HOME
Home » Buku Bercerita » Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24th, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren. Tentu, aku tidak perlu menambah ongkos transportasi atau tidak perlu berjalan kaki jarak jauh menuju Cipejeuh. Perjalanan cukup dengan berjalan kaki dari rumah menuju LPI.

Di samping berbelanja saldo pulsa, aku menyempatkan diri menuju ke bank BTN. Ibuku menitip uang 1800.000 untuk ditabungkan. Bank BTN memang membolehkan orang lain menabungkan uang milik nasabah lain. Sebelum aku, tukang ojek langganan keluarga yang biasa menabungkan. Aku pikir, lebih baik aku saja yang menabungkan uang ke bank ini agar hemat ongkos ojeg. Biasanya, sebagian uang yang ditabung milik anak-anak ngaji, murid Ibu.

Sayangnya, aku harus menjalani perjalanan kaki saat matahari sudah agak terik, kira-kira jam 10-an. Kalau sudah seperti ini, aku akan meminum banyak air. Solusi minum air putih belum dianggap cukup. Aku tambahkan dengan minuman berenergi. Bahkan, aku bisa menambahkan dengan larutan penyegar. Udara panas memang membuat area dalam badanku panas.

Konter mulai buka ketika sudah lebih dari jam sembilan. Aku pernah berbelanja jam delapan pagi ketika baru mengetahui ada konter distributor. Pas sampai, konter masih tertutup. Dengan terpaksa, aku pergi ke distributor Cipejeuh. Aku merasa kesal karena tidak membawa uang receh. Dengan terpaksa, aku berjalan kaki dari LPI sampai Cipejeuh. Setelahnya, aku berangkat jam sepuluh agar konter sudah benar-benar buka.

Dalam perjalanan, aku membawa ponsel. Aku mau melihat aplikasi Go Live. Biasa, aku mencari angpau. Langkah pencarian angpau dianggap kurang menghormati host. Mengapa tidak menghormati host yang di dalamnya ada angpau? Karena mereka cuma mencari angpau yang akan diberikan untuk host favorit. Bahkan sebagian host mencari angpau untuk kebutuhan target koin dirinya. Kalau pencarian angpau bisa tidak menghormati host, bagaimana kah denganku? “Ya elah, pake ditanya. Suruh siapa bagi-bagi angpau.”

Dalam pencarian, aku melihat sosok seorang host berkerudung yang mirip dengan salah seorang artis. Artis ini bernama Cut Syifa. Cut Syifa sendiri pemain sinetron Tukang Bubur Naik Haji dengan nama Maisaroh. Ya, host yang satu ini bermuka hampir sama dengan Cut Syifa. Host ini bernama Kinos.

“Hm… Nama yang unik, cocok buat nama cerita. Sial, gak bawa headset.”

Lebih baik, aku Cuma mem-follow Kinos. Lain kali, aku akan menemani live Kinos.

Dalam perjalanan, aku membayangkan sinetron Tukang Bubur Naik Haji The Series. Tentunya, aku membayangkan tampilan peran Cut Syifa. Bertahun-tahun melihat sinetron ini, tentu aku sering melihat tampilan peran cewek yang berasal dari Bekasi, Cut Syifa. Walapun peran Cut Syifa di sinetron ini kurang menonjol, aku mengidamkan paras Cut Syifa yang manis dan alami tanpa hasil perawatan kosmetik. Aku mengidamkan cewek yang memiliki paras cantik alami tanpa polesan hasil perawatan kosmetik seperti paras Cut Syifa. Biasanya, paras mirip Cut Syifa menggambarkan sosoknya yang lembut. Apalagi pada Cut Syifa, aku jauh lebih mengidamkannya.

“Sayang, Cut Syifa baru umur 21. Mirip umur Dinda Clara Oktavia.”

Setelah menghampiri konter distributor dan bertransaksi, aku menuju bank BPR.

Dalam perjalanan, suara ponsel datang. Panggilan ini tidak menampilkan nomer.

“Halo, siapa?”

“Kak, vocer kuota 3 gb.”

“Aduh, lagi keluar, gak bisa.”

“Yah. Ya udah”

Kebiasaan, ia memesan memakai telepon. Padahal, ada voucer kuota yang untuk jualan. Bagaimana bisa mendapatkan untung besar bila untuk menelepon? Mungkin, ia punya jatah telepon gratisan.

Dia bernama Kece. Entah, kenapa dia dipanggil kece. Padahal, dia tidak cantik. Lagi pula, dahulu, kemungkinan panggilan ‘kece’ belum ada. Kebetetulan juga, ia berasal dari Indramayu. Kata kece mungkin tidak ada di dalam kamus bahasa Indramayu.

Kece sudah terbiasa memesan pulsa dan vocer kuota internet. Ia akan membayar ketika sudah mencapai minimal 200.000. Biasanya, ia membayar 200.000. Hutang sisanya akan dibayar ke cicilan lainya. Selama ini, ia selalu membayar cepat ketika sudah mencapai 200.000. Aku sudah percaya pada Kece.

