HOME
Home » Buku Bercerita » Cincin Kawin Emas Hello Kitty Harapanku Dan Ikha

Cincin Kawin Emas Hello Kitty Harapanku Dan Ikha

Posted at Februari 19th, 2019 | Categorised in Buku Bercerita
Cincin Kawin Emas

Anak seorang Kiai sering dianggap mirip orang tuanya. Artinya, si anak memiliki keahlian yang sama. Aku sering mendapatkan banyak pertanyaan soal hukum Islam karena aku anakꟷkata orangꟷseorang Kiai. Kali ini, aku mendapatkan pertanyaan seputar bisnis perhiasan khusunya cincin kawin emas. Aku harus menjawab bagaimana? Aku tidak pernah belajar agama di pesantren. Aku hanya belajar agama di sekolah dan Bapak. Belajar bersama Bapak pun, aku tidak maksimal belajar, cuma Bahasa Arab dan Fathul Qorib. Aku lebih banyak belajar secara serabutan dengan prinsip kaidah dari NU Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tapi, mereka tetap menganggapku sebagai orang yang ahli agama, ahli hukum Islam.

Dalam kaidan agama, ada istilah “zalim”. Menurut Mbah Wikipedia, bukan dari Mbah Kiai, Zalim dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil. Bila aku menjawab pertanyaan soal bisnis cincin kawin emas di saat aku tidak memahaminya, ini dianggap zalim. Mengapa? Aku sudah meletakkan ucapan yang belum diketahui pada tempat yang seharusnya untuk ucapan yang sudah diketahui. Bagaimana bisa menjawab persoalan hukum bisnis cincin emas kawin di saat aku belum mendalami banyak kitab kuning?

Cincin Kawin Emas Adalah Simbolis Kecintaan”

“Maaf bro. Gue gak bisa jawab. Ke yang lain aja.”

“Kang, lu kan anaknya kiai. Ngerti lah soal hukum ini. Plis, lagi mendesak. Ini lagi transaki cincin kawin emas via online.”

“Tapi lu jangan anggap gue bisa ya kalau jawab. Kebetulan aja gue pernah denger masalah transaksi perhiasan yang mengandung emas. Gue denger dari Kiai Maman.”

“Oh, Kiai Maman. Okey, sejalur dalam akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.”

“Lu kan pinter, napa lu tanya ke gue?”

“Kagak banyak bro. Gue tanya yang gak gue bisa.”

“Nah lu tahu. Gue juga gak banyak tahu, ha ha ha…”

“Gimana?”

“Jadi begini.”

Tiba-tiba, ingatan keilmuan mengarah pada seorang kiai karismatik yang ada di Cirebon, Kiai Maman. Waktu itu, aku banyak mendengarkan pengajian beliau di radio saat belum banyak kesibukan. Sekarang, aku tidak mendengarkan pengajian beliau lagi dengan alasan malas. Namun, aku mengambil ilmunya dengan akhlak yang semoga terpuji. Salah satu ilmu yang masih teringat sampai sekarang adalah masalah cara transaksi perhiasan yang mengandung emas, salah satunya cincin kawin emas.

“Harus ada ijab-kobul seketika itu juga katanya.”

“Gmana dong kalau jual cincin kawin emas secara online? Kan tidak bisa seperti itu.”

“Mudah saja, asal lu mau nerapin atau kagak. Lu tinggal menjadikan orang terdekat elu sebagai wali, wakil dalam pembelian emas milik si pembeli. Jadi, si pembeli hutang uang untuk pembelian cincin pada si wakil tadi. Si wakil lah yang melakukan pembelian online.”

“Wah, bisa panjang ini urusan bila berurusan dengan online yang media penjualannya milik orang lain. Katakanlah gue berjualan cincin kawin emas di Tokopedia.”

“Hm… Kalau ini, udah tugasnya para ahli debat fikih.”

“Ya kang Ubay lah buruan gantiin Kiai Mamad.”

“Kalau udah ahli, dari dulu udah duduk menjadi pembicara fikih di acara haul almarhumin Buntet Pesantren.”

“Ha ha… Gak mondok juga ilmunya sudah jagoan.”

“Cincin Kawin Emas Menghadirkan Bahagia Kesatuan Cinta”

Aku ingin berbicara secara langsung dengan temanku. Sepertinya, komunikasi online kurang maksimal dalam membicarakan persoalan transaksi dan strategi bisnis perhiasan khususnya cincin kawin emas. Sebelum berbicara soal hukum bisnis cincin kawin emas, temenku sudah berkeinginan bertemu membicarakan bisnisnya. Ia tidak hanya ingin mendalami hukum penjualan perhiasan, cincin emas kawin. Ia pun berkeinginan membahas strategi bisnisnya. Temanku bernama Yudi, teman satu bisnis di pemasaran jaringan.

