HOME
Home » Buku Bercerita » Kejutan Untuk Cerita Novel Clara Oktavia

Kejutan Untuk Cerita Novel Clara Oktavia

Posted at Agustus 25th, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

Selama dua malam, aku tidak hadir meramaikan room Dinda Clara Oktavia di Go Live dikarenakan badanku terasa tidak enak. Kondisi seperti ini akibat suasana cuaca dan kesibukan yang selalu menemani harianku. Menulis cerita novel pun terpaksa terbengkalai sementara. Biasanya, kalau sudah merasa sakit seperti ini, pemulihan badanku berlangsung lama. Walaupun tidak mendengarkan live streaming Dinda Clara, aku tetap semangat memikirkan cerita novel Dinda Clara. Bukan dikatakan sengaja memikirkan, pikiranku memang berjalan sendiri menghasilkan ide cerita novel. Biasanya, pikiranku berjalan otomatis memikirkan live streaming sebelumnya untuk ide cerita novel.

Aku teringat sebuah “kejutan” saat pertama kali mendapatkan ide menulis cerita novel sosok Clara Oktavia di dunia live streaming. Sebelumnya, aku tidak tahu persis dan tidak mau tahu persoalan program live streaming. Aku hanya mengetahui kalau instagram, Facebook, Youtube menyediakan layanan live streaming. Sosok tokoh cerita novel pertama, Arafah Rianti, yang memperkenalkan program live streaming untukku. Arafah ikut didalamnya karena ada kontrak dari pengelola live streaming. Kebetulan, Clara Oktavia mengikuti live streaming yang diikuti Arafah Rianti. Setelah hampir sebulan kehilangan kehadiran Arafah Rianti, aku mencoba aktif live streaming. Akhirnya, tanpa disengaja, aku bertemu dan mengenal sosok Clara Oktavia. Sebulan berkenalan, aku niatkan Clara Oktavia sebagai tokoh cerita novel. Tanpa disangka, aku mendadak menulis “Spagete Clarafah” sebagai judul cerita novel. Luar biasa kejutan!

“Tanpa disangka, aku mendadak menulis ‘Spagete Clarafah’ sebagai judul cerita novel”

Nama Spagete berasal dari kata spageti. Inspirasinya berawal dari melihat Dinda Clara memakan spageti. Sedangkan Clarafah merupakan gabungan dari Dinda Clara dan Adik Arafah. Ini perpaduan nama judul cerita novel yang romantis. Haduh, ini bikin perasaanku baper, apalagi cerita novel ini dianggap romantis warna cinta segitiga.

Bagaimana aku tidak merasa bahagia dan tidak memperlakukan spesial untuk Dinda Clara bila kehadirannya memberikan kejutan yang manis? Aku merasa bahagia dan memperlakukan spesial karena Dinda Clara adalah sosok wanita yang penting untuk kehidupanku dan karyaku, khususnya cerita novel. Bahkan, kehadirannya jauh lebih berharga karena aku berkomunikasi langsung dengannya.

“Lega rasanya. Aku berharap, hasil akhir cerita novel bernilai romantis penuh nuansa cinta persahabatan walaupun hadirkan cinta segitiga,” kataku dalam hati sambil membayangkan betapa sulit mencari inspirasi menulis cerita novel jilid kedua.

Di tengah kondisi tubuh yang agak mendingan, aku berbelanja kebutuhan voucer kuota internet di sebuah ruko milik distributor pulsa langgananku. Biasanya, aku sering berbelanja voucer kuota internet secara online. Tetapi, aku lupa kalau saat ini banyak hari libur. Aku hawatir pengiriman terlambat. Apalagi, stok voucer kuota ada yang sudah habis dari beberapa hari kemaren. Jadi, terpaksa aku harus mengunjungi konter yang berada di daerah cipeujuh.

“Kalau sudah seperti ini, untuk apa aku menunda belanja voucer?”

