HOME
Home » Buku Bercerita » Memetik Cerita Sukses Dinda Clara Oktavia

Memetik Cerita Sukses Dinda Clara Oktavia

Posted at Agustus 9th, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

Sore kembali mengulang, merubah kenyataan menjadi cerita kenangan. Kenangan itu terasa manis buatku tentunya buat Dinda Clara ketika selesai dalam live streaming perdana di Golive Dinda Clara. Cerita sukses Dinda Clara seperti obat pelipur lara akibat manajemennya diberhentikan bekerjasama oleh aplikasi live streaming terdahulu. Cerita sukses itu adalah Dinda Clara diterima sebagai asisten dosen mata kuliah jurusan Dinda Clara di UIR, Universitas Islam Riau. Semangat S2 Dinda Clara seperti makin terbuka lebar. Seperti pada umumnya cerita sukses, dinda tetap merasa terbebani dengan kesuksesannya. Tetapi, itulah cerita sukses Dinda Clara dengan tanggungajawabnya.

Dengan kopi yang masih hangat, aku menyeruputnya.

Setelah itu, aku kembali dalam perenungan mengenai proyek masa depanku yang melibatkan Dinda Clara. Ibaratnya, aku seperti seorang produser yang merencanakan sebuah program. Ah, istilah produser terlalu tinggi bila sekedar proyek ala kadarnya. Tetapi, walaupun ala kadarnya, potensi penghasilannya bisa besar, 3 digit.

Aku menyeruput kopi kembali. Barangkali kopi sudah menjadi dingin akibat pemikiran beratku yang ala produser sampai membuat badan aku agak dingin.

Aku menghirup nafas kelegaan karena Dinda Clara memulai live streaming kembali di tanggal 8 agustus ini. Hidupku seperti mendapatkan harapan besar ketika Dinda Clara kembali lanjut dalam dunia live streaming walaupun agak tabu dengan harapanku ini. Aku khawatir aktifitas live streaming menggangu aktifitas penting Dinda Clara. Tetapi, ditengah ketabuan, aku harus menjadikannya sebagai target proyek yang lebih mencerahkan. Live streaming bisa menjadi proyek berkualitas untuk Dinda Clara dan juga untuk aku juga. Entahlah, aku mengalir dengan cerita ini, barangkali menjadi cerita sukses di lain waktu.

“Aku mengalir bersama cerita Dinda Clara, barangkali menjadi cerita sukses di lain waktu”

Sebelumnya, aku terputus live streaming bersama Dinda Clara selama 8 hari. Dinda Clara berpisah dengan aplikasi lama pada tanggal 1 Agustus. Bayangan cerita perpisahan itu menjadi kenyataan seperti yang sudah aku pikirkan walaupun bukan berpisah dengan cerita hidup aku. Di tengah pemutusan kontrak, Dinda Clara menanti harapan live streaming baru yang lebih baik lagi. Di tengah-tengah perpisahan, aku menahan rindu, rindu dengan kebingungan: antara harapan live streaming atau harapan fokus meningkatkan perkuliahan Dinda Clara. Ah, sudah lah, aku harus mengikuti apa yang dimau Dinda Clara.

Sambil menanti live streaming terbaru, Dinda Clara menenggelamkan dirinya dalam dunia liburan di tempat asal orang tuanya, Padang, selama satu minggu sebelum memasuki perkuliahan. Tentunya, ia menikmati liburan di pulau Pasumpahan dengan keindahan pantau lautnya. Aku hanya melihat penuh bahagia lewat ceritanya di Instagram, bagaimana ia bahagia menikmati liburan. Aku tidak perlu menganggu mengenai kebahagiaan dirinya.

Sebelum mendapat kabar soal program live streaming terbaru dari Dinda Clara, sebenarnya aku memiliki firasat mengenai hal ini. Pada awalnya, aku melihat jumlah followers instagram @laraoktaviaaa milik Dinda Clara. Jumlah follower instagram Dinda Clara mengalami penaikan yang tidak seperti biasanya. Aku mengira, Dinda Clara mencari follower atau kedatangan follower yang banyak. Dari situlah, aku mendapatkan tanda-tanda bahwa Dinda Clara akan memulai live streaming. Tetapi, aku tidak tahu di aplikasi apa Dinda Clara memilih untuk aktifitas live streaming-nya.

