HOME

Cerita Motivasi Saham Warna Kehidupan Yaya Via

Posted at September 6th, 2018
cerita motivasi

Cerita motivasi memang banyak jenisnya. Cerita yang terkesan bukan dalam bentuk motivasi, bisa jadi ini dianggap cerita motivasi. Termasuk cerita motivasi yang sedang memberi warna kehidupan untuk Yaya Via atau biasa dipanggil Dinda Yaya.

Aku menghidupkan laptop. Laptop ini sudah berjasa dalam perjuangan karya tulisan cerita. Aku ingin menulis kembali mengenai cerita Dinda Yaya. Walaupun mungkin Dinda Yaya agak malu dan risih mengenai cerita ini, aku tetap menulis cerita untuknya. Aku ingin menulis cerita motivasi warna kehidupan Yaya Via.

“Menulis cerita motivasi apa ya?” tanyaku dalam hati memikirkan ide menulis cerita motivasi.

Aku memikirkan jenis tulisan cerita motivasiku. Aku tidak mau menulis tulisan cerita motivasi yang tidak jelas arahnya.

Karena aku menulis cerita, tulisanku diharapkan benar-benar memuat nilai-nilai motivasi untuk warna kehidupan. Nilai-nilai motivasi ini bisa digunakan untuk orang yang ingin punya motivasi menjalani hidup, memberi warna kehidupan yang baik. Tentunya, aku mengharapkan bahwa diriku dan Dinda Yaya mendapat efek nilai motivasi dari tulisan cerita motivasi ini agar meraih warna kehidupan yang baik dan indah.

Baca: Motivasi Belajar Bahasa Inggris

“Berharap, tulisanku benar-benar memuat nilai-nilai motivasi untuk warna kehidupan”

Sebelum berangkat ke Grage Mall pada jam 09.30, aku menyempatkan diri menulis cerita motivasi dengan mengisahkan warna-warna kehidupan.

Aku melihat tulisan sebelumnya untuk memperhatikan judul yang pernah ditulis. Tulisan dihitung ulang untuk mengetahui jumlahnya. Tulisan cerita Yaya Via baru berjumlah 7 biji. Walaupun sedikit, jumlah ini dianggap cukup untuk menjaring kunjungan melimpah. Per tulisan bisa menghasilkan puluhan ribuan kunjungan per bulan bila berhasil meraih peringkat pertama di Google.

“Aku ingin memberi saham untuk Dinda dari penghasilan blog ini.”

Aku mencoba membayangkan penulisan cerita motivasi dengan warna kehidupan dalam bentuk obrolan khususnya seputar saham bersama Dinda Yaya. Aku ingin menceritakan ini sebagai upaya memberi motivasi untuk diriku sendiri dalam membangun aset online. Tentunya, dengan penuh harap, Dinda Yaya mendapat motivasi juga dalam obrolan ini khususnya obrolan saham agar kehidupannya penuh warna baik dan indah.

“Aku ingin menceritakan ini sebagai motivasi untuk diriku sendiri”

Aku ingin memulai menulis cerita motivasi berawal dari kesalahanku yang tidak paham seputar notifikasi Instagram yang bisa mengganggu pemilik Instagram yang lain. Yang dipikirkan, aku mengirim informasi seputar tulisan cerita tentang Dinda Yaya ke akun Instagram Yaya.

“Maafin aku ya kalau aku punya salah ama Dinda.”

“Emang salah kenapa, Kak Ubay?”

“Aku selalu ganggu kamu.”

“Oh ya di Instagram. Iya. Soalnya notif dari Kak Ubay mulu. Isinya itu-itu mulu. Kan riweh, ribet.”

“Oh, kirain Instagram Dinda banyak notif. Secara kan kamu artis live streaming.”

“Enggak Kak Ubay. Dari Kak Ubay mulu. Jadi, maaf aku hapus komentarnya. Lagian, aku niru Kak Ubay yang ngapus komennya sendiri.”

“Ha ha… Iya, aku ngerti. Aku juga pusing liatnya.”

“Oke, Bebs…”

“Bebs itu artinya apa ya, Dinda?” tanyaku memancing. Aku yakin, Dinda tidak akan menjawab yang sesungguhnya.

“Bebs itu bebek. Sedangkan Aa itu ayam, ha ha… Jadi itu panggilan untuk hewan,” jawab Dinda sesuai makna yang pernah aku baca. Dinda memang tidak menjawab yang sebenarnya. Aku tahu, ia pun menyebut kata “bebs” tidak bermaksud pada makna yang sebenarnya.

“Wah, aku jadi salting nih. Beb itu namaku,” ucapku asal.

“Oh ya?” tanya Dinda yang tidak direspon olehku.

