HOME

Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Posted at Juni 25th, 2019
cerpen muslimah

Kali ini, aku menerbitkan cerpen muslimah. Cerita pendek fiksi yang menautkan cerita antara wanita muslimah dengan pria muslim lewat perantara jilbab biru. Cerpen muslimah ini terletak bagaimana jilbab muslimah yang menjadi inti permasalahan. Pencarian dan kehilangan jilbab muslimah membuahkan pertemuan antara wanita muslimah dengan pria muslim sembari mengenang masa lalu yang pernah terbangun cerita manis. Kenangan itu biarlah berlalu, sang wanita muslimah dan pria muslim membangun hidupnya masing-masing tanpa perjodohan. Bagaimanakah bentuk asli cerita pendek alias cerpen muslimah ini?

***

Mungkin di kota lain saat ini, halte bus hanya sebagai tempat berteduh saat kehujanan diperjalanan ataupun tempat nongkrong malam mingguan. Namun di kotaku, halte bus bukan sekedar tugu sejarah masa lalu, tapi masih jadi halte yang sebenarnya. Tidak sedikit masyarakat di tempat kotaku tinggal, meski sudah memiliki kendaraan pribadi, masih sering menggunakan jasa bus untuk rute tertentu. Begitu juga denganku.

Saat ini aku menjadi salah satu dari belasan orang yang berdiri di halte menunggu kedatangan bus yang akan membawaku padahal sebenarnya tanpa tujuan. Tiba-tiba aku teringat percakapan dengan ibuku kemaren sore.

“Dava, adikmu tadi mampir kesini ya?” tanya ibuku sambil mengemasi baju-bajuku yang kotor.

Biasanya, dua hari sekali ibuku datang ke kontrakanku, mengantar lauk pauk-lalu. Bahkan ia membawa baju-baju kotorku untuk dicuci di laundry terdekat. Aku tidak bermaksud tidak melarangnya melakukan hal itu, namun begitulah sifat ibuku. Sesibuk dan selelah apapun setiap harinya, ia tetap akan melakukan apapun demi anak-anaknya, sekalipun sudah besar.

“Adik? Si meli? Meli sudah hampir sebulan gak mampir. Kan ibu yang bilang kalau adik sedang KKM di kampusnya,” jawabku tanpa menoleh ke arah ibu karena jari-jariku sibuk di atas keyboard.

“Terus nih jilbab biru milik siapa kalau bukan punya adikmu?” Punya calonmu? Sini kenalin, biar ibu langsung nikahin. Sudah mapan masih aja sendiri.”

Pertanyaan dari ibu selanjutnya mampu menghentikan aktivitas jariku. Spontan aku metatap jilbab biru yang ibu kibas-kibaskan di depan wajahku. Sejenak aku terdiam, mengingat-ingat kapan aku memungut jilbab biru itu.

“Aaaah, itu entah milik siapa bu, waktu itu ramai sekali di bus, jadi Dava tidak begitu merhatiin sekitar. Tau tau sampai kosan, ada jilbab biru itu di atas tas Dava,” jawabku sambil mengangguk-angguk kepala. Yakin.

“Kenapa gak dikembalikan pada pemiliknya? Dia pasti bingung cari jilbabnya.”

Ibu menatapku, menunggu jawaban selanjutnya yang akan aku lontarkan.

“Yah, maunya sih dibalikin bu. Tapi kalau sama pemiliknya saja tidak tahu siapa, gimana cara balikinnya” jariku melanjutkan aktifitasnya.

Hari ini, jilbab biru itulah yang jadi alasanku berdiri antri memasuki bus.

Kata ibuku, karena waktu itu aku membawanya ketika di dalam bus saat pulang kuliah, bisa jadi di halte yang sama pemilik jilbabnya datang. Aku pun menuruti pemikirannya. Entah kenapa aku menurutinya. Dan ini bukan hari pertama aku datang mencari pemilik jilbab biru yang terbawa bersama barangku. Sudah seminggu berlalu, aku belum juga bertemu dengan pemiliknya.

***

Seminggu berlalu, akupun sudah melupakan perihal jilbab biru itu karena perkuliahan sudah mulai aktif kembali.

Hari ini setelah menerima sms tentang perubahan jadwal dan ruang kelas dari dekan, aku sempatkan melihat pengumuman perubahan yang terpampang di mading depan perpustakaan, sebelum menyerahkan tugasku ke kantor administrasi.

“Ruang E pukul 15.44, mata kuliah civic education.”

Aku langsung menuju ke sana. Kulihat pintu masih tertutup. Dosen Anita Suherman. Ada tulisan nama itu yang tertempel di pintu. Aku pikir, aku tidak salah dengan ruangannya. Namun nama dosennya mengingatkanku pada masa laluku.

“Tidak mungkin Anita Suherman yang itu kan” gumamku dalam hati.

