HOME

Menulis Kalimat Efektif Tunggal Majemuk Untuk Cerita

Posted at Mei 20th, 2019
kalimat efektif tunggal

Di sini akan menjelaskan mengenai cara menulis kalimat efektif untuk kepentingan membuat cerita, baik kalimat tunggal atau kalimat majemuk. Pembahasan ini mendasarkan pada kecenderungan penulis pemula yang mengabaikan dalam menulis kalimat efektif. Biasanya, ini terjadi dalam menulis cerita. Memang, tidak mempedulikan kalimat efektif dalam menulis cerita menjadi hak penulis. Terpenting, penulisannya bisa dipahami pembaca khususnya memahami maksud cerita yang ditulisnya. Biasanya, penulis mengunggulkan keindahan dalam menulis cerita agar terlihat puitis. Tetapi, hal ini menjadi bermasalah jika si penulis cerita tidak memahami bagaimana menulis kaimat efektif, baik kalimat tunggal atau majemuk. Jadi, saya perlu menjelaskan mengenai cara menulis kalimat efektif.

Pada dasarnya, menulis kalimat efektif bertujuan untuk memudahkan pembaca memahami isi tulisan, dalam hal ini tulisan cerita. Dengan menulis kalimat efektif, berarti anda menulis sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Seperti yang dilansir Wikipedia bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang memang disusun berdasarkan kaidah-kaidah seperti terpenuhinya unsur kalimat, berdasarkan ejaan yang disempurnakan alias EYD dan juga pemilihan kata. Memang, menulis kalimat efektif sendiri memiliki kesulitan bila belum mengalami pelatihan. Tetapi, paling tidak, si penulis memahami bagaimana menulis kalimat efektif, kalimat tunggal, kalimat majemuk.

Cara Menyusun Menulis Kalimat Efektif

Penulis akan menjelaskan cara menyusun menulis kalimat efektif berdasarkan panduan Nurhadi dalam buku Handboox Of Writing. Penulis merasa belum memiliki keahlian yang memadai dalam membahas cara menyusun menulis kalimat efektif sehingga membutuhkan pendapat ahli, dalam hal ini Nurhadi dalam buku tersebut. Di samping itu, menyusun menulis kalimat efektif merupakan pembahasan teknis sehingga membutuhkan panduan buku yang sudah dianggap terpercaya. Artinya, saya menulis setelah memiliki buku panduan menulis, bukan hasil copy-paste dari artikel internet yang banyak beredar. Hal ini untuk melihat sisi kebenaran pendapat menurut pendapat ahli, dalam hal ini Nurhadi.

Tentunya, pembahasan cara menyusun menulis kalimat efektif untuk kebutuhan menulis cerita. Pembahasan ini untuk mengingatkan para penulis pemula untuk lebih mementingkan menulis kalimat secara efektif. Banyak penulis mengabaikan penulisan kalimat efektif demi menggapai keindahan dalam penulisan, demi terlihat puitis dalam menulis cerita. Hal ini bisa dibenarkan jikalau si pemula sudah memahami bagaimana menulis kalimat efektif dalam bentuk cerita. Tetapi, apakah mereka benar-benar paham? Hal ini pun pernah dialami saya sendiri: rajin menulis cerita, tidak mengetahui cara membuat kalimat efektif. Alasanya simpel: menulis cerita lebih mengasikkan bila melepas diri dari panduan menulis efektif, baik kalimat tunggal atau majemuk.

Ada hal yang paling mudah untuk memberikan alasan pengabaian menulis kalimat efektif yaitu lebih berfokus pada penuangan pikiran dalam bentuk tulisan. Namun, hal ini bisa diatasi dengan proses editing.

Silahkan anda memahami kalimat per kalimat dalam cerita di bawah yang diambil dari novel Milea – Suara Dari Dilan.

contoh kalimat tidak efektif

Apakah anda merasa kesulitan memahami kalimat per kalimat di atas? Hm…

Bagaimana cara menyusun menulis kalimat efektif? Berikut pembahasannya.

