HOME

Cerpen Keluarga : Pertemuan Yang Tak Terduga

Posted at Juni 23rd, 2019
ibu, bapak, anak

Cerpen keluarga menghadirkan cerpen sederhana seputar keluarga kecil yang dipisangkan akibat musibah. Tentunya, perpisahan keluarga menjadi hal yang paling tidak diinginkan karena hakekat berkeluarga adalah perkumpulan. Tetapi, apa daya, dalam cerpen keluarga ini, seorang ibu dan anak ditinggal pergi sosok yang menjadi suami sekaligus bapak dari sebuah keluarga. Bagaimanakah perpisahan akibat musibah yang terjadi pada keluarga kecil yang akan diceritakan?

***

“Sayang, bunda mendadak meeting nih, gak masalah kan ditunda dulu liburan tahun barunya?”

Aku kembali membaca pesan singkat Bunda 1 jam yang lalu. Hatiku berusaha mengerti dan memahami kesibukan bunda sebagai ibu sekaligus ayah karena sejak aku hadir ke dunia ini, ayah sudah tiada. Bunda bilang ayah meninggal dunia. Tapi, sebagian orang ada yang tidak membenarkannya. Menurut mereka, ayahku masih hidup sampai sekarang. Entah, ayah menghilang kemana.

Pernah aku bertanya sendiri tentang ayah pada bunda. Bunda marah dan memintaku untuk tidak mengingat-ingat ayah. Aku pun nurut. Sejak saat itu sampai saat ini, aku tidak lagi menyinggung-nyinggung soal ayah. Meski jauh dalam lubuk hatiku sebenarnya, aku amat merindukannya. Tapi aku buang perasaan itu demi menjaga perasaan bunda.

“Kalau ayah ada disini, pasti bunda tidak pernah mengekangku di rumah” ucapku dengan air mata yang sudah menetes. Sedih.

Selama ayah tidak ada, aku hanya hidup bersama bundaku dan satu asisten di lingkungan rumah yang tidak ramai. Memang, keluarga besar sering menjengukku tiap minggu untuk meramaikan suasana rumah. Beberapa tetangga memang jarang untuk bertegur-sapa sehingga suasana terasa sepi. Mereka semua tidak mengenalku. Bunda juga sengaja menjaga dari akses orang lain kecuali urusan pendidikan. Hal ini dilakuakn selama ayah tidak ada. Alasannya simpel: biar selamat dari bahaya.

Aku selalu di dalam rumah. Jangankan bermain, sekolah pun di rumah. Bunda lebih memilih home schooling untukku. Bunda melarangku berurusan dengan dunia luar. Aku tidak mendapatkan kebebasan selayaknya anak-anak seusiaku. Bunda merasa khawatir terjadi sesuatu padaku. Bunda pun melengkapi semua mainan dan keperluan belajar yang aku inginkan. Bunda menyuruhku hanya di dalam rumah saja.

Di dalam rumah, Bunda memasang CCTV serta perangkat keamanan lainnya. Aku benar-benar seperti Rapunzel yang tinggal di istana megah namun tidak merasakan kebahagiaan.

Tiba-tiba seseorang datang dan menekan bel begitu lama. Suara menyeruak keras dalam hitungan detik sudah membahana di seluruh sudut ruangan sampai membuatku melonjak kaget plus bertanya-tanya tentang siapa yang datang. Tidak mungkin bunda, pikirku. Bunda biasanya langsung membuka pintu gerbang dengan kunci yang di bawanya. Lantas kali ini siapa? Aku takut dan gemetar. Aku tidak tahu harus bagaimana? Asisten bunda baru saja tertidur. Aku tidak mau membangunkannya.

Aku masih berpikir panjang untuk segera membuka pintu rumah. Bagaimana jika orang jahat yang datang atau penculik? Aku semakin takut. Aku raih ponselku. Aku tekan nomor bunda. Panggilanku tersambung tapi bunda tidak mengangkatnya. Satu kali, dua kali bahkan hampir 7 kali tidak ada yang menjawab panggilanku. Aku semakin takut dan panik. Karena sekarang tidak hanya memencet bel tapi juga mengedor-ngedor pintu.

Dengan mengumpulkan kekuatan, aku berusaha melangkah pelan menuju jendela di samping pintu, mengintip siapa yang datang. Aku berhasil mengintipnya. “Kenapa harus takut?” pikirku.

Tapi dalam penilaianku, laki-laki yang sejak tadi menekan bel dan memukul-mukul pintu sama sekali tidak berpenampilan jahat atau menakutkan. Malah sebaliknya. Wajahnya bisa dibilang lumayan tampan dalam usianya yang kutaksir hampir separuh baya. Tangannya menenteng koper.

Dengan mengucapkan basmalah dalam hati, aku beranikan diri memutar kunci. Pintupun terbuka.

