HOME

Bukan Cerita Pacaran Yaya Via Tapi Bikin Baper

Posted at Agustus 29th, 2018
cerita pacaran

Cerita pacaran apalagi menceritakan aktifitas berpacaran masa SMA, ceritanya selalu menjadi hal yang menarik. Mengapa menjadi hal yang menarik apalagi untuk masa SMA? Sepertinya, kamu paham. Kalau sudah urusan cinta, pacaran menjadi hal yang menarik. Apalagi, luapan nafsu cinta membuat cerita pacaran dianggap penambah menarik. Tetapi, cinta tidak selalu datang dalam dunia pacaran yang penuh luapan nafsu itu. Persahabatan pun mengandung cinta yang sejati. Maka dari itu, persahabatan bisa menjadi cerita menarik tersendiri yang jauh lebih menarik dari cerita pacaran, menurutku.

“Aku tidak suka pacaran,” kataku pada Dinda Yaya di depan teman-teman yang lain pada waktu itu.

“Iya, aku juga tidak suka pacaran,” kata Dinda Yaya Via yang mungkin ucapan yang sebenarnya.

Tetapi, aku mengetahui kalau Dinda Yaya pun seperti tertarik mendengarkan cerita pacaran. Bukan berarti ia ingin berpacaran. Suguhan cerita cinta itulah yang membuat banyak manusia tertarik pada cerita dunia pacaran. Termasuk aku dan Dinda Yaya merasa tertarik pada suguhan cerita cinta.

“Suguhan cerita cinta membuat manusia tertarik pada dunia pacaran”

Tetapi, aku tertarik pada cerita pacaran sebagai inspirasiku dalam menulis. Dinda Yaya tidak perlu mengikuti caraku dalam ketertarikan pada dunia pacaran. Ketertarikanku bukan upaya mempopulerkan pacaran itu melainkan memahami kondisi psikis percintaan pacaran. Pada akhirnya, dalam tulisan, aku bisa berbagi bagaimana mengikis tradisi pacaran. Kalau sudah seperti ini, Dinda Yaya boleh mengikuti caraku.

Sebagai manusia normal, mereka memiliki keinginan untuk menikmati jalinan cinta dan menuai kebahagiaan bersama kekasih yang dicintai walaupun dengan cara ilegal. Aku juga menginginkan apa yang disebut jalinan cinta bersama kekasih yang dicintainya. Dinda Yaya suka kan? Tetapi, aku tidak mau jalinan cinta itu terbangun dalam dunia cerita pacaran. Tetapi, patut aku akui, pacaran mewakili apa yang disebut jalinan cinta.

“Pacaran mewakili apa yang disebut jalinan cinta”

“Mantanku tinggal di Pekanbaru.” kataku.

“Oh ya?” tanya heran Dinda Yaya yang mungkin terkejut kalau di situ ada sosok wanita yang pernah ada dihatiku.

Bisa dikatakan, aku seperti pernah menjalin cerita pacaran dengan mantanku yang sekarang menjadi orang Pekanbaru, bersama suaminya. Alah, hal ini terlalu berlebihan. Aku menceritakan pada Dinda Yaya kalau aku pernah mengajak teman SMA untuk menikah. Selayaknya remaja SMA yang mengatakan cinta, aku pun mengatakan itu pada teman SMA-ku. Cinta itu hadir setelah mimpi menyedihkanku kehilangan teman SMA-ku. Aku berkeinginan menikahinya. Setelah aku mengatakan, ia membalasnya “aku mencoba untuk menerima”. Setelah itu, aku kaget.

“Ternyata, ia bekerja di Duri, Riau. Aku gak tahu soal ini ketika aku katakan cinta.”

“Kasihan. Oh ya, terus?”

Aku menyesal, kenapa aku mengatakan langsung dengan berkata, “Jadi kamu tinggal di Riau? Ya, kalau gini, sia-sia dong untuk serius?” Tetapi, aku tidak mengatakan perkataan ini pada Dinda Yaya. Dinda Yaya tidak perlu banyak tahu persoalan cerita ‘ala’ pacaran ini seperti ia tidak mengatakan seputar cerita cintanya padaku kalau memang ada.