Aku berjalan kaki menempuh ruko distributor langgananku. Jalanku harus pelan mengingat baru sembuh.

Aku teringat pernah menanyakan pada Dinda Clara, “Kamu bisa naik motor gak?”

Jawaban Dinda agak ngambang. Ia mau mengatakan “bisa” tetapi berat untuk mengatakannya dengan mudah. Mungkin, ia kurang pandai menaiki sepeda motor. Dinda memang jarang bepergian dengan motor. Ia lebih terbiasa bepergian dengan mobil pribadinya. Maklum, horang kaya.

Tetapi, bila Dinda Clara kurang pandai menaiki motor, aku jauh lebih tidak bisa. Ya, aku tidak pernah belajar mengendarai motor. Padahal, kalau sudah bisa menaiki sepeda, pertanda, aku bisa menaiki motor. Aku lebih bisa menaiki sepeda daripada motor. Aku malas belajar menaiki motor. Lagi pula, aku tidak punya motor. Memang, adik-adikku sudah punya motor. Kalau sudah malas belajar, ya sudah, aku abaikan saja beberapa motor di dalam rumah ini. Lagi pula, kalau sudah bisa menaiki motor, aku harus membeli motor. Pertanyaannya, untuk apa punya motor?

Setelah perjalanan sampai ke tujuan, aku membeli beberapa vocer. Banyak vocer yang diborong agar tidak perlu mengunjungi tempat ini lagi dalam waktu cepat. Setelah itu, aku berniat pulang memakai mobil transportasi atau biasa disebut elf, angkutan kabupaten-kota.

Syukurlah. Beberapa vocer yang kosong, sekarang sudah terisi penuh. Aku berniat membuat papan pengumuman kalau vocer sudah terisi. Tetapi, cara ini dianggap lebay. Aku memiliki ide untuk menggeser vocer agar lebih ke depan. Posisi ini bisa terlihat dari jarak 3 meter. Ketika ada yang lewat, mereka bisa melihat stok vocer yang sudah terisi.

Malam pun tiba.

Aku melihat aplikasi Go Live. Icon love dipencet untuk mengetahui penyiar favorit yang sudah live. Terlihat, jejeran orang yang tidak dikenal. Pertanda Dinda Clara belum memulai live streaming.

Karena Dinda Clara belum live, aku melihat akunnya. Koinnya agak berubah sedikit. Aku menduga, ia tidak live malam kemarin. Padahal, aku sudah minta izin kalau malam itu tidak bisa mengikuti live streaming. Kalau ternyata sama-sama tidak live, berarti kita dalam irama keserasian. Romantis sekali. Kondisi baperku mendadak seperti cerita novel anak remaja.

“Kondisi baperku mendadak seperti cerita novel anak remaja”

Aku akan melihat kembali tombol love setelah beberapa menit menutup aplikasi Go Live. Ada bunyi setelah aku membuka aplikasinya. Wah, harapanku tercerahkan. Dinda Clara sedang memulai live streaming.

“Halo Kak Ubay, assalamualaikum,” sapa Dinda Clara.

“Waalaikum salam. Malam,” jawabku.

“Malam juga, Kak Ubay.”

“Lagi sibuk apa?” tanyaku ketika melihat Clara sedang merunduk.

“Gak lagi sibuk apa-apa. Oh ya, kemaren kenapa gak ikut live? Gak ada nongol-nongolnya.”

Sepertinya, Dinda Clara beraktifitas online lewat tablet juga.

Haduh, Dinda Clara lupa atau tidak membaca pesanku? Padahal aku sudah meminta izin kalau malam itu aku tidak bisa ikut live streaming. Namun, aku menduga kalau Clara sekedar bertanya basa-basi ketika ia sudah tahu. Kejadian ini cukup menarik untuk dijadikan cerita novel cinta remaja “Laper: Cerita Basa-Basi Clara Bikin Cinta Baper”.

“Lagi sakit.”

“Sakit apa?”