Aku harus menemuinya di kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon untuk menemui Yudi. Sebenarnya, aku berniat ke Cirebon untuk membeli beberapa buku. Kebetulan ke situ, aku ingin bertemu Yudi.

Kebetulan Yudi melanjutkan kuliah S2 di IAIN, mengambil program studi Pendidikan Agama Islam. Waktu masih S1, ia mengambil fakultas Pendidikan dengan jurusan Matematika. Sedangkan aku, ah, aku cuma mengambil gelar S1, Sarjana Pendidikan, tanpa banyak ilmu yang didapatkan.

Kenangan masa lalu terkenang kembali di tengah obrolan masalah hukum bisnis perhiasan khususnya cincin kawin emas.

“Kang, calon elu mana? Nih lagi bahas cincin kawin emas ya, jangan baper,” tanya Yudi seakan menyudutkanku.

Salah satu temannya diam melihat obrolan. Aku diamkan dahulu.

Oh ya Kang, ini kenalin Zaki, klien yang mau beli cincin kawin emas ke gue tapi buat dikirim ke suadaranya yang ada di Sukabumi.

“Oh Zaki,” sambutku. Aku bersalaman. Zaki adalah teman baik Yudi sekaligus satu kelasnya di fakultas Pendidikan, jurusan Matematika.

Oh ya, elu sendiri mane calonnye? Kenape juge tanye? Jangan baper nih liat cincin kawin emas, ha ha.”

“Wih betawi punye. Calonya orang betawi? Kapan cincin kawin emas dipasang?”

“Ribet ama yang jauh. Bukan ribet karena gue kerja di Cirebon dan dia di Jakarta. Rumah gue jelek. Gue menduga dia gak bakalan betah tinggal di rumah gue. Dia kan orang tajir, gak biasa tidur di tikar,” keluhku.

“Jangan duga gitu sih kang. Gak semua orang kaya gitu. Buktinya santri-santri dari Buntet Pesantren banyak orang kaya. Para santri terbiasa tidur sembarangan.”

“Ah elu, Yud. Dia gak betah bukan karena rumah gue jelek doang. Dia gak betah karena jauh dari teman-temannya. Cewek lah lu ngerti sendiri. Ah, pasti dia nangis-nangis minta pulang.”

“Percaya Kang Ubay mah, bisa tinggal dimana saja. Secara, raja online. Omset puluhan jetiii. Bisa lah nurutin istri.”

“Bisa sih bisa. Tapi gue punya toko. Siapa yang jaga? Gue pindah, ibu gue sendirian. Di rumah cuma gue doang. Adik-kakak gue udah pada pergi dari rumah, hidup bersama pasangannya masing-masing. Adik yang satu masih sakit, masih dirawat di Cikampek. Lagian gue udah bertekad untuk tinggal di sini.”

“Jangan terlalu ketat ama prinsip Kang.”

“Masih nyaman mempertahankan prinsip.”

Oh gitu. Gua juga ama orang jauh. Ya gitu lah Kang, LDR an.”

“Cincin Kawin Emas Memberikan Sebuah Harapan Masa Depan Cinta”

Yudi menceritakan pengalaman kegagalan memberi cincin kawin emas untuk calonnya. Sebelumnya aku tidak tahu untuk masalah ini. Ia bercerita bahwa sesudah pertunangan, cincin bergambar Hello Kitty akan diberikan untuk calonnya. Maklum, seorang pedagang cincin kawin emas pasti sudah menyiapkan lebih awal cincinnya. Kegagalan menikahi alias mengawini beberapa cewek memang sudah sering ia keluhkan padaku. Tetapi, kali ini, ia tidak menceritakannya.

“Tumben lu baru cerita. Padahal kita sering ngobrol online. Kita sudah bekerjasama dengan baik dalam bisnis penjualan novel tahun lalu. Siapa sih dia?”

“Gue malu Kang. Seorang pedagang cincin kawin emas gagal memberikan cincinya. Kali ini, patah hatiku terlalu dalam. Aku belum bisa move on.”

“Yang LDR-an itu?”

“Bukan. Itu mah lagi perkenalan doang. Sudah satu tahun gue gagal kawin ama orang yang paling gue cintai. Bukan persoalan gagal beri cincin kawin emas doang. ”

Yudi tidak melanjutkan cerita seputar cewek yang gagak diberi cincin kawin. Namun ia mau berusaha menjalani bersama cewek yang baru.

