“Gak ngerti, tapi sering diucapin yang kesannya gak bagus. Lah, padahal gak cokelat-cokelat amat. Cokelat susu, hi hi. Emang sih, lebih putih kedua saudara kandungku.”

“Ya, aku juga dulu gitu. Kelahiran adik kedua, ibu tidak lagi mau mengurusiku. Aku minta disuapin makan pakai lauk telor asin. Ibu gak bisa ngurus karena adikku baru lahir. Aku nangis terus. Pamanku, Mang Atik, menggendongku. Tapi, waktu itu sudah malam. Aku dihadepin ke lampu neon. Pamanku yang tinggi bisa menjangkau posisi mukaku dengan lampu. Aku kesilauan, hiks”

“Terus?”

“Hm, aku pakai trik nipu.”

“What? Gimana? Anak kecil udah nipu, gimana besarnya ya?”

“Pas aku kesilauan karena sorotan lampu, aku berhenti nangis. Tanda aku nurut. Eh, pas udah jauh dari lampu neon, aku nangis kembali ingin disuapin Mamah. Ya udah, paman bawa aku deket lampu neon lagi. Mataku silau lagi.”

Begitulah obrolanku bersama Kak Ubay, abang onlineku. Tapi Kak Ubay tidak mau dipanggil Abang yang memang udah menjadi panggilan kebiasaan di sini. Maunya dipanggil Kakak. Katanya, kalau dipanggil Abang, mirip abang-abang bakso. Kalau dianggap Kakak kan, belum ada kakak-kakak bakso.

“Ha ha. Iya juga ya Kak Ubay?”

“Coba nanti kamu jadi penjual, kamu kasih ide panggilan jadi Kakak.”

“Ih, enak banget. Emang aku kakaknya mereka?”

“Masak dipanggil Uni? Emang kamu Uni-nya mereka?”

“Ah, Kak Ubay mah mainin gitu.”

Cerita masa kecilku tidak seperti umumnya anak-anak kecil. Mereka dari kecil sampai besar bisa tetap bergaul membangun cerita, lalu menertawakan cerita lucu masa kecil mereka ketika sudah dewasa. Sedangkan aku selalu berpindah-pidah rumah membangun cerita kesedihan bersama teman kecilku. Aku seperti kehilangan arti sebuah pertemanan masa anak-anak. Sampai akhirnya, aku bolos mengikuti les di LP3I.

Sepertinya, aku berhenti menulis. Aku ada tantngan buat Dinda Clara untuk melanjutkannya.

“Halo Dinda, nih, ada tantangan. Menulis kelanjutan cerita.” kataku lewat DM Instagram.

“Oke! Siap. Tentang apa?”

“Tentang cerita lucu masa kecil Clara Oktavia.”

“Dih, gak mau. Ih, gak ada yang lucu. Gak mau! Aku gak mau ngelucu.”

“Sekarang aja Dinda lagi membuat cerita lucu. Lucu sekali sikapmu. Belum dibaca udah nolak. Dikira masa kecilmu gak ada yang lucu? Banyak kali yang lucu hi ih”

“Tuh kan ngetawain?”

“Ya ampun, siapa sih yang tidak menertawakan cerita masa kecil? Walaupun gak lucu, tetap saja, di mata orang dewasa cerita masa kecil itu cerita lucu.”

“Gak mau lanjutin cerita lucu masa kecil diriku, Kak Ubay.”

“Dinda napa sih, trauma banget masa kecil?”

“Yah, kok trauma sih? Emang gak ada cerita lain yang lucu-lucu gitu dimasa sekarang? Kan banyak.”

“Coba liat dulu lanjutan cerita lucu ini.”

“Ya sudah sini.”

Aku mengirimkan tulisan cerita lucu yang belum jadi. Lalu Dinda Clara menerima kiriman tulisan cerita lucu itu untuk dilanjutkan.

***

Terpaksa, aku harus menerima tantangan ini. Soalnya Kak Ubay rese. Ia selalu banding-bandingikan aku dengan Arafah. Maklum, Arafah artis nasional yang jauh lebih tinggi dari aku. Sedangkan aku, artis live streaming. Itu pun, aku tidak terkenal, tidak menjadi top host. Kak Ubay selalu membandingkan aku dengan Arafah pada masalah penulisan novel pertamanya.

“Masak kamu gak mau lanjutin cerita? Arafah yang gak kenal aku saja, mau ngelanjutin cerita novelku.”

“Emang kapan ketemu ama Arafah?”

“Dalam imajiner?”

“Hadeh. Terus apa maksudnya arafah menuliskan cerita novelnya?”

