HOME

Cerpen “Clara”

Posted at Juli 6th, 2019
impian

Aku menghadirkan cerpen fiksi “Clara”. Menurut kamu, dalam cerpen fiksi ini, cerita tentang apa yang dihadirkan? Hm… Pastinya kamu belum tahu. Aku membaca dan mencoba memahami, cerpen fiksi ini berisikan seputar impian. Ya, cerita pendek atau cerpen fiksi impian biasanya berhubungan dengan kesuksesan dan motivasi hidup. Tokoh utama dalam cerpen fiksi ini adalah Clara karena judul utama dalam cerpen fiksi ini memakai nama Clara. Secara garis besar, cerpen fiksi ini menggambarkan pengembangan diri seorang Clara dengan beberapa hambatanynya. Apakah kamu berkeinginan membaca cerpen fiksi Clara lebih lanjut?

***

Sinar matahari pagi menembus celah-celah ventilasi kamar mengenai tempelan kertas warna-warni pada tembok. Di atas tempat tidur lantai, seorang perempuan muda masih terlelap tidur yang sesekali terdengar dengkuran lirih.

Kamarnya tidak terlalu rapi, tetapi tidak juga terlalu berantakan. Hanya saja pada meja sebelah tempat tidur terdapat koleksi beberapa buku bacaan yang sebagian besar bertema motivasi serta membangun impian.

Brak! Brak! Brak!

Spontan Clara merajuk. Tidur nyenyaknya selalu mendapatkan gangguan alarm tangan ibu.

“Iya, Bu, Clara bangun.”

Seperti biasa meski sudah berjanji akan bangun, ia tetap saja berbaring di tempat tidur. Ada kebiasaan baru yang selalu dilakukan sebelum beranjak bangun. Ia sudah melakukan itu sejak dua bulan terakhir ini. Kertas warna-warni ia pandangi sejenak walau isi tulisan tidak terbaca sepenuhnya namun, tulisan besar di atas kertas-kertas terbaca jelas.

“Target usia 25 tahun,” batinnya yang kemudian beranjak berdiri.

Satu menit cukup baginya memandangi seluruh impian pada kertas warna-warni. Usai puas di mana perasaan seolah dibuat melayang, ia kemudian mengambil handuk dari gantungan belakang pintu dan kemeja batik dari lemari. Tetapi lantas ketika hendak membuka pintu kamar sekali lagi ia memandangi kertas-kertas. Ada sepuluh kertas yang tertempel.

“Saatnya mempunyai usaha sendiri.”

Ketika membuka pintu, tiba-tiba ponsel berbunyi. Ia tidak jadi keluar karena memilih mengangkat telepon. Rupanya yang telepon Ida, teman satu kantor. Setelah ia membalas salam, Ida langsung mencecar hingga Clara tertunduk. Ida mengingatkan nominal uang yang harus di setor demi kelancaran usaha patungan. Setelah menutup telepon, bukannya bergegas mandi, ia malah berbaring lagi di tempat tidur. Angka-angka yang disebutkan Ida mendadak menari-nari di atas kepala. Akibatnya ia harus memijat areal pelipis dan dahi.

Ingatannya masih merekam kejadian tiga Minggu lalu ketika makan mie ayam di alun-alun saat sepulang kerja. Di mana ia menggebu-gebu menceritakan impian besarnya kepada Ida. Ida sampai terhipnotis mendengar sederet impian yang tidak biasa. Akibat cerita itu pula, Ida tergugah untuk merancang impian masa depan.

Ia kemudian mengambil buku tabungan di bawah pakaian di lemari. Ia mendesah lihat saldo tabungan yang masih jauh dari kata cukup. Buku tabungan lalu di lemparkan ke tempat tidur yang lantas ia ke luar kamar.

Dalam situasi pikiran yang semrawut seperti benang kusut, waktu mandi benar-benar super singkat hingga menimbulkan kerutan kening pada ibu yang kebetulan lewat depan kamar mandi. Pada saat menuju ke kamar pun, langkahnya sedikit terburu-buru. Hingga kemudian ia tertahan depan pintu lantaran ibu memanggil.

“Usaha patungannya masih jalan?”

“Masih, Bu.”

Setelah menjawab dengan singkat, Clara masuk kamar. Orang tua mengetahui usaha patungannya. Orang tua pula yang kemudian menentang keras rencana Clara ikut patungan.

***

Sesampainya di kantor, Ida tergopoh-gopoh menemui Clara. Ia berusaha menghindar dengan tidak melakukan kontak mata, tetapi sepertinya percuma karena Ida justru menariknya  dan mengajak duduk berhadap-hadapan di meja kerja Clara.

“Ayo, Mbak. Kita keluar sebentar ketemu Mas Indra. Kalau uang patungan Mbak Clara di setor hari ini berarti tinggal menunggu sisa uang patungan Mbak Indah dan Mas Fajar.”