Aku membahas persoalan Ikha dan cinta Yudi sambil melihat cincin kawin emas bergambar Hello Kitty. Perasaanku ikut melemas seperti Yudi seiring melihat cincin kawin emas.

“Ya Allah, aku mencintai Ikha. Tapi, aku bingung, berumah tangga tidak melulu soal cinta,” kataku dalam hati.

“Cincin Kawin Emas Mengajarkan Kita Bahwa Cinta Harus Disatukan Perkawinan”

Aku seperti gak cocok bersama Ikha untuk berumah tangga. Apalagi Ikha, masih belum menerima hadirku gara-gara aku hadir di dunia live streaming. Ikha bertekad tidak mau cari jodoh temen live streaming. Bahkan dia sudah berjanji demi mendapatkan keadilan cinta bahwa dia tidak akan menerima temen cowok di live streaming. Begitulah, cewek kalau sedang naik daun, laku. Dalam hati, Ikha sebenarnya menerimaku apa adanya. Ikha menyukaiku. Tapi aku serahkan semua takdir jodoh pada Allah.

“Kacau ya Kang. Apa gak mau ganti yang lain?”

“Entahlah. Aku lebih bahagia menanti siapa jodoh Ikha. Toh, dia juga gak mungkin selamanya gak kawin.”

Obrolan antara aku, Yudi dan Zaki berujung pada permasalahan inti.

“Untuk masalah enih, elu udeh paham dah ye… Cincin kawin emas entu kagak boleh dijual dengan sistem tunda transaksi.”

“Iye, iye Kang. Paham dah,” kata Yudi yang berasal dari Indramayu dengan logat ala betawi.

“Jadi, Zaki harus punya uang buat beli cincin kawin emas buat sodara elu yang ada di Sukabumi.”

“Masalah itu, Mas. Gue kagak punya uang,” jelas Zaki.

“Ya sodara elu kirim lah uang ke elu,” pintaku.

“Kalau sodara gue punya uang juga, ngapain jauh-jauh kesini, Mas, ha ha…,” alasan Yudi.

“Ha ha ha…” kita tertawa bareng.

Haduh, hidup. Mereka membantu di saat mereka sendiri kesulitan. Padahal, mereka bisa mengakui kalau dirinya sedang sulit. Ya, pengakuan atas ketidakmampuan memang sulit.

“Terus, elu jadi kagak beli cincin kawin emas?”

“Jadi lah. Kan gue belum jelasin, Mas. Gue udah utang ke Yudi. Masalahnya, Yudi belum memberikan uang pinjaman. Yang gue tanyakan, gimana cara transaksinya?”

“Ini muter-muter gini gimana nih Yud? Bikin perut gue kaku aja. Lucu.”

“Ya, gimana Kang Bro. Hukumnya penjualan cincin kawin emas untuk klien gimana?”

“Ya simpel lah. Elu juga udah tahu.”

“Gue ambil berkah dari anaknya kiai aja lah.”

“Hm…”

“Cincin Kawin Emas Sebuah Ikrar Jalinan Cinta”

Sebenarnya simpel untuk masalah penjualan cincin kawin emas yang uangnya dari si penjual cincin kawin emas. Sekalipun hal ini agak aneh dan lucu. Si Zaki meminjam uang terlebih dahulu pada pedagang, Si Yudi. Teori pada umumnya adalah si pembeli membeli cincin kawin emas secara kredit. Karena penjualan emas, dalam hal ini cincin kawin emas, tidak boleh bersistem kredit, pembeli bisa berhutang uang untuk membeli cincin kawin emas. Inti dasarnya adalah “hutang uang” untuk membeli cincin kawin emas dari atau ke siapapun.

“Masalahnya sekarang, penjualan cincin kawin emas lewat media marketpace seperti Tokopedia, Bukalapak dan sejenisnya,” keluhanku.

“Terus gimana?” Kagak ngerti.”

“Pada intinya, kembali ke teori menjualan cincin kawin emas yang sudah aku jelaskan.

Jam sudah menyuruh kita untuk berhenti mengobrol walaupun masih ada setengah jam untuk melakukan solat Jum’at. Aku berhenti karena obrolan seputar bisnis, transaksi cincin kawin emas dan lainnya sudah selesai dibahas. Seorang Yudi tidak akan puas sampai di sini kalau membahas masalah bisnis. Tetapi, aku harus berhenti. Aku tidak mau menyiapkan waktu untuk solat Jum’at di sini.