“Sakitnya orang sibuk. Emflu.”

“Aduh, sakitnya orang sibuk. Ada gitu ya?”

Berbincangan masih disisi olehku dan Dinda Clara saja. Room Clara belum diisi dialog dengan orang lain. Setelah beberapa menit penantian, sosok akun pria hadir menemani cerita kita berdua.

“Kemaren kamu gak live, Ra?” tanya seseorang.

“Oh, ya, gak live. Lagi…,” jawab Clara penuh kejutan sekaligus membenarkan dugaanku. Namun, pembicaraan terputus karena ganguan jaringan.

Berbagai perbincangan mewarnai room Dinda Clara. Tentunya, tebar senyum dan tawa Dinda Clara terpancar hasil dari perbincangan ini.

“Oh ya, ada cerita menyedihkan tetapi lucu. Temen aku gak di lantai tiga, hp nya jatuh. Ya ampun, padahal tuh hp masih bagus. Duh.

“Wah, terus rusak gak?” tanyaku menanggapi cerita Clara sambil memikirkan ide menulis cerita novel.

Aku terkejut mengenai cerita dari Dinda Clara. Ternyata, Fakultas Teknik memiliki 3 lantai. Padahal, tiga hari yang lalu aku sudah menulis persoalan kondisi gedung Fakultas Teknik. Tetapi, aku masih meragukannya. Akhirnya terjawab, gedung Fakultas Teknik terbangun 3 lantai.

“Ya rusak lah. Dari lantai 3. Tapi gak hancur. Cuma gak bisa dijalanin.”

“Hp kebel, memang,” tambahku.

“Iya emang kebel. Cuma ya gitu, gak bisa digunain.”

Setelah menanggapi obrolan lain, Dinda Clara melanjutkan cerita soal hp jatuh.

“Tahu gak, yang bikin lucu itu, pas hp jatuh, orang-orang di bawah sempet melihat tragedi hp jatuh dari lantai 3. Ya ampun, mereka seperti menyesal gak bisa menangkap hp temanku. Temenku sedih, tapi cerita ini ada lucunya.”

“Oh ya, bukannya Fakultas Teknik ada dua lantai?” tanyaku mengalihkan ke pembahasan lain.

“Dua lantai? Eh, gak deh. Tiga lantai dong. Tahunya dua lantai darimana, Kak Ubay?” tanya balik Dinda Clara heran.

“Aku tahu dua lantai dari Wikipedia.”

“Oh, mungkin foto lama kali.”

“Iya. Mungkin ditulis waktu masih dua kedung, tapi belum diedit setelah udah 3 lantai.”

“Ha ha…,” Dinda Clara tertawa.

Kalau cerita novel seperti itu bukan sebuah kejutan, lantas apa arti penulisan cerita novel pada tiga hari yang lalu? Tiga hari yang lalu, penulisan seputar cerita gedung Fakultas Teknik seperti akan mengikuti arus obrolan yang ada di live streaming berikutnya. Aku menulis dengan penuh penghayatan mengandalkan panduan bantuan Google Map. Detail perjalanan dari rumah Dinda Clara sampai ke Fakultas Teknik harus diperhatikan. Berjam-jam otak memikirkan persoalan ini. Ternyata, apa yang aku tulis, Dinda Clara membahasnya. Apakah ini tidak mengejutkan? Kalau urutannya sebulan yang lalu, pembahasan cerita novel bukan sesuatu yang mengejutkan. Tetapi, ini hanya berjarak beberapa hari saja.

“Kalau cerita novel tersebut bukan kejutan, lalu apa arti cerita novel pada tiga hari yang lalu?”

“Wah, harus diperbaiki nih buat cerita novelku. Untung saja ada cerita drama sedih hp terjatuh dari lantai tiga, ha ha…”

Karena ada gangguan jaringan, aku tidak mengetahui respon Dinda Clara.

Live streaming pun selesai.