1. Menulis Kalimat Efektif Harus Lengkap Bagian-Bagiannya

Catatan pertama yang ditekankan Nurhadi dalam bukunya adalah kalimat harus berdiri sendiri. Kalimat harus membangun maknanya sendiri. Pengertian lainya, kalimat bukan bagian dari kalimat sebelum atau sesudahnya. Sekalipun bagian dari kalimat lainnya, ini masuk dalam pembahasan paragraf. Tetapi, pada  dasarnya konsep kalimat harus mandiri.

Sebagai contoh: Aku pergi ke pasar

Kalimat “saya pergi ke pasar” sudah menunjukkan makna dan kemandiriannya. Tanpa perlu kalimat lain, ini sudah membangun maknanya sendiri.

Contoh lainnya: ketika aku pergi ke pasar

Rangkaian kata tersebut terkesan kalimat. Tetapi, ini sebenarnya bukan termasuk kalimat. Rangkaian kata itu masih membutuhkan bantuan kalimat lain. Artinya, makna dari rangkaian kata itu masih mengambang, tidak jelas.

Itulah pembahasan kalimat efektif bagian pertama.

Catatan kedua adalah mengandung unsur inti kalimat. Pembahasan ini sebagai penjelas catatan pertama di atas. Apa saja unsur inti kalimat? Anda pun sepertinya sudah tahu. Unsur inti kalimat itu meliputi subjek (S), predikat (P), dan juga objek (O). Memang ada penambahan unsur lain yakni keterangan (K). Bila hal ini digabungkan akan menjadi S-P-O-K.

2. Menulis Kalimat Efektif Harus Memiliki Kesepadanan

Mari mengambil pendapat dari Nurhadi. Menurutnya, maksud dari kesepadanan adalah memiliki keseimbangan antara gagasan dan struktur kalimat. Seperti kata kata “subjek” harus dijelaskan dengan lagi dengan kata “predikat”. Hal ini tidak ada penambahan lain yang mengaburkan subjek dan predikat kecuali ada pembahasan kalimat lain yang menegaskan kesubjekan dan kepredikatan. Untuk lebih jelas, saya akan menjelaskan tanda-tanda kesepadanan itu seperti apa menurut Nurhadi.

  • Tidak terdapat kata tugas di depan subjek

Banyak pemula melakukan kesalahan dalam menulis kalimat. Mereka memang membuat kalimat efektif standar S-P-O-K. Artinya, mereka membuat kalimat dengan melengkapi bagian-bagiannya sehingga membangun makna tersendiri di dalam kalimat. Tetapi, mereka memberikan tambahan kata tugas di depan subjek seolah-olah bagian dari subjek. Hal ini perlu hati-hati dalam menulis kalimat karena akan tidak efektif dan merusak makna.

Contoh salah : Bagi orang pacaran harus selalu memberikan rasa cinta kepada pasangannya agar selalu setia.

Contoh benar: Orang pacaran harus selalu memberikan rasa cinta kepada pasangannya agar selalu setia.

  • Tidak memiliki subjek ganda

Apakah penulis sering menggunakan subjek ganda? Seperitnya jarang yang melakukan penulisan subjek ganda. Kecuali, mereka masih pemula dalam menulis kalimat. Biasanya anak remaja yang masih belajar menulis. Tetapi, pembuatan subjek ganda pada kalimat bisa terjadi bagi mereka yang sedang mengalami sulit fokus dalam menulis.

Contoh salah: kegiatan belajar di kelas, aku banyak mengamati sikap teman-teman di sekolah.

Contoh benar: dalam kegiatan belajar di kelas aku banyak mengamati sikap teman-teman di sekolah.

Bila memiliki dua subjek, solusinya harus menambahkan kata penghubung seperti contoh di atas. Sehingga, kata subkjek berubah menjadi kata keterangan.