“Aku tidak mau LDR,” kataku pada Dinda Yaya.

Aku tidak perlu memperpanjang hubungan keseriusan dengan teman SMA yang sekarang menikah dengan orang Pekanbaru, tinggal di daerah itu bersama suaminya. Aku tahu, aku sudah mengatakan ini pada pamanku setelah pamanku menyodorkan calon lain untukku. Tetapi, ah, biasa lah, perkataan iseng saja. Kalau sudah masalah LDR, ini sudah menjadi harga mati untuk tidak dilanjutkan.

“Soal LDR, hal ini harga mati untuk tidak dilanjutkan.”

Tetapi, aku baper kembali ketika ia dengan rela, tulus hati mengatakan permohonan maafnya. Ia menghubungiku ketika Bapak meninggal dunia. Kondisi baper ini membuatku memiliki nyali kembali untuk menabur cerita-cerita cinta padanya di tengah masa berkabungku atas kematian Bapak. Tetapi, ini hanya sisa pelampiasan yang semper tertahan beberapa tahun yang lalu. Karena setelah itu, beberapa bulan kemudian ia menikah. Selamat!

“Aku pun pernah gagal bersama orang Sukabumi,” kataku pada Dinda Yaya.

“Ya udah lah ya. Gak usah diinget-inget lagi. Cari yang baru. Yang udah ya udah,” kata Dinda Yaya yang selalu menanggapi dengan teori simpel Ya sudah lah, tidak beropini.

Lagi-lagi, aku seperti terjebak dalam dunia cerita pacaran bersama orang Sukabumi. Padahal, aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Jebakan ini membuahkan petaka dalam jalinan cinta. Sebenarnya, ini bukan hal yang menarik untuk diceritakan karena aku bukan ahli persoalan cerita pacaran. Tetapi, kejadian ini dianggap sebagai penyebab penolakanku atas hubungan LDR, siapapun orangnya.

“Bukan hal yang menarik untuk diceritakan karena aku bukan ahli cerita pacaran”

Cerita pacaran itu lebih kepada keusilanku. Pada tahun 2010, kira-kira, aku berkenalan iseng dengan wanita Sukabumi. Bagaimana tidak usil, ia mencantumkan nomer ponsel di Facebook untuk publik? Aku mengatakan kepadanya kalau nomer ponsel jangan dipasang untuk publik. Ia pun mengakui banyak yang mengganggu. Eh, aku sendiri yang memanfaatkan ponselnya sampai menjalin cerita pacaran. Dengan kondisi finansial yang terbatas, hubunganku diganggu berkali-kali oleh beberapa cowok, sepertinya 3 cowok. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi berhubungan LDR. Saat genting itu, aku berkunjung ke Sukabumi. Akhir cerita, aku dan beberapa cowok tersebut gagal. Mantanku menikah bersama pria yang menjadi harapanku dan mamahnya. Selamat!

Sekarang pun, Agustus 2018, aku masih mengamati perkembangannya, ha ha. Maaf-maafan atas semua kesalahan, dan tentunya kembali normal,” kataku dalam hati. Jangan sampai Dinda Yaya tahu karena ia akan akan berkata, “Ya udah lah ya, yang sudah gak ada gak usah dipikirin lagi.”

Beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari dan beberapa bulan berlalu, komunikasi live streaming bersama Dinda Yaya masih terus berlangsung walaupun ada pergantian aplikasi live streaming. Kedekatan memberikan kesan bisa saja terjadi. Dalam komunikasi ini, aku seperti merasakan sosok adik dalam diri Dinda Yaya. Walaupun demikian, aku tidak berharap Dinda Yaya melihat sosok kakak dalam diriku. Kesanku yang seperti itu, semoga diterimanya.

“Aku merasakan sosok adik pada Dinda Yaya. Tapi, aku tidak berharap Dinda Yaya melihat sepertiku”

Dalam kesempatan lain, Dinda Yaya menanyakan umur.

“Kak Ubay berapa sih umurnya? Aku lupa.”