Aku teringat sekali ungkapan pribadi sang Khotib pada Khotbah Jum’at. Khotib itu mengungkapkan isi hatinya atas fitnah korupsi dirinya. Atas kejadian itu, aku menyesalkan bahwa khotbah jum’at bisa untuk seenaknya mengungkapkan perasaan pribadi. Waktu itu, aku masih berkuliah di kampus IAIN Cirebon. Bukan masalah khutbah seperti itu saja yang aku permasalahkan. Khutbah lama juga dipermasalahkan. Khotbah jum’at ada setengah jam lebih. Jadi, selama kuliah, aku disuguhi khotbah jum’at panjang. Sudah panjang, isi khutbah lebih ke pengungkapan perasaan pribadi, seperti seputar masalah fitnah korupsi atas si khotib. Ini masih mending. Lebih parah, Khotbah Jum’at bernada provoksi menjelek-jelekkan orang lain.

Waktu solat jum’at datang.

Selama menjalankan solat jum’at di masjid lain, pikiran selalu dihantui dengan cincin kawin emas. Berkali-kali nafasku sesak bila membayangkan cincin kawin emas. Apalagi, cincin emas tadi bergambar Hello Kitty. Ya salam, kenapa Yudi memamerkan cincin kawin bergambar Hello Kitty? Aku selalu tidak fokus mendengarkan khotbah dan solat jum’at. Apalagi, kondisiku selalu mudah tidak fokus bila menjalankan solat.

“Ya Allah, jodoh atau tidak jodohku bersama Ikha, berikanlah kehidupanku dan Ikha penuh amal kebaikan yang semata-mata dijalanmu. Amin”

Sudah lama, aku tidak menjalankan solat Jum’at di kampungku. Intinya, aku jarang menjalankan solat Jum’at di kampung. Terlebih, semenjak masuk sekolah SMA, aku tidak lagi menjalankan solat Jum’at di masjid jami’ Buntet Pesantren. Padahal, masjid Buntet Pesantren sesuai keinginanku yaitu tidak lama dalam berkhotbah dan tidak memakai bahasa Indonesia.

Bapak pernah menyuruhku untuk kembali lagi solat Jum’at ke masjid Buntet Pesantren. Tetapi, karena aku bandel, tidak mendengarkan dan tidak memahaminya, aku tetap berjum’at di masjid tetangga. Sampai aku bermimpi untuk berpindah solat Jum’at ke masjid Buntet Pesantren. Dalam mimpi, aku berjalan penuh kesombongan dalam menjalankan solat Jum’at di masjid Buntet Pesantren. Kalau mimpi seperti ini, aku tidak berani menuruti mimpi. Ketika Bapak meninggal, aku baru menjalankan perintahnya, solat Jum’at di masjid Buntet Pesantren.

Badanku agak lemes karena memikirkan masalah hubunganku dengan Ikha. Tetapi, aku harus berjalan kaki menuju Grage Mall dengan rasa penuh putus asa. Lagi pula, aku sudah sering berjalan kaki jauh dari kampus ke Grage Mall.

Aku harus berjalan untuk menghilangkan pikiran bermasalah ini. Dengan berjalan kaki, barangkali, aku seperti Nabi Adam yang dipertemukan Siti Hawa. Konon, Nabi Adam AS berjalan penuh rasa pertobatan pada Allah sambil mencari pendamping hidup yang terpisah. Aku ingin seperti Nabi Adam yang pada akhirnya dipertemukan dengan Siti Hawa. Artinya, aku bisa menemukan jodoh yang aku inginkan. Apakah Ikha adalah jodohku?

Cincin Kawin Emas Bukan Alat Transaksi Tetapi Alat Menukar Cinta

15 menit berlalu.

Selama perjalanan, baru kali ini aku merasakan getaran yang tidak bisa aku pahami. Getaran ini membuatku lemas. Sepertinya, aku harus menghentikan perjalanan.

Aku harus berhenti di rumah makan dekat kampus Unswagati. Tetapi, aku cuma beristirahat, tidak sampai makan. Aku banyak pikiran sampai perutku selalu seperti kenyang. Padahal, perutku cenderung lapar.

Namun, aku terkejut ketika aku menengok.

“Ikha!”

“Ubay! Ubayuuun!!!”

“Ikhsunsuuuun!!!”

“Ikha! Sue lu, kenapa ada disini?”

“Dih, lu yang sue. Napa lu ke sini? Ih nyebelin. Napa sih lu selalu muncul dimanapun?”

“Eh, gue baru ketemu elu. Baru kali ini. Emang lu nemu gue dimana aje?”

“Di empang, di got, di jemuran, di kali ciliwung, di tong sampah. Pokoknya gue selalu nemu elu di tempat gituan, ha ha…”

“Eh gue nanye. Serius nape.”

