HOME

Motivasi Belajar Bahasa Inggris Di Umur 30-an

Posted at Juni 4th, 2019
motivasi belajar

Cerita fiksi seputar Motivasi Belajar Bahasa Inggris Di Umur 30-an ini menceritakan pengalamanku terdahulu mengenai niat belajar bahasa Inggris. Kebetulan, di tengah perjalanan menemukan sosok teman cewek yang sudah memberikan obrolan tips belajar bahasa Inggris. Sebenarnya, obrolan itu tidak membuahkan motivasi belajar bahasa Inggris. Di perjalanan berikutnya, aku berkenalan dengan sosok teman cewek juga yang kebetulan lulusan fakultas pendidikan dengan program studi bahasa Inggris. Dari sinilah, aku membuat cerita fiksi seputar motivasi belajar bahasa Inggris. Tentunya, aku membuat cerita dengan memasukkan tips-tips motivasi belajar bahasa Inggris khusus umur 30-an

Selamat menikmati seputar cerita Motivasi Belajar Bahasa Inggris Di Umur 30-an

***

Obrolan itu, mengajakku untuk bertanya pada sosok wanita tentang sebuah cara belajar bahasa inggris. Masalahnya, aku tidak memiliki motivasi belajar bahasa inggris. Entahlah, apakah aku hanya berbasa-basi saja dalam bertanya cara belajar bahasa inggris ketika tidak ada motivasi untuk melanjuti tentang sebuah jawaban atas pertanyaan cara belajar bahasa inggris. Tetapi, obrolan itu tetap berlanjut sampai akhirnya wanita itu menjelaskan cara-cara belajar bahasa inggris. Aku agak sedikit terdorong untuk belajar bahasa Inggris lebih lanjut. Barangkali ini yang disebut motivasi dalam kepentingan belajar bahasa inggris.

Wanita itu bernama bernama Okta. Aku berkenalan bersamanya di dunia online. Aku senang sekali berkenalan dengannya.

Tetapi, kini, Okta pegi meninggalkan dunia online yang sering ia jalani. Tentunya, aku ikut ditinggal pergi. Teman-teman satu online pun ditinggal pergi. Okta pergi bersama cita-citanya yang berkeinginan melanjutkan S2 di luar negeri. Ah, aku tidak yakin meninggalkan kita hanya karena dunia online. Aku tahu ia sedang bermasalah dengan salah satu teman onlinenya, Secret. Entahlah, ada rahasia apa Okta dengan Secret. Mungkin inilah yang membuat Okta berhenti dalam dunia online.

“Kak Ubay, aku pergi dulu dari dunia online.”

“Baiklah kalau itu maumu.”

“Tetap belajar bahasa Ingggris kan? Tetap mendapatkan motivasi belajar bahasa inggris kan setelah aku pergi?”

“Baiklah. Aku tetap menjaga motivasi belajar bahasa Inggris darimu.”

“Jangan ada motivasi belajar bahasa inggris dariku. Dari orang lain saja.”

“Baiklah. Tapi, aku titipkan ucapan ini. Kalau aku boleh jujur, aku sayang Dinda sebagai adik. Maafkan semuanya. Aku pernah salah membuatmu malu dengan menghadirkan blog spesialmu. Aku pernah becandain kamu dengan Secret. Aku…”

“Motivasi Adalah Pendorong Untuk Kesuksesan”

“Sudah lah Kak Ubay, janganlah sebut Secret lagi. Aku juga tahu Kak Ubay sayang aku sebagai adik. Aku senang. Tapi maaf, aku gak bisa membalas lebih seperti yang pernah Kak Ubay kasih. Aku hanya kasih Kak Ubay doa.”

“Makasih, itu lebih dari cukup.”

“Aku juga sayang Kak Ubay. Maaf, selamat tinggal.”

Aku kaget membaca pesan terakhir dari Okta. Aku tidak bisa berkata-kata apa-apa untuk membalasnya. Sebelum aku membales, instagramku di blokir. Jadi, pesan terakhir itu benar-benar pertanda berakhirnya sebuah hubungan online. Aku tidak memahami ucapan itu sebelumnya. Akhirnya, aku harus merelakan kepergian Okta dengan memaklumi sikapnya yang berniat memblokir teman-teman online, termasuk memblokir akun Instagram miliku. Aku baru sadar pesan terakhir Okta untkku. Tetapi, aku tidak menyangka bahwa Okta menyayangiku.