Sebenarnya, nama asliku bukan bernama Ubay Zaman. Nama asliku bernama Lubab Al-Zaman. Nama itu satu-kesatuan arti. Lubab bermakna “pilihan” dan Al-Zaman bermakna “zaman” yang dianggap mudof ilah (kata pelengkap ibaratnya). Sebenarnya antara Lubab dan Zaman itu menyambung. Tetapi, karena terlalu berat, sambungannya diputus. Nama panggilanku sering disebut Ubab. Kalau disingkat, panggilannya menjadi Bab. Nah, panggilan Bab itu mirip Beb. Sedangkan nama panggilan Ubay lebih mempermudah pengucapan saja.

“Kalo aku, nama panggilannya Yaya,” kata Yaya setelah mendengarkan ceritaku.

“Iya, aku tahu, kamu dipanggil Yaya. Nama panggilan itu mirip panggilan nama Kakak yaitu Yayi atau biasa dipanggil Ang Yayi.”

“Oh ya? Aku juga dipanggil Yayi kalau di Padang.”

Aku menjelaskan awal mula kakaku dipanggil Yayi. Pada awalnya, Ibu membanggil kata “bayi” yang bisa dianggap panggilan untuk anak cewek kesayangan. Karena anak kecil masih sulit mengucapkan bayi, panggilan ini dipelesetkan menjadi yayi. Anak kecil disekitar kakaku banyak yang memanggil yayi termasuk aku.

Aku merasakan energi dari obrolan bersama Dinda Yaya. Jiwaku seperti mendapatkan motivasi agar tetap memperjuangkan blog spesial Yaya di www.bukubercerita.com. Langkah yang tepat kalau aku menulis cerita motivasi untuk kebutuhan update tulisan di blog ini. Ketika blog berhasil sukses dalam peredaran online, aku sendiri akan merasakan keuntungannya. Tentunya, aku tidak ingin menikmati keuntungan ini sendirian. Aku menginginkan kalau Dinda Yaya juga menikmati keuntungan ini. Dinda Yaya sudah berjasa membantu mensukseskan blog ini.

“Dinda, ngarti saham gak?”

“Tau lah, itu kan semacam hak mendapat jatah pembagian penghasilan dari investasi.”

“Berarti kamu mau nanti aku kasih saham?”

“What? Kak Ubay mau kasih saham? Saham apa? Saham Freeport? Ha ha…”

“Wih, Freeport, ngeri. Saham blog. Dinda kan udah berjasa sekali dalam pembangunan blog itu. Kalau blog berhasil, aku mau kasih Dinda saham. Ya sekitar 30% saja.”

“Mm… Gimana ya? Ya ya, ya terserah Kak Ubay aja. Kalau kepaksa, ya jangan.”

“Ah, gak. Aku tulus. Nanti aku kirim surat sahamnya ke rumah Dinda, Ok!”

“Makasih. Nanti aku ngonrol ama Papah soal saham ini. Papah kan ngerti soal ginian. Secara, Papah manajer perusahaan.”

“Moga papahmu ngijinin aku bertemu.”

“Ya pastilah. Ups… iya, santai”

Aku sengaja membicarakan ini pada Dinda untuk membangkitkan motivasi padaku. Perasaanku terasa tertekan bila memendam keinginan ini. Tentunya, setelah pengungkapan, motivasiku berubah menjadi lebih baik. Motivasi ini bisa menjadi bekal dalam perjuanganku meraih sukses dalam blog spesial Yaya.

Kesadaran pikiran kembali mengaburkan bayangan. Penulisan cerita motivasi dihentikan. Aku rembahkan badan. Tubuh sudah agak lelah. Aku mudah terasa lelah akibat faktor fisik yang bermasalah.

Aku merasakan perasaan bahagia akibat membayangkan dan menuliskan dalam bentuk cerita motivasi. Rasanya, aku ingin segera merasakan keberhasilan pada blog terbaruku agar bisa membahagiakan Dinda Yaya.

“Aku bahagia akibat membayangkan dan menuliskan dalam bentuk cerita motivasi”

“Biar Dinda Yaya bisa bales budi kebaikan Mister X di live streaming,” batinku dalam spirit cerita motivasi.

Jam sudah menunjukkan puluk 09.00.

Aku belum mandi. Segera, langkah kaki menuju kamar mandi. Dengan kondisi yang sedang malas tersentuh air, aku memaksakan diri. Aku tahu resikonya ketika badan sudah seperti ini: badan dingin tetapi perut sudah terisi nasi. Nah, aku merasakan mual. “Huek!” Aku mual. Dengan kondisi yang seperti ini, aku memaksakan mandi pagi.