10 menit kemudian, terlihat kelas sudah penuh dengan mahasiswa dan mahasiswi. Keadaan yang semula ricuh mendadak sepi setelah terdengar langkah sepatu pantoveldari arah pintu. Aku terhenyak menatap sang pemilik kaki berpantovel itu. Benar, dia Anita Suherman, gadisku di masa lalu.

***

“Nita” panggilku sedikit berteriak.

Ada rasa canggung dalam diriku mengingat sudah lama sekali tidak berjumpa.

Orang yang dipanggil menoleh. Aku menutup mulutku.

“Ups, maaf, maksudku, Bu Anita,” ucapku saat sampai di dekatnya.

Dia tertawa saat mengetahui aku menggodanya. Tetapi, ia juga tetap memiliki rasa canggung. Terbukti, setelah tertawa, ia seperti banyak berpikir, seperti sedang merangkai kata.

“Apa sih, panggil aja aku Nita seperti dulu” ujarnya sambil sedikit mendorong bahuku.

Tas ransel yang tersandang dibahuku dilepas Nita. Ia menumpahkan segala isinya. Rupanya, ia masih memperlihatkan tingkah konyolnya kalau melihat tas baru.

Suasana agak mencair.

“Ya ampun Nit, masih aja usil.”

“Kangen udah lama gak usilin isi tas kamu. Pasti ada yang seru-seru. Iya kan?”

“Dulu kan masih kecil, masih bawa makanan termasuk pemen banyak. Sekarang bawa buku banyak.”

“Owh,” Anita agak terkejut.

Anita menatap warna biru yang mencolok di antara barang-barangku. Ia memungutnya, lalu menatapku. Aku juga menatapnya. Aku langsung paham arti tatapannya itu.

“Punyamu?” tanyaku memastikan.

Anita mengngguk.

“Yang benar?” Ya ampun. Berarti kita satu bus? Kapan kita ketemu dan kapan kamu menaruh jilbab itu ke atas tas ranselku? Heran.

“Nanti aku jelaskan.”

“Ya ampun Nit. Ibuku menyuruhku mencari pemilik jilbab itu. Gila bener kan idenya? Mana bisa? Hanya takdir yang bisa menemukan pemilik jilbab. Sekarang, aku tidak hanya menemukan jilbab, tetapi juga …. gadis kecilku,” jelasku panjang.

“Serius sampai mencari?” tanya Nita heran.

“Serius. Sebenarnya malas. Tetapi aku nurut saja kemauan ibu. Aku mencari di halte setiap hari. Aku sengaja memperlihatkan jilbab biru itu di halte. Tapi hasilnya nihil.”

“Aku pikir, aku takkan pernah menemukannya lagi setelah menghilangkannya seminggu yang lalu. Syukurlah, aku menemukannya kembali.”

“Syukurlah,” balasku.

Anita menggenggam erat jilbab birunya. Terlihat, ada rasa lega dari raut wajahnya.

“Oh, entah gimana kejadiannya, jilbabmu terbawa diantara barang-barangku. Heran,” pikirku mendalam.

Aku melihat Anita menatap lama jilbabnya. Aku tidak mengerti mengenai pikirannya.

“Sepertinya, jilbab itu berharga sekali buatmu Nit.”

Anita beralih menatapku. Ia mengangguk.

“Jilbab ini hadiah dari calon sua…” jawaban Nita terhenti. Ah, apa aku belum kasih tahu kalau aku akan menikah?” tanya Anita mengalihkan. Ada guratan yang berbeda di wajahnya.

“Kamu akan menikah?” tanyaku sambil menatap matanya.

Tiba-tiba aku merasa bersalah.

“Iya. Maaf…” ucapnya.

“Sudahlah. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua yang terjadi adalah kesalahanku. Kamu berhak untuk hidup bahagia” ucapku sebelum akhirnya kita sama-sama pergi sambil mengenang masa lalu yang kelam

***

Ditulis oleh Dhara dan Elbuy

Sepertinya, cerita pendek alias cerpen muslimah di atas sedikit mengernyitkan dari pembaca dengan membaitkan pertanyaan, “Bagaimana cara jilbab wanita muslimah itu bisa tertinggal di tas pria muslim, yang ternyata adalah masa lalunya?” Mungkin perlu dijelaskan pada cerpen muslimah berikutnya.

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Saranghaeyo, Mbak Cantik

Posted at Juli 7, 2019

Tiba-tiba saja sepeda motor yang di kendarai berhenti di ujung jalan. Meski telah di starter ulang, matik hitamnya tetapi tidak menyala. Berhubung hampir terlambat,... Read More

Cerpen “Clara”

Posted at Juli 6, 2019

Aku menghadirkan cerpen fiksi “Clara”. Entah, dalam cerpen fiksi ini, cerita tentang apa yang dihadirkan. Aku membaca seklias, cerpen fiksi ini berisikan seputar impian.... Read More

Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Posted at Juli 1, 2019

Cerita fiksi Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda melengkapi cerita fiksi sebelumnya, dalam arti masih berkaitan dengan tema cinta. Cerita fiksi dibuat setelah... Read More


error: Content is protected !!