“Dia jadi pencerita dalam cerita novel walaupun yang nulis aku. Kamu mau kan? Masak yang lebih nyata, lebih fakta, bukan imajiner, kamu gak mau melanjutkan? Kalah nih ama Arafah!”

Aku baca tulisan Kak Ubay. Aku kaget. Ya ampun, tulisan ini fiksi.

“Kok, kok cerita lucu masa kecil Clara ada yang cerita fiksinya? Yang bener cuma cerita kondisi kulit cokelat susu, pindah-pindah rumah sampai bolos les di LP3i.”

“Ya udah lah, buat lagi balasan fiksi seputarku, biar kamu puas.”

“Oke, aku balas, ha ha…”

Bila dipikir-pikir, bagaimana menulis cerita lucu masa kecil ini? Emangnya, aku sosok Arafah Rianti?

Dinda Clara Menulis: Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Cerita masa kecilku tidak seperti umumnya anak-anak kecil. Mereka dari kecil sampai besar bisa tetap bergaul membangun cerita, lalu menertawakan cerita lucu masa kecil mereka ketika sudah dewasa. Sedangkan aku selalu berpindah-pidah rumah membangun cerita kesedihan bersama teman kecilku. Aku seperti kehilangan arti sebuah pertemanan masa anak-anak. Sampai akhirnya, aku bolos mengikuti les di LP3i.

“Temen kecilku pada hilang, Pah,” keluhku pada Papah

“Hilang kemana?”

“Gara-gara Papah pindah-pindah mulu.”

“Papah pindah tempat kerja. Kamu mana ngerti, masih kecil.”

Aku tidak bisa melanjutkan mengikuti les di LP3i. Aku sendirian tanpa pembelaan dari siapa-siapa. Kakaku berbeda kelas walaupun berangkat bareng untuk les. Tidak ada teman yang rela menemani anak pindahan. Anak-anak di kelas les terkesan tidak mau bergaul denganku. Aku terasa terpojokkan. Sikapnya terkesan model pem-buly-an.

“Kamu mau gak mau ama aku, Sis?”

“Main?” tanya Siska.

“Eh sana kau, tak usah lah,” tolak Dewi.

Aku termenung. Aku ingin menangis tetapi tidak bisa. Badanku merasakan lemas. Lebih baik, aku kembali ke kursi.

Kejadian demi kejadian yang selalu tidak memihakku, aku berniat bolos. Aku tidak mau lagi mengikuti les. Orang tua pun tidak membayar uang les kembali.

Putaran hari terus berjalan.

“Et, tunggu. Ini mana cerita lucu masa kecilnya? Yah, kak Ubay sih, napa milih cerita yang kasus bolos les di LP3i? Kan gak bisa. Udah ah, nulisnya. Aku bukan penulis juga. Yang penting udah lanjutin biar gak dibanding-bandingin lagi.”

Setelah istirahat, jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Saatnya, aku memulai live streaming.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat malam, selamat bergabung kembali di room achu,” sapaku pada para viwers yang jumlahnya masih sedikit. Mungkin beberapa viwers yang tampil di sini ini masih bersosok robot.

“Halo Kak Ubay, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Yah, sinar gak cerah. Gimana nih?” keluhku.

“Gak apa-apa gelap juga, kamu juga udah cerah kok.”

“Wih, cerah dari hati ya?”

“Kak Ubay, udah lah nyerah. Aku gak bisa menulis cerita lucu masa kecil hidupku.”

“Yah, kok gak bisa?”

“Habisnya, kelanjutannya kok masalah les LP3i sih?”

“Katanya itu cerita lucu masa kecil kamu? Aku gak ngerti cerita lucunya. Makanya aku serahin ke kamu.”

“Gak lah, aku menolak kelanjutan cerita lucu. Sekarang, gak ada lucu-lucuan. Aku pusing.”

“Ya udah. Kamu sudah dianggap berjasa dan berharga kok karena udah nambahin. Makasih. Ya udah, nanti kirim tulisan itu ke aku.”

“Ma’acih Kak Ubay. Kak Ubay udah makan belum?”

“Sudah makan angin ha ha.”

“Wih, makan angin?”

Setelah lebih dari dua jam live streaming, akhirnya aku berhasil menyelesaikan tugas live hari ini. Sekarang, aku mau mengirim hasil tulisanku ke Kak Ubay.

***

Dinda Clara yang bilang, kalau ia pernah mengalami cerita lucu waktu mengikuti les di LP3i. Ia mengaku tidak membayar kembali akibat bolos. Bagaimana aku bisa paham kronologi cerita lucu masa kecil Dinda Clara? Di suruh menulis kelanjutannya, ia tidak sanggup membuat cerita lucu masa kecilnya.