Aku bersiap-siap untuk pemberangkatan. Dari area Buntet Pesantren, desa Mertapada Kulon, perjalanan diteruskan menuju Cirebon kota. Kaki berjalan menuju jalan utama LPI untuk perjalanan ke kota. Sampai di area ini, kaki dan seluruh tubuh dibiarkan istirahat dalam mobil transportasi atau disebut elf jurusan Sindang-Terminal. Sesampainya di terminal, aku akan menaiki D8.

Posisi berhenti yang menyebalkan. Di area terminal, aku berjalan kaki kembali kalau tidak mau berurusan dengan mobil angkot yang sedang ngantri atau biasa disebut ngetem. Masalahnya, aku berjalan kaki kembali dengan jarak yang lumayan jauh. Buatku, ini tidak menjadi masalah. Masalahnya, bagaimana bila orang tua yang tidak kuat jalan jauh? Bagaimana bila seorang cewek yang berjalan sendirian?

Masalah transportasi, aku teringat obrolan bersama Dinda Yaya.

“Di Pekanbaru angkot jadi barang langka ya?”

“Barang langka? Ada kok angkot.”

“Katanya sih jarang ada.”

“Ada, tapi sekarang udah ada transportasi mobil. Di sini namanya oplet.”

Transportasi umum juga banyak yang tidak ramah pada penderita cacat kaki atau orang yang tidak bisa berjalan. Aku sudah menggambarkan sedikit hal ini dalam novel pertamaku: Aku, Arafah dan Cinta Segitiga. Kondisi Arafah yang lumpuh, tidak bisa berjalan, ia kesulitan menaiki angkot. Arafah membutuhkan bantuan orang lain untuk menaikinya. Hal ini pun, Arafah harus menaiki angkot kosong.

Aku kembali membayangkan proses cerita berikutnya untuk membuat cerita motivasi. Sepertinya, aku belum memasukkan unsur-unsur yang bisa membangkitkan motivasi orang lain khususnya untuk Dinda Yaya. Dalam proses membayangkan, aku membayangkan obrolan lain bersama Dinda Yaya. Pikiranku memang mudah berubah-ubah pembayangan. Tetapi, mungkin ini bisa menjadi bekal untuk alur cerita motivasi berikutnya.

“Kak Ubay, kalau nulis di blog itu dapet uang gak sih?”

“Dapet lah. Makanya, nanti juga kamu kecipratan. Kecipratan parfum, he he”

“Emang gimana sih? Kan biasanya tuh, kita memasang iklan di blog. Lalu blog mendatangkan kunjungan. Terus melihat iklan. Emang gimana sih?”

“Aku main iklan adsense. Jadi nanti lewat tulisan itu, aku dapet uang.”

“Tapi kan harus ada pengunjung di blog.”

“Iya, seperti yang Dinda bilang. Makanya berat. Doain ya.”

“Iya Kak, amin.”

Aku banyak memberikan share informasi, kalimat motivasi dan puji-pujian untuk Dinda Yaya. Hal ini semata-mata agar Dinda Yaya makin menumbuhkan rasa optimisnya untuk memberi warna kehidupan dirinya. Warna kehidupan Dinda Yaya tentu berwarna indah dipandang mata. Aku ingin Dinda Yaya menjadi wanita yang berbeda di lain waktu, lebih berkualitas dari kondisinya yang sekarang.

“Warna kehidupan Dinda Yaya tentu berwarna indah dipandang mata”

Aku cukup menikmati suasana perjalanan ini walaupun selalu dalam sendiri.

Setiap bulan, aku terbiasa ke mal seperti Grage Mal dan juga Asia Toserba. Di samping untuk merileks-an pikiran, aku membutuhkan produk kebutuhan harian. Biasanya, aku berbelanja kopi berukuran besar dan minuma vitamin dalam jumlah banyak. Tentu, ada beberapa produk lain yang dibeli. Asia Toserba menjadi target berbelanja. Di samping makanan dan minuman, aku membeli buku. Kalau membeli buku, Gramedia menjadi tempat tujuan. sepertinya, tidak ada toko buku yang menarik selain di Gramedia.

Dari jam 09.30 sampai memasuki waktu asar, aku menikmati kesendirian berjalan-jalan dan berbelanja di kota. Aku tidak memiliki teman harian seperti pada umumnya orang.

“Kak Ubay, emang Kak Ubay gak lagi ngumpul ama teman-teman?” tanya Dinda waktu itu.

“Sekarang aku sudah gak pernah kumpul-kumpul.”

“Emang napa?”

“Kondisiku gak mendukung. Udah lama.”

“Emang napa?”

Panjang. Kan udah aku ceritain?”

“Yang gimana? Aku lupa.”

“Gak usah, nanti kamu mewek.”