  • Tidak menggunakan kata penghubung antar kalimat dalam kalimat tunggal

Banyak penulis yang memang tidak sengaja atau tidak mengetahui mengenai aktifitas penulisan kata penghubung antar kalimat dalam kalimat tunggal. Saya pun sering mengalami hal demikian. Padahal, kalimat efektif yang memiliki nilai kesepadanan harus membuat kata penghubung antar kalimat dalam kalimat tunggal. Memang, praktek masalah ini agak menyulitkan. Solusinya, penulis harus mempelajari soal kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Bila sudah memahami dalam menulis kalimat tunggal dan majemuk, penggunaan kata penghubung akan jauh lebih terkontrol dalam menulis kalimat.

Contoh salah: pengungkapan rasa cintaku tidak pada momen yang tepat. Sehingga, gadis kecintaanku menolakku.

Contoh benar: pengungkapan rasa cintaku tidak pada momen yang tepat sehingga gadis kecintaanku menolak cintaku.

Untuk masalah pembahasan kalimat tunggal dan kalimat majemuk dalam pembuatan kalimat efektif, saya akan menjelaskannya setelah ini.

3. Hemat Dalam Menggunakan Kata-Kata Dalam Kalimat Efektif

Salah satu ciri dalam menulis kalimat efektif, baik kalimat tunggal atau majemuk adalah hemat dalam menggunakan kata-kata. Sekalipun memenuhi unsur S-P-O-K dan terjaga dalam penulisan yang mengganggu hubungan itu, hal ini belum dianggap sempurna bila ada pemborosan kata-kata.

Banyak penulis yang sering melakukan pemborosan kata dalam subjek. Biasanya karena faktor ketidakpuasan dalam membuat kalimat tanpa pengulangan kata dalam subjek. Jadi, mereka menyelipkan subjek kembali pada kalimat.

Misal pengulangan subjek dalam kalimat: Kalau kamu bisa membuktikan rasa cintamu, kamu akan mendapatkan kepercayaan cinta dariku. Anda bisa melihat kata “kamu” sebagai subjek atas suatu kalimat pertama. Kalimat berikutnya diberi diberi subjek. Ini sudah termasuk pemborosan kata karena ada pengulangan subjel pada kalimat.

Seharunya, anda bisa menulis dengan kalimat seperti ini: Kalau kamu bisa membuktikan rasa cintamu, akan mendapatkan kepercayaan cinta dariku.

Bisa juga membuat dengan kalimat seperti ini: Kalau bisa membuktikan rasa cintamu, kamu akan mendapatkan kepercayaan cinta dariku.

Sering juga penulis menggunakan superordinat pada hiponim. Anda mungkin pernah menulis “buah apel”. Padahal, kata apel sudah termasuk jenis buah sehingga tidak perlu memasukkan kata buah dalam tulisan kata apel. Ini dianggap pemborosan kata sehingga agak tidak efektif. Hal ini bisa terjadi akibat terlalu fokus dalam imajinasi penulisan cerita.

Penulis juga sering menggunakan kata-kata bersinonim seperti memakai kata “agar” bersama “supaya”.

Contoh: aku akan menikahimu agar supaya bisa menjaga cinta kita sampai akhir hayat.

Satu lagi yang membuat penulis lalai. Tentang apa? Tentang menjamakkan (membanyakkan) kata-kata yang sudah banyak. Artinya, memberikan keterangan jamak (banyak) pada kata yang sudah dijelaskan jamaknya (banyaknya). Contohnya: banyak wanita-wanita yang mencintaiku. Padahal, si penulis sudah memberikan kata “banyak” tetapi masih menggunakan kata “wanita-wanita” atau sudah memberikan kata “wanita-wanita” tetapi masih memberikan kata “banyak”.