“Eh, gue kaget tau. Lu kayak hantu. Diih, padahal gue gak hubungin elu. Napa elu tiba-tiba di sini? Ih, sebel sebel.”

“Sebel sih sebel. Gak usah pake cubit! Sakit tau!”

“Kaget! Ih sebel.”

“Aku juga kaget… Mau akting meluk kayak film india, gue belum kawin ama elu. Sue lu.”

“Coba mana ekspresi kagetnya.”

Aku coba membentangkan tangan dan mendekat. Ikha langsung menyiapkan aba-aba kepalan tangan seperti untuk memukul.

“Nih, tangan udah ngepel.”

“Ha ha..”

Seharusnya, aku tidak melakukan ekspresi seperti ingin memeluk walaupun tidak sampai menyentuh. Banyak cowok mengatasnamakan bercanda dalam mencoel-coel tubuh cewek atau seperti sikapku tadi. Pada akhirnya, sikap bercanda itu menjadi sebuah karakter sendiri sehingga bisa dengan mudah meremehkan cewek.

Ikha memang cewek solehah. Arti solehah di sini adalah Ikha tidak pernah tersentuh tangan cowok sekalipun sering gonta-ganti pacar. Artinya, Ikha tidak memberikan kesempatan pada hasrat-hasrat cowok. Sebenarnya, pacaran bersama Ikha seperti sia-sia saja. hubungan obrolannya sebatas lewat ponsel. Keluarganya memang disiplin memantau anaknya dalam pergaulan. Dari kecil, Ikha tidak bisa bebas bermain ke luar rumah. Kalaupun main, teman-teman Ikha yang mengunjungi rumah Ikha. Bagaimana mau bebas bergaul apalagi berpacaran kalau Ikha memang ketat dalam pengawasan keluarga?

“Kabur lu ya?”

“Ih, enak aja. Kagak.”

“Udah lah, lu kabur karena ingin ketemu gua kan?”

“Ogah, dih. Sotoy amat jadi orang. Sok tahu lu.”

“Iye, lu makanye jawab. Susah amat sih.”

“Ogah. Elu dulu yang jawab. Tega banget maksa. Marah lagi dih.”

“Cincin Kawin Emas Sebagai Bukti Aku Mencintaimu dengan Kehalalanmu Untukku”

“Ikha ikha, lu napa sih selalu nafsiri sikap pertanyaan gue identik marah? Gue gak marah. Gue kaget. Gue gak habis pikir. Dari ke kampus sampai ke sini, gue mikirin elu. Temen gue jual cincin kawin Helo Kitty. Gue inget elu. Elu suka banget gambar Hello Kitty. Gue inget aktifitas elu di Kitty. Gue gak bisa ngapa-ngapain mendapatkan elu yang gue cintai. Gua tadi cuma berjalan pasrah sambil berdoa Nabi Adam.”

“Rabbanaa zholamnaa anfusanaa wa illam tagfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin,” kata Ikha menambahkan maksud doa Nabi Adan.

“Iya.”

“Terus?” tanya Ikha penasaran.

“Tiba-tiba ada getaran yang belum pernah gue rasain. Ternyata, gue berjumpa ama elu, Kha. Ya Allah. Rindu berat ingin bertemu terwujud. Bayangkan, gue ke Jakarta, elu tolak mentah-mentah. Padahal gue mau ketemu sekali doang, cuma kasih surat saham. Mumpung ada acara kawinan sepupu gue. Itu kesempatan terakhir gue ke Jakarta. Hidup gue gak mau ada urusannya ama Jakarta kecuali ketemu elu dan kawin ama elu.”

“Emang gue hewan, dikawini?”

“Ah elah, kawin artinya mulia walau bisa untuk hewan. Guru biogoginya aja salah. Masak kawin identik buat hewan?”

“Sombong lu gak mau ke Jakarta. Awas lu kalo kesitu, gue tindes pake give mobil.”

“Happy land gimana kabarnya?”

“Udah diancurin satpol PP, ha ha…”

“Lu gak laper? Haus? Yuk Makan.”

“Lagi gak enak makan. Gue masih kaget ketemu elu. Kok bisa gini sih?”

Di bangku panjang, aku dan Ikha mencurahkan isi hati. Kebetulan, bangku ini hanya kami berdua yang duduki.

Aku ingin berpindah tempat sebenarnya. Tetapi Ikha tidak merasa lapar dan haus. Karena cuaca panas, akhirnya Ikha menurutiku keinginanku. Aku makan, Ikha sekedar meminum air dingin . Kami berpindanh tempat untuk mencurahkan isi hati sambil menikmati makanan dan minuman.