“Apakah itu Nisa” panggilan jauh dari pria misterius.

“Non. Bentar. Jangan keluar dulu,” cegah asisten.

Aku merasa lega.

“Biar bibi saja.”

“Aku ikut.”

“Ya sudah. Sini bibi pegang.”

Kekagumanku berubah jadi rasa takut ketika laki-laki dihadapanku ini menyebut namaku di saat aku merasa tidak pernah mengenalnya.

“Nisaa,” dia mengucapkan namaku.

“Maaf, bapak siapa? Sedang mencari siapa?” tanya asisten yang beranama Bi Inah.

Tangan ayah masuk ke dalam celah pintu gerbang.

“Nisa, ini ayah.”

“Apa buktinya?” katanya Bi Inah.

“Kamu asisten baru? Ini sauaminya Ibu Lina. Tolong bukakan pintu.”

Aku langsung menjauh darinya ketika dirinya menyebutnya ayah. Yang aku tahu, ayahku tidak ada sejak aku hadir dalam dunia yang sepi ini.

“Ayah siapa?”

Meski takut, aku berusaha menekan perasaanku.

“Ayahmu…. mana bunda?”

Laki-laki yang mengaku ayahku itu memaksa asisten untuk membukakan pintu gerbang. Aku masih tertegun dan tetap diam dari kejauhan.

“Nisa, Ayah akan membawamu bermain. Ayah kangen.”

“Tidaaak… Nisa tidak kenal ayah. Ayah sudah meninggal.”

“Tapi ini ayah Nisa… ini… ini… kalau tidak percaya, ini foto bunda kan? Tolong Bi, kasihkan foto ini ke Nisa.”

Aku memang melihat foto bunda yang sedang dipeluk laki-laki ini. Bunda sedang hamil besar. Apa mungkin aku yang di dalam perut bunda?

“Sekarang percaya kan kalau ini ayah…? Ayo ikut bersama ayah. Kita akan jalan-jalan          dan makan ice cream yang banyak…”

Aku menggeleng.

“Nisaa. ini beneran ayah. Apa bunda mengatakan ayah sudah meninggal? Tapi ini beneran ayah sayang… Ayah mendapat tugas militer mendadak menjelang kelahiranmu. Ayah bertugas menjaga keamanan di negara lain. Foto yang tadi kamu lihat itu adalah foto ayah dan bunda sebelum ayah berangkat tugas.

“Tolong Bi, bukakan pintu gerbang.”

“Baik, saya percaya Pak.”

Pintu gerbang dibuka. Kami berjalan menuju teras depan. Kami duduk disitu. Lalu ayah mencaritakan tentang masa lalunya.

“Setelah keberangkatan ayah, pesawat militer yang ayah tumpangi terjatuh. Pas ayah tahu, ayah termasuk yang meninggal dunia. Padahal, kami menggunakan parasut saat pesawat terjatuh. Jadi, kabar itu kurang benar. Ayah masih hidup.”

“Tapi kenapa tidak memberi kabar?”

“Nanti ayah jelasin di depan bunda.”

“Tapi bunda tidak di rumah…”

“Kita akan pergi ke tempat dimana bunda pasti akan datang.”

“Aku belum yakin.”

“Pantas, karena kamu baru bertemu ayah.”

“Mengapa bisa tahu semua ini?”

“Karena ayah ini adalah ayahmu, percayalah… Jika Nisa belum yakin, Nisa bisa kirim          chat ke bunda, bilang bahwa Nisa pergi dengan ayah, ayah yakin bunda tahu kemana kita pergi meskipun Nisa tidak mengatakan tempatnya”

Karena penasaran, akupun memenuhi sarannya. Aku kirim sms ke nomor bunda dan langsung pergi bersama laki-laki yang mengaku sebagai ayahku. Ini juga yang pertama kali buatku, percaya pada orang selain bunda.

“Bunda, Nisa pergi bersama laki-laki yang mengatakan dirinya adalah ayah Nisa…”

Akhirnya, aku, Ayah dan bibi pergi ke suatu tempat.

***

“Nisa!” teriak Bunda berlari menghampiriku.

Pandangan bunda beralih pada laki-laki yang bersamaku. Aku melihat dengan jelas, air mata bunda langsung tumpah. Ayah dan bunda saling memeluk erat.

“Bunda..” Aku memeluk mereka dan ikut menangis.

“Apa dia benar-benar ayah?” Suara senggukanku terdengar lebih keras dari pertanyaannku.

Bunda mengangguk.

Pandanganku seketika beralih pada laki-laki yang ternyata memang ayahku.

“A..a..ayah..” lidahku terasa kelu mengucapkan kata ayah karena baru kali ini aku memanggil ayah di depan orangnya.

Ayah memelukku dan bunda.  

