HOME
Home » Buku Bercerita » Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4th, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta alias ikatan pacaran, Dinda Clara pun masih berstatus jomblo. Aku pernah membahas soal pacaran, Dinda Clara menolak untuk melanjutkan. Katanya, pacaran itu haram. Namun aku melihat kondisi hati Dinda Clara yang sepertinya galau. Sepertinya, ia ingin seperti teman-teman bermainnya yang sekarang sudah menggandeng pasangan tak resmi. Namun keinginan itu seperti telah terpenggal oleh hukum pelarangan dari agama atas pacaran.

“Owh Ninis,” pikiranku mendadak halu ke Ninis, salah satu host live streaming bersama Clara. Entahlah, aku ingin menyelesaikan drama setiaku. Aku ingin bebas memilih banyak spesial host live streaming.

Dalam cara pandang Dinda Clara yang mengganggap pacaran itu haram dan jangan dilakukan, aku sangat setuju. Entah bagaimana, sikap Clara yang seperti itu memang harus diperbanyak. Mengapa? Sekarang banyak sekali anak-anak kecil yang sudah terlibat dunia pacaran. Apalagi, sekarang didukung internet sehingga memudahkan mencari tips atau kata-kata cinta buat pacar tersayang. Dunia pacaran anak-anak seolah didukung banyak pihak. Kalau misalkan cara pandang Clara berhasil masuk di jiwa banyak anak-anak, jumlah anak pacaran akan menurun drastis. Tentunya, kata-kata cinta buat pacar tersayang akan turun.

“Kata-kata cinta itu harus aromanya, manis rasanya, lembut sentuhanya yang mampu menutupi keharaman pacaran”

Aku teringat dialog seputar pendirian Ninis yang tidak mau pacaran dan tidak mau mengumbar kata kata cinta buat pacar tersayang.

“Masa sih, kamu gak punya pacar?”

“Iya, emang aku gak punya. Aku ini jomblo, jomblo ngenez.”

Walapun percaya, aku tetap ragu dengan kata-kata kamu.

“Ya sudah, pacarmu bakal jadi mantan kamu.”

“Dih, Ubay tega banget berkata-kata begitu.”

“Iya, kan kalau menikah berarti pacarmu jadi mantan pacar. Cieh.”

“Oh gitu.”

“Kalau udah diteken begini, baru bisa jujur ya.”

“Dih, aku udah jujur. Maksudnya tuh, Ubay kok tega berkata begitu.”

“Ya kan kalau menikah kan jadi mantan pacar.”

“Oh begitu.”

Aku menekan seperti itu tujuannya agar Ninis mengaku yang sebenarnya. Tetapi, ia tetep kekeh dengan ucapan awalnya. Apakah tuntunan profesi live streaming yang membuat Ninis tidak mau terbuka? Entahlah. Aku tidak mengetahui dengan pasti. Aku hanya mengetahi kalau Ninis mengaku berstatus jomblo.

Begitu juga dengan Dinda Clara yang sudah berubah tidak berminat lagi dalam dunia kata-kata cinta dan pacaran. Kalaupun ada sosok cowok yang sedang mendekati Dinda Clara, ia menolak istilah pacaran. kalaupun Dinda Clara memiliki hubungan, mungkin ia hanya memiliki “ikrar” hubungan biasa bersama sosok cowok yang bertujuan merencanakan pernikahan di waktu yang akan datang. Di sinilah, Dinda Clara bisa mengaku berstatus jomblo alias tidak pacaran. Karena, mereka berdua mungkin sepakat untuk tidak untuk melakukan aktifitas pacaran dan pernikahan yang sebagai pelepas kejombloan.

Katakanlah “dia adalah pacarku” di banyak orang dengan tebaran kata-kata cinta buat pacar tersayang atau kamu tidak perlu mengikat pacaran bila tak ada pengakuan ini di depan banyak orang.

“Masa sih secantik kamu tidak punya pacar? Mungkin kamu alergi dengan kata pacar dan pacaran. Setidaknya, kamu punya cowok pilihan kamu, Mamah dan Papah. Benar?”

“Ya ampun, beneran. Aku masih jomblo. Aku belum memiliki calon.”

“Kali ini, aku percaya kalau Ninis memang jomblo. Tidak memiliki calon.”

Aku percaya saja. Lagi pula, apa urusanku mengenai status jomblo atau tidak, status sudah menikah atau belum? Aku hanya menikmati ini sebagai jalan untuk membuat cerita yang mungkin mengisahkan gombalan kata kata cinta buat pacar tersayang.