Kami berdua seperti mendapat sinyal untuk berjodoh. Tetapi, melihat fakta yang ada, jauh dari sinyal berjodoh. Secara perasaan, kami sudah ada kecocokan. Kami saling mencintai, menyayangi, saling memberi-menerima. Tetapi, wilayah dan prinsip hidup, kami banyak ketidakcocokan. Kawin bukan melulu persoalan perasaan. Kawin berurusan dengan kecocokan juga. Tetapi, entah bagaimana jawaban takdir jodoh?

“Makanya gue kesini, gue sangat nyesel nolak elu ketemuan. Habisnya, elu norak. Masak baru pernah ke Jakarta bangga. Gue kan bingung kasih tahu elu gimana jalurnya. Gue juga gak tahu harus gimana. Gue kan orang perumahan. Masak gue nanya-nanya orang? Sue banget sih lu.”

“Terus, napa lu gak bilang ke gue?”

“Ih bukan gak mau gilang. Kan gue mau kasih kejutan. Ogah gue umumin.”

“Tapi gak harus cara kabur gini dong. Elu minta restu ama ortu.”

“Gue kagak kabur, oneng. Dibilangin lu selalu bikin gue kesel. Kalau gue blak-blakan, mana bisa diizinin. Makasih kek, gue udah bela-belain ke sini.”

“Gue ngeselin tapi nganginin.”

Dengan cepat, tangan Ikha menjulur. Aku tidak sempet menghindar.

“Aw!!! Sakit tau,” teriakan lembutku atas cubitan Ikha.

“Aku Membisu Dan Cincin Kawin Emas Yang Berbicara Sepenuh Keseriusanku”

“Habisnya bingung. Lu malah gak pernah mau ngerti isi hati gue. Ya udah, gue kasih alasan ke ortu buat main ke rumah temen selama seminggu. Ya emang ke rumah temen. Tapi kan habis ini, gue ngajak temen buat ke Cirebon. Kan gak kabur. Niatnya tuh mau hubungin elu, buat suprise. Eh, malah gue yang di-suprisin. Kesel gue.”

Aku tertawa tertahan melihat curhatan Ikha.

“Apa lu! Sue lu.”

“Terus mana temen elu?”

“Masih di hotel. Tadi sih masih tiduran. Deket kok hotelnya.”

“Seneng kan lu ketemu gue?”

“Apaan sih Ubay. Kagak seneng. Ogah!!!”

Aku menatap Ikha penuh kelembutan. Ikha tersenyum dengan penuh rasa malu. Mukanya terlihat seperti merona. Ikha bingung, salting melihat tatapanku. Aku menggoda terus dengan senyuman dan tatapan. Ikha malah makin bingung. Ia mau seperti melempar dengan tisu bekas membersihkan bibir seksinya itu tetapi ia mengurungkannya. Aku menyudahi tatapan dan senyuman menggoda padanya.

Aku mencoba memulai percakapan kembali. “Terus gimana kelanjutan hubungan kita?”

“Selagi elu kekeh ama prinsip elu, gue gak bisa. Gue juga punya prinsip yang sama. Kita sama-sama ingin mengurus ortu. Ortu gue lebih parah, keduanya sakit. Nah elu, ibu elu masih bisa berjalan. Aneh, lu masih tetep ngeyel.”

“Nanti aku pertimbangkan.”

“Gak mau ditimbang-timbang. Pokoknya elu harus tinggal di rumah gue.”

“Beri gue kesempatan ngomong. Rumah gue jelek ya? Iya, rumah gue jelek. Kamar gue sempit, bau dan gak empuk buat kita tidur berdua, ha ha ha…

“Ih…”

“Bentar dulu. Kamar mandi juga jorok, bau juga. Makanan ibu gue juga gak enak. Orang tua gua mah mah kasih rumahnya gitu, gak seindah dan sebagus rumah elu.”

“Gak gitu dih.”

“Bentar dulu. Kakak gua juga nyuciin baju di sungai. Ibu gua juga dulu nyuci di sungai. Gue salah satunya yang bawa jemuran dari sungai. Gak model elu, pake mesin cuci, air bersih. Gue mah orang kampung.”

“Iiiih, udah deh.”

“Bentar dulu. Gue tahu, lu gak bakal sanggup tinggal di rumah gue. Gue mah enak kalau tinggal di rumah elu.”

“Gak gitu ah. Udah deh, terserah elu. Gua lagi gak mau bahas prinsip elu.”