Selama di bank, aku tidak membutuhkan waktu lama dalam penantian. Beberapa menit, aku sudah berdiri menuju teller untuk menyerahkan uang setoran.

***

Malam tiba, Ninis tidak mengisi jadwal live streaming. Dinda Clara sudah berhenti dari live streaming Go Live. Malam ini, aku tidak memiliki temam live streaming. Padahal, aku membutuhkan cerita bersama mereka. Proyek milikku terasa berat sehingga membutuhkan warna cerita dari mereka.

“Ah, Cut Syifa,” batinku setelah terpikiran sosok cewek yang pernah live waktu siang tadi.

Masalahnya, aku lupa siapa nama akun host yang tadi siang live. Tetapi, aku masih ingat bentuk wajahnya. Kerudung yang dipakai pun masih ingat. Kalau foto profil belum diganti, lupa nama tidak menjadi persoalan. Untungnya, aku sudah mem-follow.

Aku mau menunggu cewek yang mirip Cut Syifa itu. Dengan mata yang sepertinya agak terkantuk, aku membuka aplikasi Go Live. Di dalam konter, badan direbahkan dengan santai.

Malam penantian, Kinos belum juga live. Aku belum tahu, Kinos memulai live jam berapa saja. Sepertinya, ia memulai live tidak mementingkan jadwal live.

Lebih baik, aku mencari angpau. Biasanya, angpau bisa tampil di layar.

“Wah, angpau!”

Aku buka kotak angpau. Namun sayang, aku tidak berhasil mendapatkan koin alias zonk. Biasanya, kondisi jaringan internet mempengaruhi bisa dapat atau tidaknya koin angpau.

“Wah, angpau lagi.”

Ketika mau meng-klik, aku melihat sosok cewek yang memakai kerudung kuning gelap. Tentunya, ia mirip artis Cut Syifa. Ternyata, ia bernama Kinos. Cewek yang dinanti akhirnya datang. Ia memakai kerudung biru, baju putih. Angpau dilewatin begitu saja. Padahal, angpau dikumpulkan untuk diberikan ke Ninis, host favoritku.

“Halo, Ubay Zaman,” sapa Kinos saat aku memasuki room-nya. Ia memanggil tidak disertai panggilan khusus untuk yang lebih tua.

“Halo Cut Syifa.”

“Cut Syifa mana, Ubay? Eh Kak Ubay.”

“Siapa ya? Masak temen sendiri gak kenal? Dia kan artis. Cut Syifa pernah main sinetron Tukang Haji Naik Bubur,” kataku sambil sedikit membual.

“Tukang Bubur Naik Haji, Kak Ubay.”

“Ha ha, ya gitu dah maksudnya. Tukang bubur naiki haji.”

Kinos tersenyum sambil mulut ditutup. Ia seperti ingin tertawa lepas tetapi terhalang sikap lembut dan pemalunya. Ya, aku melihat dia seorang yang lembut dan pemalu. Maklum ia berdarah solo dari kedua orang tuanya walaupun sekarang mereka tinggal di daerah lain.

“Iya, Kak Ubay. Lucu deh.”

“Lucu dong. Biar kamu terhibur.”

“Kapan aku punya teman artis? Yang mana sih orangnya?” tanya Kinos, cewek yang belum kuliah gara-gara tidak suka dengan fakultas yang dipilihnya.

“Ya mirip wajah kamu.”

“Tirus pipinya mirip Arafah Rianti,” tambah salah satu orang yang berada di room Kinos.

“Iya, mirip Arafah.”

“Yah, Kak Ubay, bikin aku penasaran aja. Aku gak tahu Cut Syifa itu kaya apa.”

“Kamu sering liat sinetron Tukang Bubur Naik Haji kan? Nah, di situ ada nama maesaroh, anaknya ustad Zakaria, adiknya Farid.”

“Gak tahu, Kak Ubay.”

“Berarti kamu jarang nonton sinetron ini.”

“Iya Kak Ubay.”

“Waktu itu, aku pernah bertemu Cut Syifa di acara meet and greet. Lalu Cut syifa memperkenalkan temen barunya. Aku melihat lihat kalau temen itu kamu. Muka kamu mirip temen Cut Syifa. Bener kan kamu?”

“Wih, rupanya sudah kenalan dengan artis.”

“Dih, Kak Ubay mah bohong. Aku gak kenal Cut Syifa. Mungkin orang lain.”

“Tapi namanya tuh Kinos.”

“Emang meet and greed dimana? Sumpah itu aku?”

“Iya, bener itu kamu. Cuma di mimpi, ha ha…”

“Tuh, kan, kak Ubay bohong.”

“Nama panggilanmu siapa, manis? Bener kinos?” tanya salah satu viwers.

“Nama asliku Zakianas. Kalau dipanggil zaki, mirip cowok. Kalau dipanggil anas, ya sama juga. Jadi temenku manggil Kinos.”

“Nama yang unik, cocok buat cerita fiksi.” kataku.

“Wih. Emang Kak Ubay penulis cerita?” tanya Kinos

“Iya. Aku punya novelnya. Kamu suka baca novel?”