Waktu terus berjalan, aktifitas live streaming berhenti. Aku sedih. Dinda Clara akan mengakhiri menjadi vj alias host live streaming di aplikasi Voov. Kerjasama manajemennya bersama pihak Voov terhenti. Padahal, di situlah Dinda Clara menemukan arti sebuah kebersamaan yang sudah terjalin sampai 12 bulan.

“Teman-teman, makasih ya selama ini sudah menemani aku. Maafin atas semua kesalahan Clara selama ini. Aku akan berpisah dengan apilasi ini.”

Beberapa teman membangun drama perpisahan. Mereka meminta maaf dan sebagainya.

“Ya ampun, seperti mau kemana aja. Nanti juga ketemu lagi”

“Ya nanti kita ketemu lagi, ye…!”

Dinda Clara pernah berlibur ke Padang, kota kelahiran orang tuanya. Sebelum keberangkatan, Dinda Clara menanti sebuah telepon dari cowok yang mungkin sedang diharapkannya. Mungkin, ia menunggu abang sepupunya yang ada di Padang. Suara ponsel pun akhirnya berbunyi. Ketika mereka saling berkomunikasi, hayalanku datang.

Aku menghayalkan sesuatu yang berbeda. Entahlah, pikiran penulis membuatku mudah sekali membayang sesuatu di luar kenyataan.

“Halo Bang.”

“Iya, Dik.”

“Bang gak jadi liburan nemenin Adek?”

“Aku masih sibuk di Cirebon. Gak sempet berangkat.”

“Napa Abang ini, napa pula gak ngasih kabar kalau Abang gak jadi ke Padang. Napa?”

“Sibuk!”

“Sibuk napa?”

“Sibuk seperti yang kamu sibukkan, Ya.”

“Abang tega aku liburan sendirian? Temen-temen bahwa pasangannya masing-masing.”

“Kita kan gak ada hubungan pacaran?”

“Setidaknya kita komitmen.”

“Komitmen apa? Siapa saja yang rajin ngobrol sama kamu? Dia lagi dia lagi.”

“Abang!”

“Udah lah, Dik. Kamu nikmati liburan sendiri. Toh, kita sama-sama sibuk sendiri-sendiri.”

“Komitmennya?”

“Berjalan sesuai takdir.”

“Kok ngomong gitu sih? Berarti gak niat buat komutmen?”

“Ya Allah. Kalau komitmen, berarti itu serius.”

“Gak pecaya!”

“Ketika kamu sudah mengumbar kata-kata cinta, lanjutkanlah dengan komitmen di hati. Karena, lidah memang tidak bertulang”

Pikiranku kembali dalam kondisi semua. Aku tidak bisa melanjutkan pembahasan cerita pacaran apalagi dibubuhi kata-kata cinta buat pacar tersayang bila berurusan dengan Dinda Clara. Aku tidak mau membangun cerita seputar pacaran di saat Dinda Clara sendiri menolak dunia pacaran yang dinilai terlarang itu.

Karena aku tidak tega membangun cerita pacaran yang mengkaitkan Dinda Clara apalagi ceritanya dibubuhi kata-kata cinta dan sayang buat pacar tersayang, aku melirik cerita kata-kata cinta bersama orang lain. Kalau sekedar membangun cerita cinta, aku tidak akan menjalin pacaran. Aku mengakui, aku menolak istilah pacaran dan bentuk kata-kata cinta spesial pacar tersayang. Aku lebih suka menabur cinta dengan meneliti gejala hubungan percintaan seperti itu.

Dalam live streaming terbaru di GoLive, aku sudah menemukan sosok cewek yang memang sudah menjadi target membangun cerita cinta terbaru. Tentunya, ia bernama Ninis.

Aku ingin mengenang kembali perkenalanku dengan Ninis, cowok asal Jakarta.

“Halo ninis.”

“Halo Bang Ubay”

“Kamu nama aslinya siapa?”

“Nama asliku Ninis, Bang Ubay.”

“Ninis darimana?”

“Dari Jakarta. Bang Ubay sendiri darimana?”

“Dari Cirebon.”

Hari demi hari aku dekat dengan Ninis. Sampai akhirnya, ia tidak memanggil abang lagi buatku. “Ha ha, pea!”

Waktu itu, aku memfollow sosok host alias penyiar Go Live hanya dua orang yaitu Dinda Clara dan Ninis. Namun, sekarang sudah mencapai 8 orang. Walaupun begitu, aku hanya berfokus mendengarkan 2 host senior yaitu Dinda Clara dan Ninis. Host trial Cuma bersama Noss Kinos. Akhirnya, aku menemukan kedekatan baru dengan seorang cewek yang aku sukai yaitu Ninis dan lainnya. Cewek pilihan itulah yang dianggap berharga untuk karirku dalam penulisan.