“Tapi, apalah arti sayang bila pergi?”

Okta meninggalkan banyak kenangan yang yang berwarna di dalam pikiran dan perasanku. Termasuk, Okta meninggalkan motivasi belajar bahasa inggris. Aku tidak mengerti mengenai motivasi ini. Aku masih bingung, untuk apa motivasi belajar bahasa inggris yang Okta beri untukku? Di satu sisi, aku termotivasi untuk belajar lebih giat soal bahasa inggris. Di satu sisi, aku merasa sedih kehilangan sosok Okta yang rela membimbingku belajar bahasa inggris. Tetapi, biarlah kenangan bersama Okta berserang terus di dalam hatiku. Mungkin, aku akan memanfaatkan kenangan bersama Okta sebagai motivasi belajar bahasa inggris.

“Kita Harus Memiliki Motivasi Dengan Kebaikan”

Sebenarnya, aku memiliki keinginan menguasai bahasa inggris untuk kepentingan bisnis online Google Adsense. Menurut para master Google Adsense, blog luar negeri jauh lebih gurih dari blog bahasa Indonesia dalam menghasilkan uang dari Google Adsense. Padahal, blog berbahasa Inggris dengan blog berbahasa Indonesia membutuhkan permodalan yang tidak jauh berbeda. Karena itu, aku berkeinginan memiliki kemahiran berbahasa inggris. Ketika aku bisa menulis artikel bahasa Inggris, bisa menghemat modal membayar penulis. Padahal, aku tidak membutuhkan penulis. Jangan karena tidak bisa berbahasa inggris, aku mengandalkan penuls lain. Sayang, Okta yang biasa mengajariku bahasa Inggris pergi meninggalkanku.

Aku merenung kembali persoalan perbandingan blog bahasa inggris dengan blog bahasa Indonesia. Mengapa penghasilan Google Adsense blog bahasa Indoensia jauh lebih rendah dari blog bahasa Inggris ketika permodalan yang dikeluarkan tidak jauh berbeda? Hal ini masalah persoalan harga klik iklan di Google Ads. Tentunya, bagi orang bule, 1 dollar itu kecil. Tetapi, bagi orang Indonesia, 1 dollar itu besar. Nominal terkecil orang Indonesia adalah 50-100 rupiah. Jadi, harga klik $1=$10 bagi orang bule itu hal yang biasa. Bayangkan bila aku memiliki blog berbahasa inggris dengan menarget orang bule, berapa harga klik iklan yang akan didapatkan? Bila tidak mendapatkan uang $10, tentu $1 bisa didapatkan dengan mudah. Artinya, blog bisa menghasilkan minimal 10.000 sesuai pertukaran uang rupiah ke dollar.

Ah, aku harus menguasai bahasa Inggris agar bisa mendapatkan dollar dengan mudah. Tetapi, sepertinya berat menguasai bahasa Inggris di saat umurku sudah memasiki kepala 3 alias berumur 30-an. Menguasai bahasa Inggris berarti harus mengafal banyak kosakata. Aku bisa saja menghafal sedikit demi sedikit. Tetapi, aku mau menguasai berapa lama di saat harus menguasai ribuan kosataka? Belum lagi masalah menguasai Grammar. Untuk masalah menguasai conversation, aku tidak mempedulikannya. Fokusku pada penguasaan menulis berbahasa inggris. Bila harus menguasai, aku harus memiliki dan tetap memiliki motivasi belajar bahasa inggris yang besar. Bagaimana caranya?

Waktu itu, aku membeli buku panduan bahasa Inggris. Aku membeli buku di toko buku ternama yang ada di mal Cirebon. Sebenarnya, aku ragu dengan membeli buku panduan grammar. Masalahnya, informasi grammar bisa didapat dengan mudah. Tetapi, aku membutuhkan gambaran besar menguasai grammar bahasa Inggris. Aku pun berencana membuat blog seputar strategi belajar bahasa inggris dan bagaimana cara pengimplementasikannya. Dengan buku yang dibeli, aku berharap bisa menguasai grammar bahasa Inggris dengan cepat.

“Semua Orang Hidup Dengan Motivasi”

Aku pun banyak mendengarkan percakapan berbahasa inggris di Youtube. Walaupun aku mengabaikan conversation, tetapi, prinsip belajar mementingkan multi skill dalam berbahasa Inggris. Tujuan lainya agar aku mendapatkan kemudahan dalam menulis bahasa Inggris sesuai pengucapan orang bule. Tetapi, aku berpikiran bahwa penting sekali mengetahui pengucapan dan tulisan bahasa Inggris sekalipun tidak bisa mempraktekkan pengucapan dalam mulutku.