“Ya, gak terlalu suka. Gak suka baca intinya, he he. Sukanya yang visual, audio-visual.”

“Oh, gitu. Kalau mau, nanti aku kirim. Tapi tidak di sini.”

“Iya Kak Ubay, DM aja ya.”

“Okey”

Aku banyak berbincang-bicang bersama Kinos dan teman sesama viewers lainnya. Karena Kinos termasuk baru di live streaming Go Live, ia lebih banyak ditanya persoalan agency, admin dan rencana ke depan di dunia live streaming.

Setelah selesai, aku melanjutkan memberikan informasi lewat pesan private. Sedikit obrolan, aku dan dia hanya memberikan informasi akun Instagram.

Aku tidak menyangka bisa berkenalan dengan sosok duplikasi Cut Syifa di live streaming Go Live. Di dalam live streaming ini, aku tidak banyak menemukan perkenalan. Aku hanya berfokus mengobrol bersama Dinda Clara, Ninis dan tentunya Cut Syifa, eh Kinos. Ya, mereka bertiga yang menemani hari-hariku dalam obrolan sampai berbuah kedekatan.

Akhirnya, aku berkenalan dengan Cut Syifa, idolaku. Ya, walaupun Kinos hanya sekedar duplikasi Cut Syifa, ini sudah menjadi kebahagiaan sendiri. Sampai akhirnya, aku bersedia menyediakan waktu untuk membuat cerita fiksi untuk Kinos. Dengan seperti ini, perkenalanku dengan Kinos, duplikasi Cut Syifa, berbuah cerita romantis. Ehem, aku menganggap cerita romantisan bukan hanya terjadi

“Makasih, Kak Ubay. Udah membantuku di dalam dunia live streaming.”

“Sama-sama.”

“Menurut, apa yang kurang dariku?”

“Kamu kurang ekspresif, kurang menyambut. Nanti juga kamu bisa seperti host yang lain. Kamu perlu mengunjungi banyak host untuk mengetahui bagaimana obrolan live. Kalau kamu sudah mahir jadi host, banyak spender yang tertarik dengan tampilanmu.”

“Spender itu apa ya Kak?”

“Spender itu bisa dikatakan mirip bos. Makanya, kamu harus bisa menampilkan acara live streaming yang menarik biar banyak bos-bos yang memberimu give alias hadiah.”

Aku mengajari Kinos menjadi host terbaik yang akan menampilkan suatu obrolan yang berkualitas. Menjadi host berkualitas maka spender yang datang adalah spender yang menginginkan kualitas obrolan host. Banyak spender yang rela membayar host dengan memberikan syarat berupa hal-hal negatif seperti tampilan syur, dan sejenisnya. Setidaknya, beberapa spender meminta menjadikan istri atau pacar. Pada intinya, para spender memiliki kepentingan sendiri dalam menanggung aktifitas live streaming host.

“Aku harus banyak belajar Kak Ubay. Tapi gimana ya belajarnya?”

“Begini, Nos. Siap?”

“Siap”

Menjadi host tentu seperti host pada umumnya yaitu sebagai pengajak obrolan. Namun di sini, host tampil di acara live streaming. Jadi, host harus bisa menghadirkan nuansa kedekatan, persahabatan dan warna-warni obrolan lainnya. Bila punya banyak pengalaman dan pengetahuan, host bisa menyalurkannya dalam obrolan. Ini host berkualitas yang memang untuk kerja berkualitas di live streaming.”

“Oh, gitu. Aku masih jauh, Kak Ubay.”

“Iya, kamu masih perlu banyak belajar. Nanti aku temenin kalau kamu live.”

“Yeeee, makasih Kak Ubay.”

Obrolan demi obrolan, baik di Line atau live streaming, aku dan Kinos seperti sudah seperti Kakak dan Adik. Bahkan, menurut Ninis, aku seperti bapak Kinos. Apapun itu, aku menjadi orang yang dituakan yang bisa diandalkan untuk sekedar share pengalaman berkualitas dalam dunia live streaming untuk Kinos.

“Namamu unik, Kinos. Nama cerita.”

“Wih, masak?”

“Aku mau buatkan cerita pendek penuh romantis untuk Kinos dan temennya, Cut Syifa.”

“Makasih Kak Ubay. Tapi aku bukan temen Cut Syifa!”

“Biarin aja, biar romantis!”

“Wih, jadi penasaran gimana cerita romantisnya.”

“Insya Allah, Kinos akan mendapat hadiah kalau proyek ini gol, sukses.”

“Hah? Yang bener? Serius? Wih, aku jadi seneng. Makasih lagi. Jadi makin gak sabar pengen baca cerita romantisnya.”

No comment for Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More

Menolak Cerita Lucu Masa Kecil Clara Oktavia

Posted at September 16, 2018

Banyak cerita lucu di masa kecil karena masa itu adalah masa lucu-lucunya. Setelah dewasa, kita pun bisa menertawakan masa kecil kita yang dianggap cerita... Read More