HOME
Home » Buku Bercerita » Ikhlas Dan Sabar: Kemenanganku Atas Kalahku

Ikhlas Dan Sabar: Kemenanganku Atas Kalahku

Posted at Januari 1st, 2019 | Categorised in Buku Bercerita

Inilah kisah sederhana yang aku racik. Saking sederhananya, tidak pernah kulempar pada siapapun termasuk sahabat karib. Keajaiban aku temukan dalam kisah ini, setidaknya keajaiban dari kacamata aku sendiri. Kisah di mana ikhlas dan sabar begitu susah dalam praktek namun jika telah merenggutnya sungguh luar biasa sensasinya.

Ikhlas dan sabar memang saling kait-mengkait. Makanya, aku masukkan kisah ini dengan penggabunan ikhlas dan sabar. Ikhlas sendiri adalah menerima apapun takdir Tuhan. Sedangkan sabar adalah mencoba menahan dari sesuatu hawa nafsu. Menurutku, hati ikhlas ada dalam hati penuh sabar. Bahkan, tidak ada hati sabar bila tidak ada hati ikhlas. Ikhlas dan sabar memang tidak bisa dipisahkan.

Kini, kisahku menuntut untuk bisa ikhlas dan sabar.

Kisah ikhlas dan sabar ini berawal ketika aku mendapatkan informasi pengadaan CPNS, tepatnya bulan Juni. Aku yang memang tidak antusias lagi mendaftar, informasi tersebut hanya teronggok terlantar. Kala itu saat hati ikhlas dan sabar menerima apapun takdir dari-Nya, aku seperti menemukan kedamaian. Ya, kedamaian yang sirna akibat terjangan badai dalam hidup lima tahun lalu.

Pagi itu seperti biasa aku hendak pergi bekerja. Jam 07.15 aku harus sudah sampai tempat kerja. Pada waktu mengeluarkan sepeda motor, Ayah tengah duduk di ruang tamu.

“Katanya ada CPNS, Is?”

“Iya.”

“Semua syarat daftar sudah kamu persiapkan?”

“Belum, Yah.”

“Mumpung ada kesempatan.”

“Iya,” jawabku setengah hati.

Sambil mengendarahi sepeda motor, aku tidak henti-hentinya memikirkan pertanyaan pertanyaan Ayah. Entah kenapa susah sekali supaya hati ikhlas menerima keinginan orang tua. Ya, sejak lulus kuliah, orang tua memang menginginkan aku menjadi PNS. Keinginan itu bisa jadi baik karena setiap orang tua menginginkan anaknya sukses. Namun mendadak aku dapat merasakan jika ikhlas dan sabar itu berat sekali ketika-secara sadar-orang tua terlalu ikut campur soal di mana aku harus bekerja.

Di sisi lain aku bersyukur sekali. Aku terlahir dari keluarga berada. Kakak-kakak di sekolahkan oleh Ayah hingga jenjang kuliah. Bahkan ketika aku lulus SMA dan lebih memilih untuk bekerja, aku dilarang. Aku harus juga masuk kuliah. Bukan itu saja, sedari kecil sampai kuliah semua kebutuhanku tercukupi tanpa perlu bersusah-payah berusaha keras. Sampai akhirnya pada suatu tahun yang kelam, aku mendapatkan cobaan. Cobaan yang menuntut paksa agar ikhlas dan sabar bersemayam dalam hati.

Kala itulah aku seperti dihantam gulungan ombak besar, terlempar puluhan kilometer, tubuh remuk tidak berdaya. Akhirnya semua cobaan itu membuatku tersadar kalau aku harus memiliki hati ikhlas dan sabar. Cobaan yang aku hadapi pasti sudah tertulis dalam takdir dan pada takdir itu pula pasti telah tercatat cara penyelesaiannya.

Seiring berjalannya waktu, aku serasa diberikan kemudahan oleh-Nya untuk berhati ikhlas dan sabar menerima. Memang benar setelah hati ikhlas dan sabar, aku serasa mendapatkan kedamaian. Kedamaian yang telah lama hilang atau kedamaian yang memang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Meski begitu, aku diharuskan ikhlas dan sabar lagi mana kala akhirnya bekerja di fotocopy-an. Aku justru menikmati dan enjoy melakukannya walaupun ijazah pendidikan terakhir adalah D3. Cobaan besar itulah yang membawa aku ingin mulai hidup dari nol. Aku yang pada akhirnya menerima pekerjaan itu bukan berarti tanpa usaha mencari pekerjaan sebelumnya. Aku malah telah jungkir balik mencari pekerjaan. Penolakan dan faktor usialah yang menyebabkan tidak bekerja sesuai jenjang pendidikan terakhir.