“Umurku 30 tahun,” kataku sambil tertawa-tawa karena ada kata yang tertinggal tetapi tidak perlu disebut.

“Berarti lahirnya tahun 1988?”

“Intinya sudah tua, ha ha. Umur segini sudah tua, sudah layu. Makanya, kamu jangan pilih cowok yang sudah tua. Cowok tua udah layu.”

“Aku malah suka yang sudah tua, udah matang,” ucapan Dinda Yaya asal di hadapan teman-teman lain yang kebetulan sedang membicarakan umur dan tahun kelahiran.

“Ha ha…”

“Kenapa sih, Kak Ubay belum menikah? Padahal udah umur 30 tahun loh, sudah layak.”

“Doain saja, kalau sudah jodoh, nanti juga menikah.”

“Iya, kalau sudah jodoh mah, nanti juga datang. Tapi setidaknya berusaha. Bisa cari yang terdekat, kali saja ada di situ. Tinggal tunjuk saja.”

“Iya sih, bisa tinggal tunjuk. Tetapi aku tidak bisa asal menujuk cewek.”

“Maksudnya, cari yang cantik gitu?”

“Maksudnya, pola pikirku sudah berbeda. Aku tidak bisa mencari asal cewek. Aku mau cewek yang bisa mendukung karir kerjaku.”

“Ya, pastilah ada di situ kalau mau berusaha.”

“Aku ingin calon istri yang siap membantuku. Aku kan punya konter. Aku tidak bisa meninggalkan konter ini.”

“Oh gitu. Pastilah ada yang mau.”

“Iya, makanya, aku mencari tidak asal pilih.”

“Oke!”

Obrolan selesai. Aku melanjutkan aktifitas seperti biasanya.

Dalam pikiran, timbul berbagai bayangan yang mempengaruhi pikiranku untuk merangkai cerita. Pikiran ini pun bersangkutan dengan cerita Dinda Yaya Via. Yang jelas, cerita ini bukan tentang cerita pacaran Dinda Yaya Via. Cerita ini adalah cerita orang-orang baper yang kebetulan diwakili olehku.

“Cerita ini adalah cerita orang-orang baper yang kebetulan diwakili olehku”

Aku baper dengan kisah cintaku. Kisah cintaku bertumpukan mempengaruhi kehidupanku. Kisah itu dimulai dari masa SMP sampai sekarang. Tetapi, aku tidak pernah membangun dunia cerita pacaran. Sebagai manusia normal, aku layak berjatuh cinta. Tetapi, sebagai orang yang peduli cinta sejati, aku tidak menginginkan masuk dalam dunia cerita pacaran. Bagiku, cerita pacaran terbaik ketika cinta sudah disatukan dengan ikatan pernikahan. So, aku baper karena sampai sekarang belum menikah, “ha ha ha,” ketawaku ngakak dalam hati. “Ya udah lah ya.”

“Kamu mencintai siapa, sekarang, Ubay?” tanyaku pada diriku sendiri.

“Cerita pacaran terbaik ketika cinta disatukan dengan pernikahan”

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Bukan Cerita Pacaran Yaya Via Tapi Bikin Baper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Bukan Cerita Pacaran Yaya Via Tapi Bikin Baper

Cara Menghilangkan Jerawat Di Wajah

Posted at Juni 26, 2019

Cerita fiksi ini menghadirkan suguhan tentang Cara Menghilang Jerawat Di Wajah. Memang, cerita fiksi di blog ini agak terasa aneh yakni menghadirkan tips dalam... Read More

Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Posted at Juni 25, 2019

Kali ini, aku menerbitkan cerpen muslimah. Cerita pendek fiksi yang menautkan cerita antara wanita muslimah dengan pria muslim lewat perantara jilbab biru. Cerpen muslimah... Read More

Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Posted at Juni 24, 2019

Selama menulis tulisan untuk kebutuhan jaringan blog PBN untuk situs buku cerita fiksi dan non fiksi, badanku terasa sakit. Karena itu, aku beristirahat lama.... Read More


error: Content is protected !!