HOME

Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Posted at Juni 24th, 2019
daur ulang sampah plastik

Selama menulis tulisan untuk kebutuhan jaringan blog PBN untuk situs buku cerita fiksi dan non fiksi, badanku terasa sakit. Karena itu, aku beristirahat lama. Aku tidak sempat menulis cerita fiksi ataupun cerita non fiksi. Setelah badan agak terasa lebih baik, walaupun masih pilek, aku mencoba mengurusi beberapa tulisan cerita. Aku ingin bercerita sederhana seputar daur ulang sampah plastik yang ada di area Buntet Pesantren.

Ah, lucu sekali bercerita tentang tulisan cerita. Ya sudah.

Aku menyadari, mengapa banyak orang yang sakit, terutama pilek di pergantian musim ini, tepatnya bulan Juni. Aku merasakan angin dan debu betebaran. Mungkin ini yang membuat tubuhku kedatangan tamu yang tidak diinginkan: ingus. Suasana dingin menyelimuti tubuh membuat badanku makin terasa tidak enak. Ya, mungkin banyak orang yang mengalami seperti yang aku alami.

Tetapi, aku bertanya, apakah faktor lingkungan bisa menyebabkan pilek? Aku sering berlalu-lalang ke area sampah, terletak di samping kuburan/makan area Buntet Pesantren Cirebon, untuk keperluan berbelanja pulsa dan vocer internet. Kalau pilek karena faktor lingkungan, aku sudah sering berlalu-lalang. Tetapi, yang aku alami, pilek parah terjadi tiap tahun, lebih sering pada bulan pergantian musim. Kalau di bulan 2019 sekarang, pilek terjadi di bulan Juni.

“Bukan Lagi Mentradisikan Buang Sampah Pada Tempatnya”

Aku merasa kondisi lingkungan Indonesia sudah memprihatinkan. Sudah memprihatinkan kondisinya, banyak negara luar meng-ekspor sampah ke negeri Indonesia. Ampun. Secara khusus, kondisi lingkungan memprihatinkan ada di area makan Buntet Pesantren: penuh dengan sampah. Sampah negara Indonesia pun bukan dalam bentuk fisik saja, melainkan sampah non fisik. Di sini, aku tidak sedang membahas persoalan sampah masyarakat sebagai sampai non fisik. Apa yang di maksud sampah non fisik adalah sampah digital, sejenis blog PBN atau dummy yang dibuat dengan asal-asalan, hasil tulisan spin atau copy-paste. Tetapi, dunia fisik tidak seluas dunia digital, sebenarnya. Jadi, persoalan sampah yang perlu diperhatian masyarakat Indonesia adalah sampah fisik, terutama sampah plastik.

Pada tahun lalu, tepatnya tahun 2018, para anak muda Buntet Pesantren menggerakkan sebuah program daur ulang sampai plastik yang ada di area Buntet Pesantren, tepatnya di area pemakaman. Tagline yang dibuat pun sangat menarik yaitu “orang beriman daur ulang sampah”. Spanduk bergambar santri di pasang dimana-mana mengenai kepentingan daur ulang sampai plastik. Spanduk itu pun dipasang di sekitar rumahku. Gerakan ini diupayakan membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sikap daur ulang sampah khususnya plastik dengan mencoba memisahkan mana sampah organik dan non organik. Gerakan itu diwujudkan dengan dibangunnya wadah untuk pegolahan sampah, ada alat suling dan alat giling sampah. Alat suling berguna untuk merubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Kalau mesin giling, ini untuk melembutkan sampah organik agar bisa dijadikan pupuk. Bahkan, adik kedua melakukan demontrasi bagaimana sampah plastik bisa dirubah menjadi bahan bakar. Ini sebagai bentuk gerakan program daur ulang sampah plastik dan sampah organik.

“Orang Beriman Daur Ulang Sampah”

Usaha gerakan program daur ulang sampai plastik Buntet Pesantren ternyata gagal. Faktor utama tentunya adalah kedisiplinan masyarakat. Di mana-mana, faktor sampah yang menggunung di mana-mana akibat ketidakdisiplinan masyarakat, seperti buah sampah sembarangan, malas memisahkan dari jenis-jenis sampah yang berbeda dan sebagainya, tentunya tidak ada niat untuk melakukan daur ulang sampah plastik atau organik. Kalau sudah gagal, bagaimana nasib sampah yang ada di area makan Buntet Pesantren?