Bila mengacu pada saran Okta, aku harus melakukan banyak translit bahasa lewat Google. Karena itu, aku lebih sering melakukan kegiatan translit bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris dan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Okta banyak memberikan pengarahan bagaimana hal teknis belajar bahasa Inggris, salah satunya memanfaatkan Google Translite. Menurut Okta, mengetahui bagaimana pengucapan oral bisa menggunakan Google Translite. Selama ini, aku tidak pernah berpikir kegunaan lain dengan alat Google Translit ini. Dengan audio yang tersedia pada Google Translit, aku mendapatkan dua keuntungan: bisa tahu pengucapan kosakata dan bisa mengetahui arti dari kosakata.

Ah, kehilangan Okta cukup mampu menghilangkan separuh motivasi belajar bahasa Inggris. Kadang, bahkan sering, rasa sayang bisa meningkatkan motivasi belajar khususnya belajar bahasa Inggris ketika sosok yang disayangi men-support. Demikian juga denganku, aku mendapatkan motivasi belajar bahasa Inggris yang besar karena aku menyayangi Okta dan Okta men-supportku dalam belajar bahasa Inggris demi cita-cita membuat blog berbahasa Inggris karya tulis sendiri. Bila sosok yang disayangi menghilang, biasanya juga motivasi dari kehadirannya pun bisa separuh atau sepenuhnya hilang. Aku hanya kehilangan separuh motivasi belajar bahasa Inggris.

“Motivasi Bisa Datang Dari Sosok Tersayang”

Semakin lama kehilangan Okta, aku semakin sulit menguasai bahasa bahasa Inggris. Seiring motivasi belajar bahasa Inggris turun, kemampuan belajar pun otomatis turun. Dibayang-bayangi kondisi umur 30-an, aku memiliki keyakinan tentang kegagalan dalam menguasai bahasa Inggris. Apalagi, aku tipe orang pelupa apalagi ketika memasuki umur 30-an. Bagaimana cara menguasai bahasa Inggris tanpa sosok yang mensupport? Fisikku juga mendukung aktifitas sibuk.

Aku hanya berbaring bersama kenangan belajar bahasa Inggris ketika masih bersama Okta. Aku pasrahkan saja. Aku meyakini dan menerima bahwa setiap pertemuan ada perpisahan.

Kesibukanku makin berat. Aku terpaksa menghentikan belajar bahasa inggris. Waktu masih ada motivasi belajar, aku banyak meluangkan waktu untuk belajar bahasa inggris. Sekarang, aku alihkan kesibukan ke yang lain. Dengan waktu yang terbatas, 24 jam sehari, aku tidak bisa mengerjakan banyak hal. Bila aku berfokus belajar bahasa Inggris, aku tidak bisa mengurusi jasa artikel, membangun proyek blog bisnis adsense dan juga yang lainnya. Tentunya, aku lebih berfokus mengurusi hal-hal yang sudah yanya menghasilkan uang. Motivasi belajar secara otomatis pindah haluan juga, tidak ke belajar bahasa inggris.

***

“Hilang Motivasi Lama, Hadir Motivasi Lain yang Baru”

Seperti biasa, aku menyibukkan diri dalam dunia sosial media. Kebetulan, aku aktif menulis di sosial media Facebook. Aku selalu berbagi tulisan simpel yang tidak memusingkan mata. Lagi pula, aku tidak suka men-share tulisan panjang ke Facebook. Banyak juga yang lebih menyukai tulisan simpel modal tulisanku. Tetapi, berarti mereka menyukai tulisanku. Intinya, tulisan simpel dan berbobot jauh lebih bisa dicerna mata pengguna sosial media.

Saat pemantauan di Facebook, aku melihat beberapa komentar dari seorang wanita cantik. Sebelumnya, aku tidak pernah melihat wanita cantik itu berkomentar di statusku. Tetapi sekarang, wanita ini selalu berkomentar. Biasanya, aku hanya me-like saja. Tetapi, semakin lama perasaanku seperti mengajakku untuk mendekati wanita itu. Ada dorongan semacam motivasi selayaknya motivasi belajar bahasa inggris. Tetapi, dorongan ala motivasi ini mengajakku untuk membahas komentar bernada kedekatan dengan wanita cantik ini.