“Ayah janji tidak akan pergi lagi, tidak akan kemanapun. Ayah tidak akan meninggalkan kalian berdua, maafkan ayah. Ayah akan berhenti menjadi tentara.”

Kami berbincang seperti biasa.

“Kenapa gak ada kabar sama sekali setelah kejadian kecelakaan? Aku kira, Mas sudah…?”

“Iya ayah, kenapa yah?”

Lalu Ayah menjelaskan persoalan pesawat yang mendadak terjatuh. Memang, ayah dan teman-teman menggunakan parasut. Mereka saling menguatkan dengan membuat kelompok-kelompok agar tidak terpisah. Tragisnya, antar kelompok saling terpisah jauh. Kebetulan ayah dan teman-temannya terjatuh ke dalam hutan. Sebagian, mungkin mereka terjatuh ke laut. Mereka tidak mengetahui jalan pulang.

Di dalam hutan, mereka hidup seadanya. Sampai suatu saat, mereka menemukan sekelompok semacam suku pedalaman. Di situ lah, ayah dan teman-teman menumpang hidup lama. Awalnya, suku pedalaman menyerang ayah dan teman-temanya. Tetapi, suku itu membebaskannya. Mereka tidak mengetahui di negara mana suku pedalaman tinggal.

“Bagaimana ceritanya, Mas bisa kembali ke sini?” tanya bunda heran.

“Ceritanya panjang. Ketika sudah tahu sungai, di situlah arah menuju laut.”

“Kenapa laut?”

“Karena laut adalah tempat kapal-kapal beberapa negara berlayar. Di situlah ayah bertanya.”

“Berapa biaya untuk pulang?”

Seketika ayah menangis. Ayah pun memeluk bunda dan kemudian memelukku.

“Dibayar dengan nyawa. Beberapa teman meninggal karena tidak kuat dengan perjalanan yang melelahkan. Setelah itu, kami menghubungi pihak perwakilan negara Indonesia.”

“Ya sudah, yang penting aku selamat. Tidak perlu dijelaskan lebih detail. Aku tidak mau kaliat ikut dalam sedih.”

“Tetapi, kenapa harus lebih dari 5 tahun di sana?”

“Aku dan teman pasrah hidup di sana bersama orang yang sudah dianggap dekat. Tetapi, aku dan teman dijadikan sebagai pasangan di antara sebagian gadis. Anehnya, aku dipisahkan kembali kecuali teman-temanku. Bertahun-tahun, aku hidup bersama mereka. Aku benar-benar tidak bisa pulang. Setelah menemukan jalan keluar, aku dan teman-teman pergi tanpa izin. Buatku, di sana tidak ada pernikahan sesuai keyakinanku. Di tempat yang berbeda, aku mencari bekal hidup untuk pulang. Aku tidak bisa membahas persoalan ini di depan anak. Kamu juga sudah hidup bersama orang yang dekat, bukan? Kamu paham maksudku?”

“Tidak pernah. Sebenarnya, aku masih yakin kamu sudah hidup.”

Ayah termenung sambil mengelus-elus tangan bunda. Ibu mengusap air mata sambil terus berusaha menandang wajah ayah. Entah, aku tidak mengerti pembicaraan mereka.

“Maaf mas, kita perlu membicarakan kembali persoalan pernikahan kita.”

“Baik, tetapi kita lebih melihat kebahagiaan anak daripada pernikahan kita.”

“Ada apa sih, Bun, Yah?” tanyaku heran.

“Gak ada apa-apa,” jawab mereka berdua.

Aku bunda dan ayah tersenyum. Kami berpelukan dengan penuh rasa bahagia.

***

Ditulis oleh Dhara dan Elbuy

Apakah sudah membaca cerpen keluarga di atas? Bagaimanakah suguhan cerita pendek alias cerpen di atas? Tentunya, aku mengharapkan anda menikmati suguhan cerita pendek alias cerpen keluarga di atas.

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Cerpen Keluarga : Pertemuan Yang Tak Terduga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cerpen Keluarga : Pertemuan Yang Tak Terduga

Saranghaeyo, Mbak Cantik

Posted at Juli 7, 2019

Tiba-tiba saja sepeda motor yang di kendarai berhenti di ujung jalan. Meski telah di starter ulang, matik hitamnya tetapi tidak menyala. Berhubung hampir terlambat,... Read More

Cerpen “Clara”

Posted at Juli 6, 2019

Aku menghadirkan cerpen fiksi “Clara”. Entah, dalam cerpen fiksi ini, cerita tentang apa yang dihadirkan. Aku membaca seklias, cerpen fiksi ini berisikan seputar impian.... Read More

Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Posted at Juli 1, 2019

Cerita fiksi Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda melengkapi cerita fiksi sebelumnya, dalam arti masih berkaitan dengan tema cinta. Cerita fiksi dibuat setelah... Read More


error: Content is protected !!