Nasib sampah tetap tidak terurus dengan baik akibat gagalnya program daur ulang sampah plastik dan organik. Sampah-sampah terutama sampah plastik makin menutupi area jalan setelah melewati satu tahun. Dengan bantuan mobil keruk, sampah yang menutupi jalan dikeruk untuk dibuat gunungan. Sampah dibiarkan menggunung walaupun tidak lagi menghalangi area jalan. Sampah dibiarkan tanpa ada upaya pengangkutan. Tragisnya, kondisi ini sampai memasuki masa haul almarhumin dan warga Buntet Pesantren, tepatnya pada bulan April 2019. Sepertinya, pihak pemerintah daerah sudah tidak bisa mengangkut gunungan sampah plastik dan organik. Dengan terpaksa, di area itu dibuat pagar seng untuk sekedar menutupi sebagian gunungan sampah, walaupun tetap terlihat dari jarak yang agak jauh.

Menurutku, aktifitas daur ulang sampah memang paling penting, baik daur ulang sampah plastik, non organik pada umumnya dan juga sampah organik. Dibanding membuang sampah pada tempatnya, daur ulang sampai plastik dan lainnya jauh lebih baik dalam memiliki prinsip ‘membuang sampah pada tempatnya’. Kalau sekedar membuang sampah pada tempatnya, tempat sampah bisa penuh. Bila sudah penuh, harus bagaimana? Tragisnya, alur kerja membuang sampah memakai alur maju. Jadi, si pembuang sampah semakin ke area depan dalam membuang sampah sampai area belakang tidak terisi sampah lagi. Sia-sia saja membuat kotak khusus pembuangan sampah bila memakai alur kerja maju. Padahal, ini sesuai konsep ‘membuang sampah pada tempatnya. Menurutku, sekarang sudah tidak relevan lagi membuat sampah pada tempatnya, apalagi  untuk orang.

“Daur Ulang Sampah Lebih Dari Sekedar Membuang Sampah Pada Tempatnya”

Aku teringat sekali, aktifitas daur ulang sampah yang dilakukan almarhum Bapak. Karena itu, area pembuangan sampah selalu berkurang tiap waktunya. Sayangnya, daur ulang yang dilakukan Bapak tidak memenuhi aturan. Artinya, Bapak membakar terlebih dahulu sampah yang berisi campuran sampah. Setelah itu, bakaran sampah dikeruk untuk dibawa di area kebun miliknya. Kata Bapak, bakaran sampah ini digunakan untuk pupuk. Memang, tanah yang dikasih bakaran sampah dianggap paling subur. Hanya saja, di area kebun banyak plastik-plastik atau sampah non organik lainnya. Seperti yang sudah umum, sampah organik memang bisa hancur dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk sedangkan sampah non organik tidak bisa untuk pupuk sekalipun sudah terbakar. Begitulah Bapak yang kesehariannya selalu berurusan dengan sampah dan aktifitas daur ulang sampah.

Kalau tidak ada aktifitas daur ulang sampah walaupun sesederhana yang Bapak lakukan, minimal tempat sampah tetap selalu penuh sampah. Kalau sudah penuh, apakah masih bisa digunakan untuk pembuangan sampah? Otomatis akan mencari tempat baru dan seterusnya berulang-ulang. Biasanya, sungai-sungan menjadi sasaran pembuangan sampah kalau di tempat manapun sudah penuh. Alasannya sederhana, air sungai bisa membawa sampah menuju tempat yang jauh. Masalahnya, sampah akan berhenti pada arus perjalanan terakhir, baik di bendungan atau di laut.

Waktu berlalu, musim haul Buntet Pesantren pun selesai. Beberapa bulan sampai menuju bulan puasa, Buntet Pesantren mendirikan bank sampah. Ini sebagai upaya mematangkan program daur ulang sampah plastik dan lainnya. Aku memiliki harapan besar dengan kehadiran bank sampah walaupun aku tidak memahami bagaimana sih penanganan sampah-sampah yang ditampung bank sampah.