“Aku gak mau membenani Dinda Clara dengan kesan kedekatan ini. Aku harus mendekati dua sosok cewek atau lebih.”

Aku teringat perintah Dinda Clara di aplikasi lama untuk mendengarkan dua atau lebih host. Dinda Clara tidak mau kalau aku hanya mendengarkan dirinya saja. Untuk itu, demi meringankan beban Dinda Clara, aku menurutinya. Aku mengikuti Ninis dan lainnya agar berhubungan dekat.

“Akhirnya, aku terbebas dari fokus hanya pada Dinda Clara.”

Aku tidak mengetahui, apakah bersama Ninis bisa menjalin sebuah hubungan pacaran. Yang jelas, aku tidak mau menjalin hubungan pacaran. Apalagi, Ninis memang sulit terbuka hati kalau persoalan cinta. Beberapa orang yang mendekati Ninis, mereka tidak diberi kesempatan. Apalagi aku, sosok cowok yang tidak bisa menjangkau dalam ketertarikan di mata cewek, Ninis sudah pasti menolak.

“Bukalah hati orang yang kamu cintai dengan kata-kata cinta tetapi tidak perlu mengharapkannya atas keterbukaan hatinya”

Walaupun begitu, aku menspesialkan Ninis seperti menspesialkan Dinda Clara. Tentunya, rasa spesial ini lebih besar untuk Dinda Clara. Ibarat kata, Ninis adalah sosok harapan sedangkan Dinda Clara sosok spesial. Aku menganggap Ninis sosok harapan dikarenakan aku bisa mendapatkan kesempatan berharap ‘memiliki’. Sedangkan Dinda Clara hanya sebagai sosok yang sudah dianggap adiku yang layak diperlakukan ‘spesial’.

Entahlah, tiba-tiba pikiranku melayang-layang memikirkan bagaimana mendekati Ninis. Pikiranku mengajaku membuat kata kata cinta buat pacar tersayang walaupun dalam hayalan saja. tetapi, aku tidak akan mengungkapkannya. Aku melakukan ini hanya untuk keutuhan membuat cerita cinta yang mana berisi kata kata cinta buat pacar tersayang.

Apakah aku harus memikirkan kata kata cinta buat pacar tersayang? Sepertinya, aku salah jalur. Tetapi, aku teringat rencana dulu yang sempat aku obrolkan untuk Dinda Clara. Aku sempat mengatakan bahwa aku akan terjun dalam dunia informasi pacaran untuk kepentingan mengurangi tradisi pacaran. Tetapi, sekali lagi, apakah aku harus sampai memikirkan membuat kata kata cinta buat pacar tersayang? Bagaimana membuatnya? Terpenting, siapa sasarannya? Aku tidak mungkin menarget Dinda Clara dan Ninis.

“Apakah kata-kata cinta untuk pacar atau bukan penting untuk diucapkan?”

Beginilah, hari-hariku: menulis, menulis dan menulis. Sampai cerita kata-kata cinta buat pacar pun ditulis.

Jam sudah menunjukkan di angka identik sore. Biasanya, jam ini Ninis memulai live streaming. Aku tidak mengetahui kondisi Ninis saat ini, apakah sudah sehat atau tidak. Kemaren Ninis tidak menjalani live dengan dugaan ia nge-drop.

“Eh ternyata Ninis live.”

Aku segera memasang headset di telinga. Aplikasi GoLive dibuka. Gambar foto Ninis di-klik. Aku memasuki ruangan alias room Ninis.

“Hai Ubay. Kemaren aku sakit, Bay. Aku nge-drop.”

Dugaanku benar. Ninis sakit. Sebelum sakit, ia sempet mengeluh pusing.

“Sakit apa?”

“Sakit radang tenggorokan dan tipes.”

“Sudah ke dokter?”

“Sudah”

“Pakai BPJS?”

“Ogah. BPJS ku harus pakai rujukan. Aku malas makai itu. Jadi, aku ke dokter biasa.”

“Dokter pribadi ya?”

“Waw, dokter pribadi? Kok kamu tahu sih, Bay?”

“Tahu lah, kamu kan langganan sakit.”

“Ha ha…”

Sepertinya, aku mengurungkan niat mengobrolkan masalah pacaran dan kata-kata cinta buat pacar tersayang pada ninis. Ia habis sakit. Biasanya, sakit tifus alias tipes sembuhnya tidak cepat. Butuh waktu pemulihan. Aku harus memperhatikannya dalam segi obrolan. Ia paling anti mengobrolkan masalah kata kata cinta juga. Ya, Kondisinya bisa 11-12 dengan Dinda Clara. Ya, seperti yang sudah dikatakan, banyak host menyembunyikan status percintaannya.

