HOME

Cerpen Tentang Ibu: Cahaya Dari Ibu

Posted at Juni 18th, 2019
cerpen tentang ibu

Cerita fiksi pendek atau biasa disebut cerpen ini menghadirkan cerpen tentang ibu. Cerpen ini menceritafiksikan seputar anak yang membenci ibu kandungnya karena sesuatu hal yang pada akhirnya menyesal.

Aku menilai cerita pendek alias cepen tentang ibu ini kurang memberikan alur yang lebih berwarna dengan latar-latarnya yang sebagai penghidup suasana cerita. Tentunya, sebagai pembaca cerpen tentang ibu dengan judul “Cahaya Dari Ibu” yang bisa menilai seputar kualitas cerpennya.

Mari menikmati cerpen tentang ibu dengan judul “Cahaya Dari Ibu” di bawah ini.

***

“Ah…” gerutuku kesal ketika ada orang yang membangunkanku.

Aku tatap kesal wajahnya.

“Ibu, ngapain sih bangunin Dian pagi-pagi gini? Dian kan masih ngantuk!” bentakku keras.

Tapi, Ibu hanya menghela nafas penuh kesabaran.

“Katanya hari ini Dian harus berangkat pagi ke sekolah” ucap bunda dengan suara lembutnya. Ya.. jadi bunda bangunin Dian pagi-pagi, biar gak kesiangan,” lanjut bunda sambil meraih selimutku kemudian melipatnya.

Selama ini aku memang selalu bersikap kasar pada ibu. Entah kenapa alasannya, sikap itu tiba-tiba saja masuk dalam diriku ketika ibu kandungku pergi di usiaku yang masih 11 tahun. Ia pergi meninggalkanku karena penyakit yang dideritanya. Akhirnya, ayah harus mencari pengganti seorang ibu untukku walaupun hanya hanya mendapatkan seorang baby sister. Aku tidak tahu apa yang membuatku sangat membencinya. Padahal dia baik, sabar, dan sangat menyayangiku.

Aku pandang ibu penuh rasa kesal karena masih berada di kamarku.

“Udah keluar sana! Ngapain juga ibu masih berdiri disini?” bentakku yang membuat ibu langsung berbalik dan keluar dari kamarku sambil menundukkan wajahnya.

Aku rebahkan kembali tubuhku begitu ibu menutup pintu kamarku.

Mataku terbelalak melihat jam dinding kamarku yang menunjukkan pukul 06.45.

“Haahh.. aku hampir telat, kurang 15 menit lagi… OMG….”

Aku langsung menyingkap selimutku dan langsung menuju kamar mandi. Setelah itu, aku ambil baju seragam yang tergantung di lemari. Aku terburu-buru memakainya. Sepatu segera dipakai dikakiku dan tas yang tergantung di belakang pintu kuambil. Kemudian aku langsung berlari keluar . Sesampainya di halaman depan, aku melihat ibu sudah hampir selesai menyiram bunga seperti biasanya.

Meski aku tahu saat itu ibu melihat kearahku, aku berlari kencang mengabaikannya. Aku berangkat tanpa pamitan pada ibu. ibu langsung ikut berlari mengejarku.

“Diandra, kamu belum sarapan sayang…..,” teriaknya sambil terus mengejarku.

Aku tidak pedulikan teriakannya. Dengan sengaja, aku langsung masuk ke dalam taxi dan menyuruhnya agar cepat melaju. Dari kaca spion terlihat ibu yang masih berdiri di pinggir jalan menatap taxiku dengan nafas naik turun. Terlihat jelas rona kesedihan di wajahnya.

Taxi-ku berhenti pas di seberang gerbang sekolah, aku melihat pintu gerbang sekolah hampir tertutup sempurna. Karena takut terlambat, aku langsung berlari menyebrangi jalan tanpa tolah toleh setelah membayar ongkos taxi. Tak kusadari sebuah motor sport merah sedang meluncur dengan kecepatan tinggi. Mendengar bunyi klakson yang begitu nyaring, spontan ku menoleh. Motor itu sudah dekat ke arahku, dekat, dan semakin dekat. Tiba-tiba tubuhku kaku. Aku berdiri mematung tanpa tahu harus bagaimana. Hingga akhirnya, oh Tuhan…. seseorang mendorongku hingga…

…..BRHUUUKK.