Aku menghubungi Dinda Clara.

“Oke dinda, kalau udah aktif ngelive, kasih tahu (mantan aplikasi lama kini kembali. Masak Dinda Clara yang syantik gak kembali. Ngerayu). Nanggung nih, belum berkisah banyak. Private mah larinya modus. Gak usah balas.”

Seperti biasa, aku menuliskan kalimat “tidak usah balas” sebagai pembebasan waktu untuk Dinda Clara. Aku tidak mau membebani Dinda Clara. Kalaupun mau membalas, Dinda Clara otomatis membalas. Tentunya, informasi Dinda Clara memulai live streaming.

“Besok sore join ya clara trial di golive,” balasnya.

Yes, cerita sukses yang benar-benar sukses. Aku sukses menuruti firasat diri sendiri dengan bukti bahwa Dinda Clara mau melanjutkan live streaming walaupun di aplikasi yang berbeda.

Firasat itu adalah kata hati, intuisi, insting. Rata-rata orang sukses di seluruh dunia mengandalkan firasat, intuisi, kata hati dalam menentukan keputusan. Intuisi itu intisari dari berbagai pengalaman yang bermanfaat. Masalahnya, banyak orang yang mengabaikan firasatnya.

“Orang sukses di seluruh dunia mengandalkan intuisi untuk keputusan cerdasnya”

Ah, aku melihat kopi kembali. Sepertinya, kopi sore sudah memutuskan untuk mengikuti suasana sore yang makin sejuk. Aku menyeruput kopi hitam ini yang sudah menjadi teman setia harian. Setelah itu, aku berbaring.

Aku merasa lega sekali dengan berita ini: Dinda Clara live streaming. Kebahagiaan dan kesuksesan datang untuk kehidupanku.

Aku memutar lagu bahasa minang yang dinyanyikan Ipank feat Rayola. Lagu Rantau Den Pajauah yang kebetulan aku dengar. Aku menyukai lagu ini. Lagu ini cukup menyentuh. Bulu kudukku sampai agak berdiri. Sejak dulu, aku menyukai lagu-lagu bergaya slow seperti ala malaysiaan, nike ardilaan dan lainnya. Menurutku, lagu yang dibawakan Ipang seperti khas malaysia. Musik khas minang tidak seperti yang dibawakan Ipang.

Dalam pikiran kelas standar, aku mengulang kembali bayangan seputar cerita sukses itu. Aku membayangkan kembali mengenai aktifitas live streaming perdana Dinda Clara. Kebetulan, arsip live streaming Dinda Clara tidak tersimpan dalam aplikasi baru ini. Apakah Dinda Clara lupa menyimpannya atau memang tidak bisa, aku belum mengetahui hal ini.

“Aku mau curhat nih,” kata Clara.

“Salam kenal Clara. Baru nih?”

“Iya. Baru. salam kenal. Salam kenal semua di room Clara”

“Masih trial?”

“Iya, jangan lupa follow ya.”

“Kok cantik sih.”

“Ma’acih”

Aku menanti curhat Dinda Clara, tatapi ia gagal fokus.

“Curhatnya mana?” aku menangih ucapannya.

“Oh iya, aku mau curhat nih.”

Lagi-lagi, pengunjung baru mengalihkan fokusnya. Dinda Clara gagal fokus. Aku tetap dalam jalur fokus karena tugasnya hanya menonton. Dinda Clara memang tidak kuasa fokus dengan kemunculan beberapa komen. Suasana yang berubah-ubah dengan waktu cepat memang bisa mengaburkan fokus. Pengalihan ini disebut pengalihan otomatis. Orang sulit menghindar dari menengok ketika ditepuk atau dipanggil namanya oleh orang lain. Tetapi, aku percaya bahwa ia masih menyimpan niat untuk curahan hatinya, cerita dari hatinya.

Pada akhirnya, Dinda Clara sukses menceritakan sesuatu.

“Kemaren aku liburan loh. Di pantai. Pantainya tuh enak banget.”

“Di pantai mana?” tanyaku.

“Di pantai Padang. Airnya tuh jernih. Tapi aku takut. Di situ ada ubur-ubur. Aku takut kesetrum.”

“Ubur-ubur ternyata ada listriknya, ha ha,” candaku.

“Iya. Kan ada sengatnya,” tambah Dinda Clara.