“Bank Sampah Sebagai Penyalur Sampah Daur Ulang”

Suatu ketika, aku menemukan tumpukan botol minuman plastik di kamar belakang, tempat penyimpanan barang-barang. Di sampingku, ada kakak yang menjelaskan maksud menumpukkan botol minuman plastik. Katanya, tumpukan botol minuman plastik akan dikirim ke bank sampah. Aku pun mengangguk pura-pura baru mengetahui. Kakaku meminta untuk membiarkan tumbukkan botol minuman plastik berada di kamar ini. Aku menyetujui. Nanti, botol ini akan di bawah ke tempat bank sampah. Aku mengingat-ingat, jadwal pengiriman biasanya dilakukan pada hari Jum’at dan Sabtu, dari jam 09.00.

Aku berpikir mengenai pengiriman barang bekas yang dibolehkan ke bank sampah. Aku bertanya kepada Kakak, bagaimana bila mengirim plastik keresek atau plastik lainnya? Kakak tidak mengegahui. Menurutnya, mungkin plastik keresek boleh dikirim asalkan semuanya kering. Menurutku, bila pengiriman plastik keresek dibolehkan di kirim ke bank sampah, ini akan sangat mengurangi sampah plastik di lingkungan Buntet Pesantren, tepatnya di samping makam. Apakah tujuan bank sampah sebagai penyalur sampah plastik aneka jenis asalkan kering? Kalau masalah botol minuman plastik, aku berpikir bahwa ini bisa dilakukan pemulung. Kalau plastik keresek dan sejenisnya, pemulung tidak bisa menerima ini dikarenakan tidak dibutuhkan untuk daur ulang sampah oleh pihak pengumpul. Kalau bukan bank sampah yang menerima pegiriman plastik keresek da sejenisnya, terus siapa?

Aku melihat perkembangan bank sampah yang ada di Buntet Pesantren. Beberapa orang memang mengirimkan sampah rumah tangganya ke bank sampah. Tetapi, aku tidak bisa mengharapkan bahwa bank sampah bisa mengurangi pembuangan sampah di area makam. Sebagian masyarakat tetap memilih membuang sampai di tempat sampah. Aku lihat, sampah tetap bertambah sedangkan bank sampah tetap sedikit mendapatkan stok sampah. Bagaimana cara merubah kebiasaan ini agar orang-orang jauh lebih memilih mengirim sampah ke bank sampah? Tentunya, merubah kebiasaan tidak semudah memindahkan sampah ke tempat sampah. Kalau bank sampah kalah jauh dari tempat sampah, ini bisa bernasib sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Tradisi Daur Ulang Sampah Berawal Dari Kesadaran”

Akan kah gunungan sampah tetap membekas dan makin membesar pada acara besar haul almarhumin Buntet Pesantren? Rasanya, aku ingin menciptakan alat daur ulang sampah campuran agar setiap gunungan sampah dilahap habis setiap setiap memasuki haul Buntet Pesantren.

Kini, aku melihat tempat yang dibangun khusus untuk kegiatan daur ulang sampah seperti membakar sampah menjadi minyak, menggiling sampai menjadi lembut agar menjadi pupuk. Tempat ini sudah penuh dengan sampah yang sudah menunjukkan warna seram hitam yang membuat mata pun enggan memandang.

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Saranghaeyo, Mbak Cantik

Posted at Juli 7, 2019

Tiba-tiba saja sepeda motor yang di kendarai berhenti di ujung jalan. Meski telah di starter ulang, matik hitamnya tetapi tidak menyala. Berhubung hampir terlambat,... Read More

Cerpen “Clara”

Posted at Juli 6, 2019

Aku menghadirkan cerpen fiksi “Clara”. Entah, dalam cerpen fiksi ini, cerita tentang apa yang dihadirkan. Aku membaca seklias, cerpen fiksi ini berisikan seputar impian.... Read More

Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Posted at Juli 1, 2019

Cerita fiksi Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda melengkapi cerita fiksi sebelumnya, dalam arti masih berkaitan dengan tema cinta. Cerita fiksi dibuat setelah... Read More


error: Content is protected !!