Aku terpaksa menjelaskan kembali. Dinda Yaya penasaran dengan keadaanku. Aku menjelaskan keadaanku dalam menghadapi kehidupan terutama perjalanan selama 4 tahun menjadi mahasiswa. Aku banyak menghadapi rintangan besar dengan kondisi ini. Ibaratnya, tubuhku seperti tertindih batu besar ketika duduk di kelas mendengarkan pengajaran dosen. Tulangku pun seperti tidak memiliki otot sehingga seperti orang lumpuh.

“Jadi inilah alasanku jadi penjual pulsa. Kalau normal mah, aku lanjut jadi S2 dan jadi dosen. Karena gak bisa kerja.”

“Masak gak bisa kerja? Kan cuma mengajar?” tanya Dinda Yaya penasaran.

“Iya. Makanya, ceritanya panjang.”

Mungkin, cerita hidupku bisa menjadi bahan pembuat cerita motivasi yang sedang aku tulis. Tulisanku ingin memuat kehidupanku yang bertolak belakang dari kehidupan normal agar Dinda Yaya mendapat suntikan motivasi. Setelah ditulis, Dinda Yaya harus membacanya. Lah, kalau ia tidak membacanya, bagaimana bisa mendapatkan suntikan motivasi dari cerita motivasi ini?

“Cerita hidupku bisa menjadi bahan pembuat cerita motivasi yang sedang aku tulis”

Aku sudah pernah menulis tentang cewek sukses yang menjadi idola banyak orang walaupun aku tidak mengidolakannya. Tetapi, aku menulis tentang Dinda Yaya karena aku mengidolakannya.

“Via Vallen juga pernah ditulis. Pas review lagunya, agak aneh. Lagunya terkesan menggambarkan cinta lawan jenis yaitu antara pacar via vallen dan orang lain.”

“Kok Kak Ubay seneng banget nulis gituan. Napa gak nulis yang bermanfaat gitu. Napa nulisnya yang gimana gitu, yang sekedar hiburan. Atau mungkin Kak Ubay sekedar bahas yang lagi populer gitu ya?”

“Aku nulis yang bermanfat juga dan udah. Ini nulis hiburan semata. Namanya juga nge-fans ama Via Vallen,” kataku sambil canda kalau aku nge-fans Via Vallen.

“Aduh, jangan nge-fans,” larang Dinda.

“Kalau aku nge-fans, aku menulis.”

“Oh, jadi kalau Kak Ubay nge-fans aku, Kak Ubay menulis?”

Obrolan ini membuatku sedikit tertawa. Kenapa dari fans Via Vallen menuju fans Yaya Via? Rupanya, arah perkataan “Kalau aku nge-fans, aku menulis” langsung dipahami oleh Dinda. Aku sengaja memancing pemikirannya untuk memikirkan kondisi nge-fans-ku pada Dinda Yaya. Dinda Yaya sudah mengetahui kalau aku memang nge-fans dan menjadi viewers sejati Dinda Yaya. Tetapi, yang bikin aku tertawa, Dinda Yaya langsung paham arah perkataan ini.

Walau hubunganku bersama Dinda Yaya masih beberapa bulan, banyak cerita yang bisa dibuat untuk menulis cerita motivasi. Tulisan cerita motivasi ini berguna untuk memberi warna kehidupan Dinda Yaya Via dan aku sendiri. Karena banyak, aku tidak bisa membuat dalam satu halaman tulisan cerita motivasi. Aku harus memecah ke beberapa bagian tulisan seperti yang sudah dilakukan sebelumnya.

“Terus, lanjutan cerita motivasi saham untuk warna kehidupan Yaya Via bagaimana? Aduh, entah lah. Bingung.”

Baca: Cerita Sukses

Lebih baik, aku kembali ke rumah sambil membawa warna kehidupan dari perjalanan ini.

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Cerita Motivasi Saham Warna Kehidupan Yaya Via

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cerita Motivasi Saham Warna Kehidupan Yaya Via

Cara Menghilangkan Jerawat Di Wajah

Posted at Juni 26, 2019

Cerita fiksi ini menghadirkan suguhan tentang Cara Menghilang Jerawat Di Wajah. Memang, cerita fiksi di blog ini agak terasa aneh yakni menghadirkan tips dalam... Read More

Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Posted at Juni 25, 2019

Kali ini, aku menerbitkan cerpen muslimah. Cerita pendek fiksi yang menautkan cerita antara wanita muslimah dengan pria muslim lewat perantara jilbab biru. Cerpen muslimah... Read More

Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Posted at Juni 24, 2019

Selama menulis tulisan untuk kebutuhan jaringan blog PBN untuk situs buku cerita fiksi dan non fiksi, badanku terasa sakit. Karena itu, aku beristirahat lama.... Read More


error: Content is protected !!