HOME
Home » Buku Bercerita » Adakah Cerita Romantis Di Antara Clara Oktavia?

Adakah Cerita Romantis Di Antara Clara Oktavia?

Posted at September 1st, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

Cerita Romantis

Kalau masalah cerita romantis antara aku dan Clara Oktavia, aku malah ingin tersenyum. Aku seperti tidak menghadirkan cerita romantis untuk Dinda Clara. Memang, aku tidak memiliki kepentingan untuk membangun cerita romantis. Untuk apa? Biasanya, cerita romantis hanya untuk orang-orang yang sedang dimabuk pacaran atau bulan madu. Aktifitasku bersama Dinda Clara di room live streaming hanya sekedar membangun cerita nuansa persahabatan yang seru, penuh canda-tawa dan tentunya menghasilkan keuntungan. Namun kalau nuansa kedekatan menghasilkan keuntungan disebut cerita romantis, aku sudah melakukannya.

Nah, kalau aktifitasku bersama Dinda Clara untuk kepentingan menghasilkan keuntungan, inilah yang menggerakanku untuk setia menemani Dinda Clara di room live streaming. Sepertinya, aku tega sekali pada Dinda Clara. Aku seperti memanfaatkannya. Tapi, Dinda Clara pun mendapat keuntungan, sebenarnya. Kita memang sedang membangun keuntungan. Aku sudah berbicara demikian pada Dinda Clara, secara langsung atau tidak langsung, seperti “Suatu saat, jasamu akan menguntungkanmu”, “…berharap memang pintu rezeki Dinda Clara terbuka juga lewat blog ini” dan perkataan-perkataan lainnya.

Aku menjadi penulis untuk Dinda Clara sedangkan Dinda Clara menjadi penyiar untukku. Apakah ini dianggap cerita romantis? Sepertinya, kegiatan ini seperti bernuansa cerita romantis-romantis bagaimana begitu. Nuansa cerita romantis ini seperti keromantisan manajer dengan artis, penulis dengan penerbit buku, presiden dan wakil presidennya. Apakah seperti ini dianggap cerita romantis? Jadi, cerita romantis itu saling memberi dan menerima keuntungan, cihuy.

“Cerita romantis itu saling memberi dan menerima keuntungan”

“Hi hi hi… Masak usaha menghasilkan keuntungan gak dari hate? Dari hate dong. Cerita romantis kan?”

Di dalam kondisi matahari yang akan menunjukkan siangnya, aku menanti kedatangan salah satu santri putri dan putra asrama Al-Inaroh. Kebetulan, hari ini memasuki libur sekolah, tepatnya di hari Jumat. Santri putri pernah membeli vocer pulsa 10.000 seharga 11.000 dengan memakai uang pembayaran sebesar 15.000. Uang kembalian sebenar 2000 tertinggal di atas etalasi. Untung, santri itu sudah dikenal baik mukanya. Ia sudah berlangganan membeli di sini. Sedangkan santri putra, ia membeli pulsa 15.000 seharga 17.000. Ia mau mengisi pulsa untuk nomer XL. Tetapi, pengiriman pulsa selalu gagal. Santri putra pun pulang ke asramanya. Aku mengira ia pulang hanya sebentar saja. Ternyata, sampai hari ini, ia belum mampir ke sini kembali. Uangnya masih disimpen di sini. Aku ingin mengembalikan uang mereka.

Dalam penantian, cuaca hari ini terkesan terasa panas. Tetapi, kondisi panas seperti ini tidak seperti kondisi di Pekanbaru, tempat tinggal Dinda Clara.

“Pekanbaru paneh banna,” kata Dinda Clara. Ia mengatakan kalau Pekanbaru panas sekali.

“Pantes mantanku mengupload es Sampolay. Ternyata, mantanku lagi kepanasan,” kataku sambil menyebut mantan. Padahal, aku tidak memiliki mantan yang berada di Pekanbaru. Aku hanya pernah mengatakan cinta dan berniat serius pada teman SMA-ku yang sekarang tinggal di Pekanbaru.

“What? Apa apa hubungannya Pekanbaru panas dengan mantan?”

“Mantanku kan orang Cirebon. Minuman itu khas Cirebon. Jadi dia kepanasan dan merindukan minuman Cirebon.”

Aku sudah menjelaskan seperti ini pada Dinda Clara tetapi ia belum mengerti juga.

“Apa hubungannya mantan, minuman dan panas Pekanbaru?”

“Itu tandanya, mantanku merindukanku, ha ha,” jawabku asal untuk memancing pembicaraan.