Anda bisa memilih salah satunya yang mencirikan sebagai jamak. Contohnya: banyak wanita yang mencintaiku atau wanita-wanita mencintaiku (tentunya menyesuaikan dengan kepantasan dalam kalimat efektif)

4. Cermat Dalam Memilih dan Menempatkan Kata

Anda harus cermat dalam memilih dan menempatkan kata agar tidak membingungkan pembaca. Biasanya, ha ini terjadi ketika subjek diberikan imbuhan kata lagi sebagai penguat spesifikasi subjek. Lagi-lagi, melakukan ini bisa terjadi bagi mereka yang sudah berpengalaman menulis. Apalagi pemula, mereka lebih sering memilih dan menempatkan kata yang tidak sesuai sehingga membingungkan pembacan.

Contoh salah: buku pacar yang baru hilang di dalam kelas.

Kira-kira, mana kah yang baru? apakah buku atau pacar? Pemula dalam menulis biasanya mengabaikan aspek tambahan kata “yang”. Mungkin kata “baru” bertujuan untuk disematkan pada buku. Tetapi, kata “pacar” mempengaruhi penyematan ini. Jadi, pembaca akan dipusingkan dengan penyematan yang salah ini. Bagaimana seharunya?

Contoh benar: buku baru milik pacar hilang di dalam kelas.

Jadi, anda harus memperhatikan kata “yang” di tengah kata yang lain agar tidak membingungkan para pembaca.

5. Kalimat Efektif Harus Logis Makanya

Oke, anda bisa menulis kalimat efektif. Tetapi, apakah kalimat yang anda tulis bisa masuk akal? Ini harus anda perhatikan dalam menulis kalimat efektif. Kalimat efektif bukan hanya menulis berdasarkan aturan-aturan yang ada. Kalimat efektif pun harus memiliki makna yang memang masuk akal atau setidaknya menggunakan kata-kata kalimat yang pantas sesuai konten tulisannya. di pembahasan ini, anda sudah masuk ke dalam kritis literasi, kritis bahasa. Artinya, anda harus mengembangkan pola pikir mengenai apa yang ditulis. Anda harus memiliki pikiran cermat dalam memilih dan menempatkan kata kalimat efektif.

Mungkin anda sering mendengar kalimat seperti ini: “Untuk mempersingkat waktu, aku ingin mengatakan sejujurnya padamu.” Apa yang sering anda dengar? Anda sering mendengar kata-kata “mempersingkat waktu”. Nah, disinilah anda harus cermat dalam memilih dan menempatkan kata. Apakah waktu bisa disingkat? Bukankah waktu hanya bisa dihemat? Secara susunan kalimat efektif, ini sudah dianggap benar. Tetapi, hal ini menjadi tidak benar karena ada istilah “mempersingkat waktu”. Kalimat efektif yang memberikan rangkaian kata yang logis.

6. Tentunya Kalimat Tidak Rancu Dalam Penambahan Kata dalam Kata

Sering kira dibingungkan dengan penambahan dalam kata (atau biasa disebut pengembangan kata) yang biasanya digunakan untuk kata kerja, baik kata kerja aktif atau pasif. Hal ini bisa menimbukan perubahan makna. Kata “menambahkan” tentu berbeda dengan kata “menambahi”, “bertambah” dan “penambahan” dalam segi membangun makna kalimat. Karena itu, penempatan kata juga harus tepat sehingga tidak menimbulkan kerancuan makna. Anda harus memahami makna tiap penambahan dalam yang berbeda-beda.

Contoh salah: aku membelikan novel adik

Di samping penulisan salah, pembaca pun dibuat bingung karena ketidakadaan kata penghubung.

Contoh benar: aku membelikan adik novel

Contoh kedua sudah benar walaupun untuk pembaca yang belum berpengalaman akan dibingungkan dengan contoh kalimat di atas. Maka dari itu, penulis harus menghindari dari cara penulisan yang mengabaikan kata penghubung.