“Kata kata cinta itu kebaikan maka katakanlah dalam situasi yang mendukung kebaikan ini”

“Bay, katanya kamu udah beli koin di Alfamart?”

“Iya udah.”

“Ya udah buru.”

Aku menulis, “mengirim 1000 buah mi.” (kata ‘mi’ bergambar mi)

“Mana ada mi! Bohong si Ubay mah. Katanya baru beli koin.”

“Bohong apanya? Bener!”

Selayaknya pacar yang memberikan rangkaian kata-kata cinta untuk pacarnya, aku memberikan untuk Ninis rangkaian give. Aku tidak bisa mengirim rangkaian kata-kata cinta dengan penuh romantis untuk Ninis selayaknya ke pacar. Untuk apa juga aku memberikan rangkaian kata-kata cinta romantis? Aku dan Ninis tidak ada hubungan apa-apa walaupun aku ada hati untuk Ninis. Ada hati seorang fans yang mengidolai Ninis. Jadi, memberikan rangkaian give memang pilihan terbaik.

“Tuh, udah aku kirim rangkaian give. Tapi sory, aku belum mau mengirim kata-kata cinta untukmu.”

“Kok ngono?” tanya Ninis memakai kata jawa seperti itu yang nge-trend di Golive.

Aku tidak tega memperhatikan ekspresi Ninis yang melemas ketika membaca rangkaian kata “kata-kata cinta untukmu.” Ia seperti tersentuh dengan perkataanku. Tetapi, Ninis tersentuh atas ucapanku bukan karena Ninis memiliki perasaan padaku. Ia seperti memiliki pengalaman pahit soal pacaran. Bisa jadi, ia teringat kata-kata cinta romantis dari pacar yang berakhir menyakitkan.

“Kenapa kamu melemas ketika berbicara ‘kata-kata cinta untukmu’?”

“Apa sih Ubay. Kok Ubay gitu?” Ia mempermasalahkanku ketika kembali melemas ketika berkata kata-kata cinta.

“Coba baca ini: Sayang kamu, sayang kamu, sayang kamu.”

“Sayang kamu, sayang kamu, sayangkamu,” balas Ninis dengan nada agak tinggi. “Apaan sih Ubay? Kok Ubay ngono?”

“Ha ha ha… Becanda.”

“Hati Wanita Itu Sensitif, Jangan Memberi Kata-Kata Cinta Romantis Sembarangan”

Aku berniat membatalkan obrolan masalah pacaran dan kata-kata cinta untuk pacar, Ninis malah terjebak dalam perkataan canda kata-kata cinta dariku. Karena ini, aku sedikit tahu gambaran hati Ninis. Sepertinya, Ninis mengalami permasalahan cinta dan dunia pacaran sehingga ia terlihat melemas bila membaca kata-kata cinta dari orang lain.

Dalam kesendirian di ruang konter pulsa, aku merenung. Aku bertanya, siapakah wanita yang bisa menjadi target jodohku? Pertanyaan ini membuat jantungku kumat ditengah kelelahan fisik. Aku mengalami kontraksi di area dada walaupun tidak merasakan sakit. Seperti biasa, aku mengalami ekspresi seperti orang sedang sakit hati tetapi tidak sakit. Area dada terasa seperti diremes-remes. Bila hasil perenungannya masih seperti ini, aku lebih memilih untuk tidak mencari calon dimanapun. Tidak ada yang salah dengan keputusan ini bila menyangkut masalah kesehatan.

“Bukankah bisa, cewek yang justru mencariku? Hihi”

Tetapi, lebih baik aku mencoba mengungkapkan kata-kata cinta untuk Ninis. Ups, Clara bagaimana? Clara sudah dianggap sebagai adikku. Kalau Ninis, ia sudah bisa dianggap calon istriku. Jadi, lebih baik, aku mencoba mengungkapkan kata-kata cinta untuk Ninis.

“Nis, mau tidak kamu tidak menjadi istriku?” tanyaku.

“Mau, Ubay!” jawabku yang seolah-olah ucapan Ninis.

“Pea lu Nis!”

No comment for Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More

Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Posted at September 16, 2018

Banyak cerita lucu di masa kecil karena masa itu adalah masa lucu-lucunya. Setelah dewasa, kita pun bisa menertawakan masa kecil kita yang dianggap cerita... Read More