Semua berawal saat pemimpin bimbel tempat Clara bekerja mempersilahkan karyawan mempelajari seluk beluk usaha pendirian bimbingan belajar. Pimpinan sudah mempersilahkan itu dari tiga tahun lalu sebelum Ida bekerja di bimbel.

Tentu saja pada saat itu Clara tidak tertarik. Baginya telah berstatus menjadi karyawan sudahlah cukup. Apalagi dirinya perempuan yang nantinya menikah. Otomatis setelah menikah tanggung jawab nafkah diserahkan kepada suami. Tetapi seiring berjalannya waktu dan sering melihat berita dan tayangan televisi tentang kisah-kisah para pengusaha muda, dari situlah lalu termotivasi supaya bisa memiliki sebuah mimpi yang nantinya tidak lagi menjadi karyawan.

“Sepertinya aku mundur.” Clara menunduk tidak berani menatap Ida.

“Ya, nggak bisalah!” Ida menggebrak meja hingga Clara merajuk dan mengelus dada.

“Aku mundur.”

“Mbak, aku sudah bela-belain pinjam bank demi usaha patungan kita.”

“Uang aku kurang.”

“Itu urusan Mbak Clara. Yang jelas nggak bisa mundur!” tegas Ida dan beranjak berdiri, mendorong kursi yang diduduki dengan kaki hingga kursi terdorong.

Setelah Ida pergi, Clara langsung mengerjakan pekerjaan yang kebetulan tidak begitu menumpuk. Gaji karyawan, pengeluaran, pemasukan bulanan sudah masuk laporan yang lalu ia mengirimkan laporan lewat email kepada pimpinan yang sedang ada di cabang luar kota. Usai mengirimkan laporan, kini yang ia lakukan hanya bolak-balik membuka sembarang folder pada komputer. Sesekali melirik jam pada layar pojok kiri bawah. Jam menuju jam makan siang masih terlalu lama.

Akibat tidak lagi ada yang dikerjakan, pikiran pun melayang ke kejadian di mana ia menceritakan impian besarnya kepada Ida. Seandainya tidak cerita, Ida pasti tidak tahu. Kalau tidak tahu otomatis tidak cerita kepada tiga pengajar freelance bimbel. Dari cerita Ida, Indra dan Fajar tertarik yang kemudian demi mempermudah dan memperlancar rencana, tercetuslah ide patungan. Indah yang awalnya tidak tertarik berubah tertarik karena ia menceritakan iming-iming masukan yang bisa didapat dari usaha bimbel. Ia bahkan menambahkan bahwa kelak bimbel usaha patungan bukan hanya menyasar anak SD-SMA, tetapi menyasar juga anak TK yang ingin memperlancar baca.

Ponsel sebelah keybord bergetar. Ia agak ragu mengangkat saat melihat nama penelpon. Ia pun membiarkan ponsel terus bergetar tanpa keinginan mengangkat. Saat akhirnya berhenti, ia langsung dapat bernafas lega. Tetapi tidak lama setelah itu, ponsel kembali bergetar. Ada dua dorongan kuat dalam diri antara di angkat atau tidak namun, ia lebih memilih mengangkat meski jantung berdebar dan tangan gemetaran.

Setelah Clara menjawab salam Indra, Indra langsung mencecer larangan mundur. Ia yakin Ida telah menceritakan pertengkaran tadi kepada Indra. Kami berempat memang sepakat menunjuk Indra menjadi ketua supaya mempermudah laporan. Setelah laporan masuk semua ke Indra, barulah Indra melaporkan kepada kami semua.

“Saya tidak mau tahu, Mbak Clara. Apapun yang terjadi bimbel harus berdiri. Ingat loh, saya sudah lebih dahulu keluar uang dibanding kamu jadi saya tidak mau rugi!”

Clara mendesah mendengar perkataan Indra. Apa yang dikatakan membuat dada panas. Tidak sepantasnya Indra berkata begitu karena dia yang mengusulkan agar menggunakan uang patungannya sendiri dahulu. Ia tidak sempat membela diri karena Indra terlanjur menutup telepon. Tetapi kemudian teman patungan lainnya telepon.

“Bu Indah, aku lagi usahakan uang patungannya,” sergah Clara cepat sebelum Indah menyapa.

“Mbak, aku juga ingin mundur seperti Mbak Clara.”

“Semua ini salah aku, Bu. Seandainya aku nggak terburu-buru bernafsu memiliki usaha dan iming-iming hasil, kamu pasti nggak kesusahan seperti ini. Kamu sudah menyetorkan uang patungan,” sesal Clara menjatuhkan dahi ke meja.

“Mbak Clara jangan menyalahkan diri sendiri.”

“Sekali lagi aku minta maaf. Aku janji akan berusaha supaya usaha patungan ini batal,” janjinya yang lalu menutup telepon.

***

Clara bersama empat rekan usaha patungan duduk melingkar di pojok dekat jendela rumah makan. Sebelum langit berubah jingga, mereka berkumpul untuk tujuan sama yakni bimbel yang dijadikan usaha patungan. Pertemuan ini sudah direncanakan dari dua hari lalu dengan agenda pembahasan pasca rampungnya pembuatan akta notaris serta tempat bimbel. Tetapi kemudian sebelum pertemuan ini terjadi nyatanya banyak kejadian tidak terduga yang akhirnya menunjukkan raut wajah suram bak langit biru yang mendadak berubah hitam.