“Emang kamu orang mana?” tanya orang.

“Aku orang Pekanbaru. Tapi asal orang tuaku dari Padang. Batusangkar.”

“Kirain teh orang sunda.”

“Ya ya. Aku teh emang mirip orang Sunda, padahal orang Padang, Pekanbaru.”

“Emang pantainya namanya Padang doang?” tanyaku.

“Enggak sih, namanya tuh pulau Pasumpahan. Tahu gak tuh cerita legendanya Pasumpahan? Katanya sih legendanya ada anak yang durhaka. Jadilah itu pulau Pasumpahan. Gak tahu juga sih.”

“Oh Pasumpahan. Pantas pantainya yahuut,” kataku.

Kita belum lupa dengan nama Malin Kundang, cerita rakyat dari tanah Minang. Di area pulau Pasumpahan ini lah, konon, sosok Malin Kundang menemukan ajalnya menjadi batu. Pulau yang memberi cerita tentang sosok anak rantau yang berbuah menjadi durhaka pada orang tuanya yakni pada ibu. Karena durhaka, ia mendapat ganjaran menjadi batu. Apakah benar?

Aku belum paham detail persoalan Malin Kundang. Karena belum paham, aku membuka laptop untuk mencari informasi Malin Kundang. Aku menemukan banyak bahan bacaan. Namun aku lebih memilih situs berita seputar Minangkabau. Karena lelah, aku mengurungkan niat untuk mendalami.

Entah, kenapa disebut Malin Kundang? Ah sudah lah. Yang jelas, Malin Kundang bernama asli Boko, katanya.

Kita seneng mendengar cerita sukses dari banyak orang. Tetapi, kita seperti tidak seneng mendengar cerita-cerita gagal. Malin Kundang adalah sosok pemuda sukses. Namun ia juga menjadi sosok yang gagal menjadi manusia. Tidak mengakui mereka sebagai orang tua kita adalah bukti nyata gagal menjadi manusia. Alangkah baiknya, cerita sukses atau gagal, kita harus mendengarkan dengan sukarela agar menjadi pelajaran bagaimana kesuksesan tidak membuat kita gagal menjadi manusia.

“Kita harus mendengarkan dengan sukarela kisah sukses atau gagal agar menjadi pelajaran”

Dinda pun kembali mengungkapkan cerita.

“Aku gak tahu nih live streaming bisa lancar atau gak. Soalnya baru diterima jadi asisten dosen.”

“Waw. Hebat! Dinda jadi asisten dosen. Ada kesempatan jadi dosen nih.”

“Amin. Semoga ya Kak Ubay.”

Aku lupa, pada dosen siapa Dinda Clara menjadi asistem. Yang jelas, ia menjadi asisten dosen untuk jurusan yang diambil yakni teknik perminyakan.

Usaha Dinda Clara yang mengikuti seleksi menjadi asistem dosen memang tidak sia-sia. Hanya saja, ia pun mengikuti seleksi lain. Aku lupa seleksi keduanya. Yang jelas, ketika Dinda Clara berhasil lolos di kedua seleksi, ini menjadi tanggungan yang bertambah berat. Bagaimana live streaming-nya?

“Emang anak aktif mah cerdas. Tapi, gak usah maruk gitu lah,” kataku.

“Gak maruk, Kak.”

Lalu Dinda Clara menceritakan alasan mengikuti dua seleksi. Sebenarnya, ia mengawali seleksi di program lain. Ini belum ada kepastian diterima. Ketika belum ada kepastian, ia mengikuti seleksi menjadi asisten dosen. Nah, seleksi asistem dosen sudah memberikan hasil lebih dahulu.

“Oh gitu. Berati benar-benar semangat nih lanjut S2?”

Obrolan agak terganggu karena layar live streaming sedang bermasalah. Entah, Dinda Clara mengucapkan kata apa di tengah layar live streaming yang agak eror.

Buat Dinda Clara, semoga kamu tetap sukses sehingga punya cerita yang berkualitas untuk anak-anakmu nanti.

“Kita sukses terbang itu bukan seberapa besar atau banyak balon tapi dari seberapa sering putaran angin menerbangkan balon sampai kita terbang. Aku jadi anginmu, ceileh”

No comment for Memetik Cerita Sukses Dinda Clara Oktavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Memetik Cerita Sukses Dinda Clara Oktavia

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More