Demi menyenangkan hati orang tua, setibanya di tempat kerja aku langsung bertemu bos mengutarakan pengunduran diri sebagai karyawan fotocopy. Aku sadar dengan keputusan ini. Mengurus pendaftaran CPNS tidak mungkin sehari selesai. Apalagi ada dokumen yang harus kuurus ke kampus, itu harus keluar kota. Dari pada sering izin, lebih baik mengundurkan diri. Belum lagi inilah kesempatan terakhir mendaftar CPNS mengingat seandainya tahun depan ada lagi, aku sudah tidak dapat ikut serta lantaran persyaratan usia.

Malam harinya aku mantap memberitahukan orang tua perihal keinginanku ikut CPNS. Betapa raut wajah gembira terpancar jelas pada mereka. Aku yang awalnya tidak ikhlas, kini berubah 180º. Aku semakin menikmati hati ikhlas dan sabar menerima apapun yang diinginkan orang tua terhadapku. Walaupun begitu aku tetap tidak berani berekspektasi terlalu tinggi dengan CPNS meski orang tua memberikan ridho 100%.

“Perbanyak istigfar. Bukan hanya waktu habis salat tapi di luar salat juga,” pesan Ayah dengan wajah penuh senyuman.

“Iya,” jawabku singkat.

Setelah memperoleh restu, aku langsung mempersiapkan dokumen yang hendak kuurus ke kampus. Namun ternyata ada setitik rasa yang mengganjal. Aku belum bisa berhati ikhlas menerima sepenuhnya. Ada semacam ego yang ingin menang. Hal ini bukan tanpa alasan. Sejak lulus kuliah sampai terakhir bekerja di fotocopy, aku harus mendapatkan persetujuan orang tua. Aku sedikit membangkang ketika akhirnya menerima bekerja di fotocopy. Aku ingin mulai hidup dari nol. Aku ingin merasakan berada di bawah. Berada di bawah itulah aku menemukan ikhlas dan sabar.

Proses mengurus dokumen berjalan lancar. Aku bersyukur sekali karena selain lancar, juga bertemu orang baik. Lantaran uang untuk membayar tukang ojek kurang, si tukang ojek mau menerima berapapun nominal yang aku berikan. Dalam hati kemudian aku berjanji kalau nanti aku ada uang lebih, aku akan ke kota ini lagi. Meminta diantar keliling kota dan akan aku bayar lebih.

Hari pendaftaran CPNS telah tiba. Seluruh persyaratan dokumen di upload ke sebuah website yang lalu dokumen dikirim lewat pos. Tidak gampang upload dokumen mengingat selurus peserta CPNS se-Indonesia mengupload ke website itu pula. Ada rasa khawatir ketika memasukkan data diri terutama NIK dan KTP. Untuk mengindari kesalahan, aku bahkan bolak-balik memeriksa ulang supaya tidak ada angka yang keliru.

Itilah titik awal supaya hati ikhlas dan sabar.

Setelah dinyatakan lulus seleksi administrasi, aku mengajak perasaan agar kelak dapat ikhlas dan sabar menerima apapun hasil. Jika hati menerima saat dinyatakan lulus adalah sesuatu yang biasa maka aku mengajak hati untuk bisa ikhlas menerima ketika nanti dinyatakan tidak lulus.

Ikhlas memang berat karena pada prakteknya ada reaksi tubuh yang seolah menolak. Namun aku patut bersyukur. Cobaan besar beberapa tahun berdampak luar biasa pada kehidupanku, pelan-pelan aku berhasil menetralkan perasaan supaya hati ikhlas menerima. Seandainya tidak lulus pada seleksi CPNS ini, aku sudah siap ikhlas dan sabar menerima.

Singkat cerita ketika hari ini tepat di penghujung tahun 2018 tanggal 31 Desember pukul 14.00, keputusan akhir penerimaan CPNS 2018 diumumkan oleh BKD setempat. Ada keajaiban dahsyat yang aku terima sebagai penutup tahun. Bukan keajaiban di terima PNS, tapi keajaiban ketika hati menjadi damai, tenteram dan tenang meski tidak lulus CPNS. Aku tidak tahu apakah itu yang dinamakan ikhlas dan sabar. Yang jelas, aku bahagia sekali.

***

Ditulis oleh: Nur Istiqomah, Penulis buku Tes Peningkatan IQ Anak, pemilik blog idebagusblog.blogspot.com

No comment for Ikhlas Dan Sabar: Kemenanganku Atas Kalahku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Ikhlas Dan Sabar: Kemenanganku Atas Kalahku

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More