Beberapa puluh menit kemudian, aku, Ikha dan temannya pergi menikmati kota Cirebon. Terutama, kita pergi ke Grage Mall. Aku mau membeli beberapa buku di Gramedia yang ada di Grage Mal. Mereka berdua menikmati sekali perjalanan ini. Ya, karena mereka tidak mengeluarkan uang sama sekali. Uangku yang berkurang drastis. Tetapi, aku sengaja ingin menghabiskan banyak uang dalam sehari untuk menyenangkan Ikha.

Ikha menanyakan kembali persoalan cincin kawin emas milik temanku. Ia berniat membeli cincin berlogo Hello Kitty. Tetapi, Ikha menginginkanku membayar pembelian cincin kawin emas untuknya. Itu sama saja, aku membelikan cincin kawin emas untuknya. Tetapi Ikha tetep kekeh kalau dirinya membeli walaupun uang dariku. Katanya, kalau aku membelikan cincin kawin emas makai uangku, ia akan memberikan 10% saham dirinya seperti halnya aku memberikan 30% saham untuknya. Padahal, saham yang Ikha berikan berasal dari sahamku juga. Hadeh, intinya sih Ikha mendapat saham cuma 20% karena 10% buatku.

“Aku Ingin Cincin Kawin Emas Sebagai Saksi Cintaku Padamu”

Aku menertawai sikapnya. Ikha pun tertawa. Tidak lupa, temennya yang bernama Wilda pun tertawa.

“Lu pada ngetawain gue mulu. Ayo dong Ubay, ehe. Beliin cincin kawin emas.”

“Ya udah. Sekedar beliin cincin kawin emas ya. Kalau buat mas kawin, nanti lain lagi.”

“Beli yang banyak. Gue mau buka toko online cincin kawin emas motif Hello Kitty.”

“Jadi ceritanya ada proyek besar minta dibeliin cincin kawin emas? Cerdas sekali otak lu, ha ha…”

“Kha, lu serius mau buka toko emas cincin kawin?” tanya Wilda.

“Serius lah. Kan ada bos menter. Iya kan bos? Terus mana temen elu yang jual cincin emas kawin. Gue mau tanya belanjanya dimana.”

“Ngapain tanya ke dia. Gue aja kali.”

“Cieh cemburu. Oke deh. Atur Ubay, atur.”

Aku menjelaskan bahwa jual-beli cincin perhiasan khususnya cincin kawin emas secara online harus menggunakan toko online pribadi. Di samping nilai kepercayaannya jauh lebih tinggi, penjualan cincin kawin emas memang tidak bisa sistem pending. Penjualan online cenderung ada sistem pending. Kalau menggunakan situs toko online pribadi, sistem pending bisa diatasi dengan menghadirkan “wali” dalam penjualan cincin kawin emas. Tetapi, bagaimana bisa menggunakan situs marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, Sophee? Situs marketplace tidak bisa menghadirkan seorang wali. Memang, situs marketplace menghadirkan tim sebagai pihak ketiga. Tetapi, pihak ketiga itu tidak bisa dijadikan wali demi terhindari dari sistem pending.

“Kan ribet kalau buat situs toko online sendiri. Mahal juga. Masak baru buka udah keluar modal banyak.”

“Ya bagaimana? Pihak ketika tidak bisa dijadikan wali dalam penjualan cincin kawin emas. Kalau sampai ada sistem pending dalam jual-beli emas, masuknya riba, katanya.”

“Kata siapa?” tanya Ikha

“Kata Kiai Maman.”

Aku melihat banyak sekali penjualan cincin kawin emas secara online. Rata-rata mereka menggunakan sistem pending transaksi. Seharusnya, transaksi dilakukan seketika itu juga, baik penyerahan uang dan cincin kawin emas. Bagaimana bila status penjualan tersebut masuk bab riba? Pembahasan riba memang menyeramkan. Berarti, semua penjual cincin kawin emas bisa dihukumi pelaku riba. Apakah seperti itu? Aku belum bisa memahami dan tidak mau memahami. Bila sudah terlanjur banyak pedagang cincin emas kawin sistem pending, pengeluaran fatwa harus lebih hati-hati.

Terlebih, mereka menjual cuma perhiasan khususnya cincin walaupun berisi emas. Kebutuhannya juga untuk cincin kawin. Kasus riba terjadi ketika menjual alat tukar atau sistem pending ketika melakukan penukaran uang. Terlebih lagi, emas bukan lagi menjadi alat tukar. Emas tidak lebihnya seperti batu alam lainnya yang memiliki nilai jual berdasarkan mata uang. Memang, dahulu emas menjadi alat tukar. Sekarang, emas menjadi produk penjualan seperti cincin kawin emas. Maka dari itu, menghukumi riba atas pembelian dan penjualan cincin kawin emas sistem pending tentu perlu dihindari. Sepertinya, begitu.