Sebelum membalas, aku membaca komentar dari wanita cantik itu yang memakai bahasa Cirebon, “Aku yang keturunan Sunan Gunung Jati aja biasa saja,” komen wanita cantik yang bernama Masato.

Aku menuliskan status soal keturunan Sunan Gunung Jati yang sudah banyak sekali. Ini hanya satu sunan. Berapa banyak keturunan yang bersambung pada Wali Songo? Tentunya sebagian masyarakat Indonesia sebenarnya adalah keturunan Wali Songo. Secara garis keturunan, Wali Songo bersambung nasabnya ke Kanjeng Nabi SAW. Dari segian banyak keturunan Wali Song, kebanyakan tersembunyi, tidak memakai embel-embel sayyid, habib atau syarif. Kebanyakan dipanggil dengan gelar sosial semata. Akhirnya, masyarakat Indonesia beranggapan bahwa keturunan Kanjeng Nabi SAW hanya pada mereka yang berhidung mancung, yang masih mentradisikan ke-arab-annya.

“Kita Hidup Dari Motivasi Orang Lain”

“Iya, banyak muka jawa seperti Raden Ajeng Kartini yang bersambung nasabnya ke Kanjeng Nabi juga biasa aja. Pelabelan Raden Ajeng pun karena beliau hidup dilingkungan keraton. Lagi pula, pelabelan “habib” pun harus memiliki alasan keilmuan dan akhlak mulia.” Aku membalas komentar wanita cantik yang memiliki nama ala-ala artis Jepang.

“Ya wajah model kamu tidak pantas dipanggil habib. Harus berhidung manjung dulu, ha ha… Bencanda.”

“Mayan lah buat pajangan online.”

Akhirnya, aku berhasil mendekati Masato, mengobrol beberapa hal. Ternyata, tragis sekali kehidupannya. Aku tidak bisa membayangkan. Salah satunya, ia tidak bisa berhasil lulus kuliah di Fakultas Pendidikan dengan jurusan Bahasa Inggris gara-gara telat memberikan hasil revisi skripsi.

“Ya Allah, kasihan sekali. Kenapa begitu?”

“Malas.”

“Pasti sedih.”

“Jelas lah. Awalnya sensi kalau ditanya kuliah. sedih.”

“Sabar ya.”

Padahal, ia hanya mengurusi langkah terakhir yaitu membuat revisi skripsi. Aku tidak mengetahui mengapa sampai tega tidak mengurusi revisi skripsi. Padahal, ia sudah lelah dan payah berkuliah selama 4 tahun. Lantas, kenapa kegagalan terletak di langkah terakhir yang remeh dan receh. Ia hanya berkata, “malas” sebagai alasannya. Tetapi, aku tidak percaya alasan itu. Aku membayangkan bahwa ia memiliki beban yang berat sampai tidak sempat mengurusi revisi skripsinya. Padahal, revisi skripsi tidak membutuhkan motivasi yang besar, tidak sebesar motivasi belajar bahasa Inggris.

Dalam hati, aku berkata, “Kenapa aku dikenalkan dengan wanita cantik yang memiliki kemahiran bahasa Inggris seperti Okta? Apakah akan ada motivasi belajar lagi dari orang lain?

“Kamu mahir bahasa inggris?”

“Lumayan.”

“Bisa menulis?”

“Waduh, kalau masalah nulis, bahasa Indonesia aja gak bisa, ha ha ha…”

“Ha ha ha. Padahal, mau mengandalkan keahlianmu untuk membuat artikel bahasa Inggris. Kebetulan, aku sedang bercita-cita membangun blog luar negeri.”

“Gak bisa, maaf.”

Sepertinya aku tidak bisa mendapatkan motivasi belajar bahasa Inggris dari seseorang selain motivasi dari Okta.

“Jadikan Langkah Terakhir Motivasi Terbaik”

Motivasi belajar bahasa Inggris tidak begitu mudah didapatkan dengan datang silih-berganti. Makanya, belajar bahasa atau ilmu apapun harus konsisten pada guru ahli yang sudah dianggapnya tepat. Jadi, motivasi belajar dianggap harga mahal, modal dasar sebuah keberhasilan. Bila sudah hilang motivasi belajar seperti kondisiku, pengganti sulit untuk menggantikannya kecuali berproses.