Aku merasakan wajahku terbentur keras dengan sebuah benda. Tapi aku sudah tidak bisa memastikan benda tersebut. Kepalaku sudah begitu sakit, terasa berat dan ngilu. Kurasakan darah mengalir dari kepalaku. Cahaya semakin redup, lalu, gelap.

***

Aku membuka mata, tapi gelap sepenuhnya, seperti ada sesuatu yang menutupi mataku. Tiba-tiba kepalaku dipegang dari belakang. Seseorang melapskan sesuatu yang meliliti kedua mataku. Aku mulai membuka mata. Pandanganku sedikit remang-remang. Ada cahaya yang terlihat, tapi tidak jelas. Aku merasa ada yang lain dengan mataku.

Kepalaku terasa berat.

Aku tidak bisa mengingat apa-apa. Yang aku ingat adalah aku telat datang ke sekolah.

“Diandra… kamu sudah sadar?” suara yang sangat aku kenali memanggil namaku. Ya, itu suara ayah. Terdengar suaranya sangat jelas di telingaku.

Aku coba membuka mata. Aku lihat ayah duduk di kursi sebelah ranjangku. Om dan tante berdiri tepat di belakang ayah dengan linangan air mata. Mereka ada disampingku. Tapi aku merasa ada yang kurang. Aku pandangi sekelilingku sekali lagi, benar ada yang kurang, tak ku temui orang yang kucari.

“P…p….paa….” panggilku pelan, suaraku hampir tak terdengar karena mulutku terasa kaku untuk berbicara.

“Iya sayang, ada apa? dokter bilang kamu jangan banyak bicara dulu…” tanya ayahku sambil mendekatkan wajahnya padaku, kedua tangannya masih menggenggam tanganku.

Aku merasa berbeda.

Kulihat wajah ayah dipenuhi rona kesedihan. Kedua matanya sembab dan memerah seperti habis menangis. Terlihat jelas bengkak di matanya. Aku heran dan merasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada ayah. Aku belum pernah melihat wajah sesedih ini lagi setelah kepergian ibu.

“Ah… mungkin ayah memikirkanku, makanya dia bersedih” ucapku dalam hati.

“Yah… Dian dimana?” tanyaku lagi kemudian.

“Sayang… kamu mengalami kecelakaan, dan koma selama 6 hari. Dian tidak ingat?” jawab ayah sambil membelai rambutku.

Aku hanya menggeleng.

“Sekarang Dian ada di rumah sakit” lanjut ayah.

“Oh ya, ibu kemana yah? kok tidak ada bersama kita?” tanyaku kemudian dengan kening berkerut.

Aku jadi heran sendiri. Padahal aku sangat membencinya. Tapi aku begitu tak kuasa menahan bibir ini untuk menanyakannya. Tiba-tiba ayah memelukku erat, tangisnya pecah di pundakku. Sejenak ada paerasaan takut yang menyelimuti hatiku. Aku menerka-nerka sebenarnya apa yang terjadi.

“Yah, ada apa?” tanyaku. ayah melepas pelukannya, menghapus air matanya, kemudian mencium tanganku.

“Sayang…. ibu sudah pergi dari kita, ibu pergi untuk selamanya,” jawab ayah. air matanya kembali mengalir.

Aku terkejut mendengarnya. Air mataku juga tiba-tiba mengalir. Entahlah, sekarang aku terlalu sayang ibu. Hatiku terasa sakit, sakiiiiiit sekali. Aku tidak mau kehilangan ibu. Tiba-tiba terbayang semua kelakuanku pada ibu selama ini. Terbayang juga sikap sayang penuh cinta ibu padaku. Air mataku semakin mengalir, dadaku terasa sesak.