“Emang ada mantan Kak Ubay di sini?”

“Ada. Dia teman SMA ku.”

“Oh teman SMA, bilang dong dari tadi.”

“Haduh,” keluhku. “Sepertinya, Dinda Clara salting, ha ha,” batinku.

Begitu lah salah satu bentuk cerita romantis antara aku dan Dinda Clara, antara Dinda Clara dengan teman-teman di dalam room live streaming. Cerita keromantisan yang tidak ada bentuk romantisnya adalah cerita romantis itu sendiri yang tengah berlangsung di dalam room Dinda Clara. Dinda merasa bingung? Ya sudah, intinya, kebersamaan kita yang sudah terbangun lama dan penuh nuansa kedekatan adalah bentuk cerita romantis itu sendiri.

“Cerita keromantisan yang tidak ada bentuk romantisnya adalah cerita romantis itu sendiri”

Cerita romantis bukan hanya dimiliki kalangan sepasang kekasih yang sedang pacaran atau bulan madu. Biasanya, romantis identik dengan luapan cinta dengan berbagai ekspresi sikap kebersamaan. Cerita romantis pun bisa dimiliki siapa saja yang memiliki nilai kedekatan, kebersamaan, pengertian, dan sikap positif lainnya. Bila orang-orang di dekat Dinda Clara membangun cerita romantis, hal ini dianggap benar apa adanya.

“Tetap akur ya kakak-adik sampai tua,” aku mengomentari canda-tawa Dinda Clara bersama Ica. Dinda Clara dan Ica bercanda-tawa ketika Dinda Clara sedang menghiasi muka Ica, adik Dinda Clara.

“Siap Kak Ubay!”

Oh ya, panggilan Ica belum dianggap “Dinda” olehku. Ya, aku tidak bisa memanggil asal-asalan. Panggilan itu harus menyesuaikan keselarasan hati. Panggilan itu mengindikasikan keromantisan, cihuy. Aduh, pada intinnya, aku belum bisa memanggil Ica dengan Dinda Ica. Ah, aku bukan siapa-siapa. Untuk apa melebar sampai ke kakak-adik Dinda Clara? Kalau melebar, nanti aku memanggil Mamah-Papah untuk kedua orang tua Dinda Clara.

Cerita romantis diriku di room Dinda Clara hanya sekedar cerita romantis biasa, selayaknya hubungan kakak-adik, saudara atau sahabat. Tetapi, aku melihat, hal ini tidak berlaku untuk beberapa teman Dinda Clara. Aku melihatnya ada cerita romantis jenis lain yang masih belum dipandang serius Dinda Clara. Tetapi, aku mendiamkan saja. Aku tidak memiliki kepentingan mengurusi perasaan orang lain. Barangkali, ini menjadi jalan jodoh untuk Dinda Clara. Untukku, siapapun calon suami Dinda Clara, ini menjadi pilihan terbaik. Mungkin tidak ada yang salah bila room live streaming dijadikan tempat mencari jodoh.

“Cerita romantis diriku bersama Dinda Clara hanya cerita romantis biasa, seperti hubungan kakak-adik”

“I Love you,” kata Diri yang terkesan berharap pacaran bersama Clara.

“Tuh love dijawab gak tuh,” kataku menanggapi ucapan itu.

“Kok udah main love-lovan gitu sih?” tanya Clara yang agak kurang sreg, kurang menerima.

“Canda, Bang,” kata Diri.

“Becanda aja, Clara udah panas-dingin, he he.”

Aku tidak tega menjadi bagian perkumpulan di tengah orang-orang yang memiliki harapan pada Dinda Clara kalau memang ada. Tetapi, sebagai cowok yang normal juga, aku memaklumi sikap beberapa cowok ke Dinda Clara. Kalau sudah cinta, apa mau dikata? Tetapi sekali lagi, aku merasa tidak tega. Mengapa? Room live streaming seperti kurang etis menjadi ajang mencari jodoh. Aku lebih menyukai obrolan bernuansa persahabatan yang romantis. Ketika harapan mereka tidak tercapai, apakah masih dianggap penting setia di room Clara?

“Kalau beberapa cowok itu ada perasaan dan harapan, kenapa ngobrolnya justru bersama viwers lainnya? Emang room Clara buat pelampiasan tempat doang, gak ngobrol sama Clara?” batinku.

Entah lah, apakah firasatku benar atau tidak kalau di live streaming ada jenis cerita romantis yang lain.