“Ah, bagaimana ini? Dinda mah aneh, bisa ketawa masalah cerita lucu masa kecil, tapi gak bisa nulis cerita lucunya.”

Aku terpaksa mengganti judul cerita. Aku memberi judul untuk tulisanku dengan judul “Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia”

Aku Menulis: Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Kejadian demi kejadian yang selalu tidak memihakku, aku berniat bolos. Aku tidak mau lagi mengikuti les. Orang tua pun tidak membayar uang les kembali.

Aku teringat kisah Kak Ubay yang juga bolos sekolah TK. Sepertinya, ini cerita lucu masa kecil Kak Ubay.

“Emang kenapa Kak Ubay gak lanjutin sekolah TK lagi?”

“Gara-gara bubur kacang ijo tumpah!”

“What? Gara-gara bubur kacang ijo tumpah, Kak Ubay gak lanjutin sekolah TK lagi? Ha ha… Aneh Kak Ubay tuh. Mereka yang ngompol waktu masih TK aja, tetap ngelanjutin sekolahnya. Ini Kak Ubay receh banget, cuma gara-gara bubur kacang ijo tumpah. Apa kata dunia?”

“Biarin ah. Kamu emang ngompol di kelas ya kok cerita-cerita ngompol?”

“Enggak pernah. Ih, tega banget nuduh gitu.”

“Ha ha…”

Cerita masa kecil memang bila dikenang memang menghadirkan tawa tersendiri. Walaupun waktu itu dalam kondisi menangis, aku membayangkan cerita itu berubah menjadi cerita lucu sendiri.

Tetapi, untuk urusan mantan, sepertinya aku tidak bisa berdamai dan menjadi cerita lucu tersendiri walaupun aku sudah memaafkan. Aku jadi teringat masalah cerita masa laluku bersama sosok yang dianggap, mungkin, disukai namun akhirnya melukai. Masalah ini tidak bisa dirubah menjadi cerita lucu.

Menulis cerita masa kecil, aku jadi teringat pesahabatan Ninisꟷsalah satu host live streamingꟷdan Ida yang selalu bersama saat masih duduk di bangku SD dan SMP. Menurutku, mereka dua sosok yang mirip, baik wajah dan sikap. Model wajah Ninis dan Ida memang agak mirip. Aku melihat mereka berdua memiliki sikap yang agak tomboy. Hal ini sesuai dengan pengakuan Ninis sendiri bahwa ia memang sosok aktif, tidak bisa diam. Ida juga menurut temannya dianggap tomboy. Jadi, aku mengira bahwa mereka memiliki kesamaan, sama-sama cewek yang tomboy di masa kecilnya. Aku tidak banyak tahu mengenai cerita lucu masa kecil mereka berdua.

Selebihnya, aku hanya bisa melihat foto masa kecil mereka yang masih lucu-lucu yang sedang berkumpul dan tidur tengkurap di atas hamparan rumput dengan memakai seragam sekolah. Dari 4 sekawan yang sedang pose tidur terkurap, hanya Ida yang berbeda seragam sekolah. Ninis dan dua temannya memakai baju pramuka sedangkan Ida memakai baju batik.

Kini, Ida telah pergi meninggalkan kenangan-kenangan masa kecil yang hanya sekedar menjadi cerita lucu di masa sekarang tanpa lagi bisa berjumpa raga bersama Ida. Ia meninggal di tanggal 15 Septermber 2018 akibat serangan jantung. Selamat jalan Ida.

“Innalillahi wa inna ilahi rojiun. Ya Allah, Da aku gak nyangka secepat itu? Kaget kali, masih keinget ketawa kamu yang besar. Masih keinget masin sepeda bareng. Gak nyangka kali Da. Aku bakalan kangen sekali sama kamu Da… Geng dari SD-SMP aku. Semoga Allah ngasih tempat yang terbaik buat kamu disana. Amiin. Alhamdulilah, kamu sudah gak ngerasa sakit lagi sekarang” Story Instagram Ninis.

Ini benar-benar bukan menceritakan cerita lucu lagi bila aku tuliskan cerita meninggal Ida. Ini cerita sedih.

Kalimat Ninis, “Alhamdulillah, kau sudah gak ngerasa sakit lagi sekarang” teringat perkataan Bapak ketika ditanya soal penyakit parahnya, “Waras! Beli apa-apa (Sembuh, gak apa-apa)”. Ternyata, Bapak benar-benar sembuh, tidak merasakan sakit lagi karena beberapa jam kemudian sudah tidak bernyawa lagi.

“Yang tabah, Ya Dinda Clara! Ups, sory” kataku salah ucap!

“Yah, kenapa Dinda Clara yang ditabahin? Hihi. Sory Nis, aku halu.”

No comment for Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More