“Lebih baik usaha patungan dibubarkan,” usul Clara yang langsung memancing tatapan tajam rekan-rekannya.

“Masih bisa mikir nggak sih? Gimana mungkin dibubarkan? Oke, bubar. Mbak Clara untung karena belum menyetor uang sepeser pun tapi aku? Aku menggadaikan BPKB motor demi mendapatkan uang patungan,” lirih Ida menjelaskannya kepada Clara yang duduk di sebelah kanannya.

Terkecuali Clara, semua menatap Ida dengan iba. Seketika meja yang ditempati serasa kuburan. Mereka lalu sibuk dengan aktivitas masing-masing. Clara melihat para pengunjung yang memarkirkan motor depan tempat makan, Indah tertunduk melihat kedua tangan yang saling menggenggam, Ida bolak-balik menggeser layar ponsel, Indra melihat buku catatan kecil dan Fajar bersedakep sambil sesekali mengusap wajah.

“Jangan mengambil keputusan sepihak apalagi menyetor uang patungan,” ujar Indra yang mengundang anggukan kepala Ida.

“Dari awal kita sepakat memutuskan usaha patungan, aku sudah berkali-kali ingatkan supaya menunda sampai setahun. Supaya apa? kita siap. Siap dengan nominal modal yang akan kita keluarkan,” ungkit Clara yang kali ini Indah mengangguk-angguk.

“Dengan kata lain kamu menyalahkan saya?” tuduh Indra sedikit melotot.

Walau sebenarnya Clara dapat membalas sebagai pembelaan, tetapi ia tidak melakukan. Ia memilih diam karena yang dikatakan memang benar. Impian memiliki usaha sendiri ketika usia masih muda itu bagus, keren dan hebat, tetapi ia lupa mengukur kemampuan yang dimiliki sehingga terjebak dalam khayalan yang terus-terus di bawa dalam pikiran. Sebelum usia 30 tahun tidak perlu menjadi karyawan, tetapi justru memiliki karyawan dan tentunya mempunyai penghasilan melebihi gaji saat menjadi karyawan.

“Kita harus mencari jalan tengah,” usul Fajar pecahkan perang dingin Indra dan Ida melawan Clara.

“Setuju!” seru Indra dan Ida.

Ketika Indra, Fajar, Ida bergilir menyuarakan solusi, Clara dan Indah hanya menyimak. Tiap kali Indah diminta memikirkan solusi hanya di jawab tidak tahu sedangkan Clara akhirnya hanya celingukan melihat sekeliling mengingat solusi tidak kunjung didapat.

“Mbak Clara bisa nggak menyimak? Dari tadi diam dan malah sibuk melihat ke sana kemari,” protes Ida ketus.

“Aku tetap ingin usaha patungan ini bubar.” Clara menatap rekannya satu-satu.

“Aku setuju sama Mbak Clara.” Indah mengangkat tangan kanan.

“Apa dari kita sudah tidak ada yang satu visi misi?” Fajar bertanya seraya menatap kami berempat.

“Seandainya memang sudah tidak ada lebih baik bubar. Kita sama-sama menjadikan ini pembelajaran. Mungkin saat ini kita harus menjadi karyawan dan tidak ada yang salah dengan status karyawan,” tambah Fajar yang membuat kami saling pandang satu sama lain.

Dari kami berempat tidak ada yang memprotes pendapat Fajar. Hingga kemudian Indra dan Ida setuju pembubaran usaha patungan bimbingan belajar. Uang patungan dikembalikan dan Clara mengajukan diri membantu Ida membayarkan setengah sisa angsuran setelah sisa uang yang di pinjam dikembalikan.

***

Ditulis oleh Nur Istiqomah

Apakah sudah membaca cerpen fiksi Clara di atas? Hal menarik setelah membaca cerpen fiksi adalah melakukan aktifitas resensi.

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Cerpen “Clara”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cerpen “Clara”

Cara Bisnis Pulsa Dan Kuota Internet

Posted at Juli 9, 2019

Cerita Cara Bisnis Pulsa Dan Kuota Internet lebih kepada pengalaman pribadi walaupun aku memfiksikannya walaupun agak sulit membedakan mana cerita fiksi dan faktanya. Masalah,... Read More

Saranghaeyo, Mbak Cantik

Posted at Juli 7, 2019

Ada banyak warna seputa cerita cerpen. Cerita cerpen cinta biasanya yang mendominasi topik atau tema sebuah cerita cerpen. Salah satu cerita cerpen seputar cinta... Read More

Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Posted at Juli 1, 2019

Cerita fiksi Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda melengkapi cerita fiksi sebelumnya, dalam arti masih berkaitan dengan tema cinta. Cerita fiksi dibuat setelah... Read More


error: Content is protected !!