Contoh benar dan bisa dipahami: Aku membelikan novel untuk adik; aku membeli novel untuk adik

Cara Menyusun Menulis Kalimat Efektif Tunggal Dan Majemuk

Kalau sudah memahami cara membuat kalimat efektif, anda akan dengan mudah bagaimana cara membuat kalimat efektif tunggal atau majemuk. Pembuatan kalimat tunggal atau majemuk lebih kepada jumlah kalimat yang saling kait-mengkait. Tentunya, maksud kalimat tunggal memiliki dua atau lebih dari dua unsur, setidaknya sampai predikat. Ini bisa disebut klausa. Klausa kalimat tunggal hanya satu karena memiliki satu subjek dan satu predikat. Sedangkan kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari beberapa klausa yakni dari beberapa kalimat tunggal.

Contoh kalimat tunggal: aku mencintai ani.

Contoh kalimat majemuk: aku mencintai ani sedangkan ani mencintai roma; aku mencintai ani dan roma mencintai siska.

Pada dasarnya, kalimat tunggal atau kalimat majemuk sebagai bentuk variasi menulis kalimat. Beberapa bentuk kalimat memang ada yang mengharuskan untuk tunggal dan untuk majemuk. Bisa dikatakan, menulis kalimat tunggal atau majemuk bersifat kondisional, tidak bisa memaksakan diri untuk membuat kalimat hanya tunggal atau mengharuskan untuk majemuk.

Untuk lebih memudahkan penjelasan mengenai menulis kalimat efektif tunggal dan majemuk, saya akan menjelaskan pembagian mengenai kalimat majemuk. Untuk penulis kalimat tunggal memang tidak ada pembagiannya. Beriku pembahasan mengenai menulis kalimat majemuk.

1. Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara kalimat yang antar klausa memiliki keunggulan kalimat tersendiri. Kalimat majemuk setara bisa berdiri sendiri melengkapi kalimat sesudah atau sebelumnya. Kalimat majemuk setara tidak mengenal anak kalimat dan induk kalimat. Menulis kalimat majemuk setara bertujuan untuk penambahan, hubungan perlawanan, perbandingan, dan bisa juga pemilihan. Pada intinya, menulis kalimat majemuk seolah mementingkan kemandirian pada masing-masing kalimat. Bila seperti ini, menulis kalimat majemuk setara harus memperhatikan kata penghubung yang dipakai. Tidak semua kata penghubung bisa untuk menulis kalimat majemuk setara.

Contoh:

Aku memiliki cinta pada fulan, tetapi fulan tidak memiliki cinta padaku

Aku ingin menikahi Fulan dan banyak orang yang ingin menikahinya.

Kamu bisa memilih aku atau memilih dia sebagai kekasih

Melihat kalimat contoh kalimat majemuk setara, apakah anda melihat keunggulan masing-masing kalimat? Ya, itulah ciri khas dari kalimat majemuk setara yang tidak memiliki induk dan anak kalimat. Istilah setara tentunya sama-sama memiliki hak untuk berdiri sendiri. Kata penghubung menjadi hal penting dalam hal ini.

2. Kalimat Majemuk Bertingkat

Sebelum pembahasan, saya ingin memberikan contoh tulisan kalimat majemuk bertingkat. Dengan tulisan contoh kalimat majemuk bertingkat, diharapkan anda bisa memahami apa yang disebut kalimat.

Contoh:

Aku akan menikahinya ketika ia sudah berumur 20 tahun.

Ketika ia sudah berumur 20, aku akan menikahinya.

Menurut anda, dimanakah contoh tulisan induk kalimat dan anak kalimat dari kalimat majemuk bertingkat?

Nah, untuk mengetahui contoh tulisan induk kalimat dan anak kalimat dari kalimat majemuk bertingkat, anda harus memahami terlebih dahulu persoalan menulis kalimat majemuk bertingkat.