Aku kembali menjalani rutinitas seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada aktifitas yang lebih dikatakan “berderajat”, entah menjadi pembicara atau menjabat tabatan tinggi. Aku hanya seorang penjual pulsa dan kuota internet yang kebetulan memiliki proyek online. Kalau aku berpura-pura menjadi orang kaya pun, mereka tidak akan pecaya. Mereka hanya mengetahui kalau aku hanya penjual pulsa.

“Ha ha… tukang pulsa mana ada yang bisa kaya?”

Siang menunjukan identitasnya dengan menghadirkan bola terang. Malam menyembunyikan bola terang. Aku kembali dalam penantian live streaming Dinda Clara.

Kalau dalam live streaming di malam ini aku menemukan kejutan kembali, mungkin mereka tidak akan percaya. Tetapi, aku seperti sudah memesan pada alam semesta untuk memberiku kejutan. Kejutan ini bisa dianggap sesuatu yang romantis. Aku tahu, kejutan ini layak untuk bahan cerita novel. Kejutan ini pada awalnya diperuntukkan untu Dinda Clara. Tetapi, justru aku menemukan kejutan lain. Aku tidak peduli, apakah banyak yang percaya atau tidak.

“Aku seperti sudah memesan pada alam semesta untuk memberiku kejutan”

“Namanya Clara [Y]?” tanyaku.

“Iya, ini sebagai identitas saja,” kata Clara yang terdekar samar olehku.

Sebenarnya, aku kurang fokus mendengarkan apa yang Dinda Clara ucapkan. Akhirnya, aku lupa untuk apa huruf [Y] pada nama Clara [Y]. Yang jelas, penggantian dari Clara Oktavia ke Clara [Y] bukan upaya penyembunyian identitas bulan kelahirannya.

“Kirain sebagai penyembunyian bulan lahir.”

“Gak lah.”

“Benar kan kamu lahir bulan Oktober?” kataku yang sengaja menghilangkan panggilan hati “Dinda” ketika berlangsung live streaming. Aku ingin menyembunyikan identitas panggilanku pada Dinda Clara.

“Iya dong, namanya juga Oktavia,” jawab Dinda Clara.

“Jangan ampe tanggal lahirnya sama ya, ha ha…”

“Emang napa?”

“Aku lahir tanggal 3 Oktober.”

“Gak lah,” jawabnya datar.

Mengejutkan buat Dinda Clara kan? Harusnya ia terkejut. Tetapi, ekpsresinya datar. Mungkin, ia terkejut dalam hati tetapi tidak mau ditampilkan.

“Cieeh, pura-pura gak terkejut,” kataku dalam hati.

Ternyata, aku sendiri yang merasa terkejut. Salah satu viewers yang sudah mengenali Clara berkata, “aku juga lahir bulan Oktober, tanggal 21.”

“What? Yang benar?” tanyaku dalam hati.

“Oh, jadi Kak Uceng lahir di akhir tanggal, Kak Ubay di awal tanggal dan aku dipertengahan.”

Mimpi apakah aku sebelumnya? Yang jelas, aku belum pernah satu kali pun memimpikan Dinda Clara.

Kejutan demi kejutan, biar ini menjadi bahan untuk cerita novel. Jujur, aku masih merasakan beban berat dalam menyelesaikan cerita novel. Salah satu yang membuat beratnya, aku harus memaksimalkan cerita sosok Dinda Clara yang berpean menjadi pencerita. Ya, ciri khas cerita novel jilid dua menghadirkan beberapa pencerita yakni: Aku, Clara Oktavia dan Arafah Rianti. Dengan kejutan demi kejutan, aku berharap bisa memaksimalkan, menghidupkan cerita tentang Dinda Clara.

“Jujur, aku membawa beban berat dalam menyelesaikan cerita novel”

No comment for Kejutan Untuk Cerita Novel Clara Oktavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Kejutan Untuk Cerita Novel Clara Oktavia

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More