“Entah lah, aku belum mengobrol langsung ke Kiai Maman atas masalah penjualan cincin kawin emas.”

“Jadi boleh dong nanti jualan cincin kawin emas berlogo Hello Kitty? Gue seneng.”

“Mau dong jadi wali penjualan cincin kawin emas elu.”

“Boleh, boleh. Bisa, bisa. Sini jari elu, Kha.”

“Mau Kah Kamu Menikah Denganku Dengan Cincin Kawin Emas Hello Kitty Ini?”

Di depan pedagang cincin kawin emas, aku secara spontan memasukkan cincin berlogo Hello Kitty ke jari Ikha. Dengan penuh penghayatan, aku mencoba dengan pelan memasukkan cincin ke jarinya. Ikha pun khusyu menandang proses memasukkan cincin kawin emas. Ia mengusap air matanya yang sudah tidak bisa tertahan di mata. Sekarang, Ikha memasukkan cincin kawin emas di jariku. Wilda sebagai wali menyaksikan drama cincin kawin emas penuh haru ini. Sebenarnya, aku sendiri ingin menangis tetapi bisa aku tahan.

“Hm… Kita tunangan?” tanya Ikha.

“Gak ada istilah tunangan. Ini simbolis kalau aku mau serius. Tunggu keluargaku ke situ,” jawabku.

“Februari love nieh,” sela Wilda

“Gue gak kenal valentin, gak ada Februari cinta,” sanggahku.

“Kha, Pokoknya, kita singkirin dulu perdebatan. Nanti debat kembali saat kita sudah kawin. Bila perlu debat sambil cakar-cakaran lembut penuh sayang, hi hi… Setuju?” lanjutku.

“Ih, cakar-cakaran apaan sih? Iya setuju. Apa lagi?”

“Habis ini, kamu pulang. Aku pulang. Jangan diulang lagi cara konyol gini.”

“Ih… sue lu.”

“Udeh, gak usah tegang.”

“Hm… makasih cincin emas Hello Kitty-nya ya,” kata Ikha penuh bahagia tebar senyum.

“Hm…” kata ekspresiku.

“Hm…” sela Wilda.

“Hm…” kita semua bilang ‘Hm’.

Aku dan Ikha memaksakan diri merencakan untuk kawin alias nikah. Aku dan Ikha tidak peduli bagaimana nasib masa depan. Aku dan Ikha lebih melihat keselamatan batin kita masing-masing. Terpenting, batin kita sekarang senang, bahagia dalam merencanakan perkawinan. Tentunya, aku akan memberikan cincin kawin emas Hello Kitty yang lebih mahal lagi nanti.

Aku akan tulis sejarah keajaiban penuh cinta ini tanpa ada seorang pun yang melarang. Aku menulis tentangmu bersamaku. Cinta terbaiku adalah ketika aku bersemangat menuliskan tentangmu. Bukan semata-mata proyek. Tulisan tentangmu bisa sebagai saksi bahwa cuma kamu cewek yang ada di hatiku sekarang ini.

No comment for Cincin Kawin Emas Hello Kitty Harapanku Dan Ikha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cincin Kawin Emas Hello Kitty Harapanku Dan Ikha

Ngidam Bakso Beranak Enak Dari Bisnis Ikha Jakarta

Posted at Februari 6, 2019

Aku dikejutkan dengan kehadiran mantan pacar Ikha di acara live streaming Kuttu malam itu. Mantan pacar itu satu komplek dengan Ikha, Jakarta. Setelah itu,... Read More

Dibalik Diet Berat Badan Ideal Ikha Dengan Susu Kedelai

Posted at Januari 31, 2019

Ikha ingin sekali memiliki badan yang kurus. Tetapi, aku lebih menyarankan Ikha memiliki berat badan ideal hasil program diet susu kedelai yang ada di... Read More

Sakit Hati Ikha, Sakit Hatiku

Posted at Januari 21, 2019

Aku masih memikirkan bagaimana rasa sakit hati di hati? Sebagai manusia biasa, aku pernah merasakan kondisi dimana hatiku merasa tidak tidak enak akibat omongan... Read More

Ikhlas Dan Sabar: Kemenanganku Atas Kalahku

Posted at Januari 1, 2019

Inilah kisah sederhana yang aku racik. Saking sederhananya, tidak pernah kulempar pada siapapun termasuk sahabat karib. Keajaiban aku temukan dalam kisah ini, setidaknya keajaiban... Read More

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More


error: Content is protected !!