Apa pengertian kalimat majemuk bertingkat? Sederhana untuk mengartikannya. Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya bertingkat. Di sini, kalimat bisa dihukumi sebagai induk kalimat dan bisa dihukumi sebagai anak kalimat. Tentunya, untuk penghukuman tersebut membutuhkan kata penghubung seperti halnya pada kalimat majemuk setara. Contohnya anda bisa melihat di atas.

Setelah memahami bagaimana kalimat majemuk bertingkat, apakah anda bisa memahami, dimanakah induk kalimat dan anak kalimat pada contoh kalimat di bawah ini?

 Contoh:

Aku akan menikahinya ketika ia sudah berumur 20 tahun.

Ketika ia sudah berumur 20, aku akan menikahinya.

Induk kalimat berada pada kalimat “aku akan menikahinya” sedangkan anak kalimat berada pada kalimat “ia sudah berumur 20” karena terdapat kata penghubung. Pembedanya ada pada kata penghukung. Induk kalimat tidak memiliki kata penghubung, baik di depan atau di belakang anak kalimat sedangkan anak kalimat memiliki kata penghubung.

Kesalahan yang sering dilakukan para pemula adalah pemberian kata penghubung di dua kalimat: induk dan anak kalimat.

Bila/apabila …., maka ….

Jika …., maka ….

Kalau…., maka ….

Dan lainnya.

Biasasanya, pemula abai dalam hal penulisan yang menghindari dari pemberian kata penghubung untuk dua klausa: induk dan anak kalimat.

Contoh Koreksi Untuk Kalimat Efektif Tunggal dan Majemuk

Pembahasan contoh koreksi, penulis menggunakan contoh tulisan dalam novel Milea – Suara Dari Dilan. Di sini, penulis tidak sedang menyalahkan sang penulis novel ini yakni Pidi Baiq. Penulis hanya ingin menulis kalimat efektif baik tunggal atau majemuk untuk mempermudah pembahasan di atas. Biasanya, menulis kalimat efektif dalam sebuah paragraf memiliki kesulitan yang lebih besar. Dengan memberikan contoh koreksi untuk kalimat efektif tunggal dan majemuk, penulis berharap bisa memudahkan pembaca memhamai pembuatan kalimat efektif tunggal dan majemuk. Tentunya, pemberian contoh untuk kalimat efektif tunggal dan majemuk pun, saya tidak bisa lepas dari kesalahan. Karena penulis sendiri baru mendalami 🙂

contoh kalimat

Seperti ini hasil koreksi untuk kalimat efektif tunggal dan majemuk.

contoh kalimat efektif

Apakah anda sudah paham mengenai cara menulis kalimat efektif tunggal dan majemuk? Semoga saja anda memahami cara menulis kalimat efektif ini.

Kategori: Menulis Buku
Tags :

No comment for Menulis Kalimat Efektif Tunggal Majemuk Untuk Cerita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Menulis Kalimat Efektif Tunggal Majemuk Untuk Cerita

Cara Membuat Sinopsis Buku Cerita Untuk Pemula

Posted at April 27, 2019

Apa sih sinopsis dan bagaimana cara membuat sinopsis buku cerita untuk pemula? Sinopsis adalah gambaran besar yang berisi detail-detail pembahasan cerita. Detail-detil ini yang... Read More

9 Cara Membuat Puisi Bebas Untuk Buku Cerita

Posted at April 25, 2019

Apakah anda setuju keberhasilan menulis membuat puisi adalah ketika sudah bisa dikembangkan dalam bentuk cerita seperti cerpen dan novel? Bila anda setuju, lalu apakah... Read More

Cara Belajar Menulis dan Membaca Cerita Untuk Anak

Posted at April 8, 2019

Apakah anda pernah memikirkan bagaimana anak menulis dan membaca? Hal ini yang akan menentukan bagaimana belajar menulis dan membaca cerita untuk anak. Menurut anda,... Read More


error: Content is protected !!