“Sudah kaya belum kerja tuh?”

“Nanti umur 40 an.”

Masato tidak merespon kembali.

***

“Motivasi Menikahimu, Nok Ayu”

Selama berhubungan dengan Masato, aku menyadari bahwa menyerah di langkah terakhir bukan pilihan yang bagus di saat langkah terakhir masih memiliki potensi keberhasilan. Aku tidak boleh menyerah hanya karena umur 30-an. Apalagi ada pandangan bahwa tidak ada kegagalan selagi kita masih berusaha terus. Aku menyadari ada motivasi belajar bahasa Inggris tentang langkah terakhir yang hadir bersama Masato. Aku beruntung di umur 30-an menemukan sosok Masato. Hal ini berdampak pada proses belajar belajar bahasa Inggris. Hasil perenungan mengenai langkah terakhir, aku tidak lagi menyerah belajar bahasa Inggris namun tidak menjadi faktor utama menghasilkan blog sukses. Aku lebih memilih mensukseskan blog berbahasa Indonesia sambil mempelajari bahasa Inggris. Barangkali, aku diberi kemampuan menulis berbahasa inggris di umur 40-an atau 50-an sehingga mampu mewujudkan cita-citaku. Terpenting, aku tidak menyerah.

Namun, aku harus mengakhiri komunikasi bersama Masato di tengah penemuan motivasi belajar bahasa Inggris. Selama berhubungan, aku menghadirkan cinta pada Masato. Ia pun sudah mengetahui hal ini. Aku memiliki motivasi untuk menikahinya. Tetapi, di tengah motivasi besar menikahinya, aku dalam kondisi belum mampu. Aku memikirkan Masato dan kedua anaknya yang perlu diurus dengan finansial. Ya, aku menyadari bahwa kondisi finansialku belum dan sangat belum mampu untuk berkeluarga, apalagi mengurusi 3 orang sekaligus. Dengan mengakhiri komunikasi, aku lebih ingin fokus membangun finansial. Aku tidak bisa mengontrol emosiku bila masih berkomunikasi dengan Masato di saat ada motivasi besar menikahinya. Aku pun meminta izin terlebih dahulu untuk mengakhiri komunikasi. Aku memberi alasan bahwa ini demi masa depan hubunganku bersama Masato.

“Tunggu aku setengah atau satu tahun lagi. Aku sering menghentikan aktifitas di sosial media. Aku ingin uninstal,” jelasku pada Masato.

“Terserah masing-masing,” tanggapannya pasrah.

“Kamu paham kan maksudku?”

“Iya paham.”

“Kalau kamu menemukan yang lebih baik dariku, silahkan pilih yang lain. Bila tidak ada, tunggu aku.”

“Iya. Tapi sedih.”

“Jangan sedih.”

“Aku gembira.”

“Sedih sedikit saja.”

“Gak bisa nawar.”

“Ha ha ha”

Aku menyadari, memutuskan komunikasi justru menambah motivasi. Aku lebih giat membangun finansial atas dasar motivasi berkeluarga bersama Masato. Ini motivasi yang mulia dan senafas dengan arah hidupku. Tentunya, motivasi belajar bahasa Inggris pun masih tersimpan agar tetap belajar bahasa Inggris tanpa perlu mengganggu arah hidupku. Aku menikmati kedua motivasi ini. Aku mengharapkan mendapatkan keberuntungan yang besar di tahun depan dengan kedua motivasi ini.

Baca: Cerita Motivasi

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Motivasi Belajar Bahasa Inggris Di Umur 30-an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Motivasi Belajar Bahasa Inggris Di Umur 30-an

Cara Menghilangkan Jerawat Di Wajah

Posted at Juni 26, 2019

Cerita fiksi ini menghadirkan suguhan tentang Cara Menghilang Jerawat Di Wajah. Memang, cerita fiksi di blog ini agak terasa aneh yakni menghadirkan tips dalam... Read More

Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Posted at Juni 25, 2019

Kali ini, aku menerbitkan cerpen muslimah. Cerita pendek fiksi yang menautkan cerita antara wanita muslimah dengan pria muslim lewat perantara jilbab biru. Cerpen muslimah... Read More

Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Posted at Juni 24, 2019

Selama menulis tulisan untuk kebutuhan jaringan blog PBN untuk situs buku cerita fiksi dan non fiksi, badanku terasa sakit. Karena itu, aku beristirahat lama.... Read More


error: Content is protected !!