“Punya nomer Whatsapp gak?” tanya Anggo waktu itu. Ia seperti ada modus ingin pacaran dengan Clara.

Anggo terus-menerus minta nomer Whatsapp Dinda Clara. Padahal, Dinda Clara sudah menyebut kalau dirinya hanya memiliki akun Line. Kalau akun Line, Dinda clara masih bisa memberikannya karena tidak ada kontak nomer hp.

“Kalau mau minta nomer Whatsapp, hadapi dulu papahnya,” kataku ketika itu.

Dinda Clara diam tidak merespon permintaan Anggo.

Aku agak risih melihat sikap orang yang baru kenal pada Dinda Clara seperti Anggo. Kalau Dinda Clara sudah aktif live streaming, kenapa Anggo masih meminta kontak pribadi? Tetapi, kondisi risihku masih berstandar biasa. Lagi pula, nuansa bencandaku masih berlaku dalam permintaan Anggo. Dalam live streaming, penyiar dan viewers seharusnya menjaga sikap untuk menciptakan suasana cerita romantis positif.

“Penyiar dan viewers seharusnya menjaga sikap untuk menciptakan suasana cerita romantis positif”

Masalah sikap, aku jadi teringat Ninis, cewek Betawi yang bicaranya suka nyablak, asal jeplak. Ia juga masuk dalam aplikasi yang sama dengan Dinda Clara yaitu di Go Live. Dalam Go Live, aku cuma mengikuti dua seorang penyiar: Clara Oktavia dan Ninis.

“Anjay, Bang Ubay.”

“Aduh, gua di-anjay-in mulu.”

“Emang artinya anjay apa Bang Ubay?” tanya Ninis yang berpura-pura tidak tahu

“Anjay = sayang, ha ha.”

“Pe’a lu Bang Ubay ha ha…”

Karakter Ninis penuh nyablak dan ceplas-ceplos memang masih dalam lingkup bercanda. Bahasa itu dianggap seperti bahasa kedekatan denganku. Apalagi, ia berasal dari Betawi. Bahasa Ninis yang dianggap nyeblak, ceplas-ceplos dianggap wajar.

Ya ea lah, Ninis dekat sama aku? Iya kale, aku dekat dengan dia. Secara, aku memberikannya give. Apakah sudah dianggap cerita romantis? Biasa saja. Hal ini karena belum terjalin lama dalam pertemanannya. Mungkin, aku dan Ninis bisa membangun cerita romantis nanti.

Aku patut mengakui, aku selalu merasakan suasana cerita romantis dengan Dinda Clara. Hal ini berlaku untuk para viewers yang lain pada sosok Dinda Clara. Walau demikian, cerita keromantisan ini bersifat yang biasa berlaku dalam pergaulan. Cerita romantis yang aku rasakan adalah nuansa kedekatan obrolan. Bukan kah makna romantis salah satunya adalah jalinan yang dekat, erat? Nah, aku merasakan seperti ini. Ini hal biasa kan? Ya biasa lah. Cerita romantisku yang spesial adalah aku memberikannya nuansa “ketulusan”.

“Cerita romantisku yang spesial adalah aku memberikannya nuansa ketulusan”

Apakah tulus dengan ikhlas berbeda? Bedakan saja. Ikhlas drajatnya jauh lebih tinggi. Aku belum mencapai derajat tinggi itu.

Karena tulus membangun cerita romantis di room live streaming bersama Dinda Clara dan teman-teman lainnya, aku sengaja menutup diri tentang diriku pada teman-teman Clara lainnyaꟷkarena memang tidak penting tentang siapa sih aku ini.

Karena tulus, blog ini pun akan memperkenalkan Dinda Clara ke banyak pengunjung online. Dan aku berkata: “Hai para netter, ini Dinda Clara Oktavia, artis live streaming.

“Buat Dinda Clara, maafkan atas cerita romantis ini. Masalahnya, lumayan, kata kunci cerita romantis bisa menghasilkan 222.000 kunjungan per bulan ciin, hi hi. Cerita romantis banget dah.”

“Bang! Beli kuota axis!” kata pembeli mengagetkanku di tengah lamunanku.

“Wih, anak kembar ini,” kataku dalam hati yang sering mempertanyakan sosok santriwati ini dengan santriwati lainnya yang seperti ada kemiripan. Ia seorang santriwati yang sudah jujur mengganti uang kekurangan pembeliannya.

No comment for Adakah Cerita Romantis Di Antara Clara Oktavia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Adakah Cerita Romantis Di Antara Clara Oktavia?

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More