“Sayang hari itu ibu datang ke sekolah dengan membawa makanan karena Dian belum sarapan. ibu berlari ke arah motor yang hampir menabrakmu. ibu mendorongmu, kamu terjatuh. Wajahmu membentur batu dan matamu tidak bisa diselamatkan. ibu tertabrak sepeda motor itu. Keluarga membawanya ke rumah sakit. Tetapi, ia meninggal dunia. Kamu masih hidup, Nak.”

ayah berhenti berkata, menghapus air mata yang sebenarnya masih saja terus mengalir. “Hanya 1 kata yang terucap dari bibirnya saat itu sayang…Dian… tolong donorkan mata ini untuk Dian yah. Itu kata terakhir dan permintaan terakhir ibu “.  Dadaku semakin sesak mendengarnya, aku sesenggukan sambail menutupi wajahku.

“Ya Tuhan… sebegitu besarkah cinta ibu untukku, hingga diakhir nafasnya hanya aku yang ada dalam pikirannya. Dia bahkan memberikan cahaya dunia (mata) padaku,” lirihku.

Ada rasa menyesal yang mendalam di hatiku. Aku bingung harus berkata apa.

“Ibu…!” teriakku sekuat tenaga. “ibu, hiks hiks hiks hiks hiks.”

Aku berharap bisa memutar waktu. Aku berharap bisa memulai kembali dari awal. Maafkan aku ibu, maafkan sikap kasar Dian selama ini…”

Hatiku ingin marah dengan kehilangan ini, tapi pada siapa? Aku hanya bisa menangis. Menyesal.

***

Hari ini adalah 40 hari setelah meninggalnya ibu. Saat ini aku dan ayah sudah berada di makam bunda dan ibu. Aku dan ayah menaburkan bunga di makam ibu. Ada desiran aneh di tubuhku.

“Bu… Dian sayang ibu, Dian rindu ibu…. semoga ibu damai di sisi-Nya. Ibu, Dian berharap bisa memulai dari awal. Dian pasti akan menyayangi ibu seperti ibu mencintai Dian. Dian menyesal… Dian menyesal, ibu… Maafkan Dian… maafkan kebencian Dian selama ini. Dan terima kasih karena telah memberikan mata ini buat Dian. Berkat cahaya mata ibu, Dian akan mampu meraih prestasi yang ibu dan ayah harapkan. Buat Dian, mata ini adalah cahaya dunia. Dengan kedua mata ini, Dian akan selalu melihat ibu dan ibu di mata Dian. Dian janji akan berubah bu. Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuk ibuku… amin.”

Aku dan ayah beranjak pulang setelah memanjatkan doa buat ibu dan ibu. Setelah kepergian ibu aku menyadari betapa kehadirannya sangat penting dalam hidupku, betapa kasih sayang dan cintanya sangat besar untukku.

Aku bahagia karena ayah dan ibu kini sudah menyatu dalam hatiku. “Terima kasih ibu… Semua ini karena cintamu.

***

Ditulis oleh Dhara

Apakah cerpen tentang ibu dengan judul “Cahaya Dari Ibu” sudah anda nikmati? Semoga anda bisa menikmati dengan suguhan cerita fiksi pendek alias cerpen di atas

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Cerpen Tentang Ibu: Cahaya Dari Ibu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cerpen Tentang Ibu: Cahaya Dari Ibu

Saranghaeyo, Mbak Cantik

Posted at Juli 7, 2019

Tiba-tiba saja sepeda motor yang di kendarai berhenti di ujung jalan. Meski telah di starter ulang, matik hitamnya tetapi tidak menyala. Berhubung hampir terlambat,... Read More

Cerpen “Clara”

Posted at Juli 6, 2019

Aku menghadirkan cerpen fiksi “Clara”. Entah, dalam cerpen fiksi ini, cerita tentang apa yang dihadirkan. Aku membaca seklias, cerpen fiksi ini berisikan seputar impian.... Read More

Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Posted at Juli 1, 2019

Cerita fiksi Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda melengkapi cerita fiksi sebelumnya, dalam arti masih berkaitan dengan tema cinta. Cerita fiksi dibuat setelah... Read More


error: Content is protected !!