HOME

Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Posted at Juli 1st, 2019
Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi

Cerita fiksi Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda melengkapi cerita fiksi sebelumnya, dalam arti masih berkaitan dengan tema cinta. Cerita fiksi dibuat setelah pernikahan adik pertama. Jadi, membahas cerita pesiapan pernikahan masih berkaitan dengan acara fakta pernikahan. Karena cerita ini masuk dalam cerita fiksi, cerita persoalan pernikahan tidak ditulis dengan standar baku cerita fiksi atau biasa disebut cerpen. Berikut ceritanya.

***

Nok Ayu hanya melakukan persiapan pernikahan sederhana tanpa resepsi. Menurutnaya, janda tidak perlu lagi mendapatkan acara resepsi yang penuh keramaian. Malu katanya. Aku berpikir, ini perencanaan yang masuk akal. Untuk apa janda anak dua meramaikan kembali acara pernikahannya setelah bercerai dua kali? Aku pun menyetujui persiapan pernikahan sederhana yang menurutnya tanpa perlu acara resepsi. Apakah mereka akan menghadiri udangan resepsi? Tentunya, mereka juga terbebani karena harus mengirimi bingkisan sebagai kado pernikahan. Rata-rata pernikahan kedua tidak ada acara resepsi, cukup acara pernikahan biasa yang sederhana. Begitu juga dengan Nok Ayu, ia hanya berkeinginan memiliki suami lagi tanpa harus menjadi beban besar dalam acara pernikahan. Ia sedang melakukan pesiapan pernikahan sederhana di rumahnya seperti memberesi kamarnya untuk menyambut sang suami.

“Nikah yo ijab kabul yo? Sederhana saja,” katanya dengan lugot jawa walaupun orang Cirebon.

“Iya dong. Tapi gimana kalau mendapatkan perjaka? Mengalah pada perjaka atau perjaka mengalah pada janda.”

“Ya udah toh, jangan membandingkan. Faktanya, aku yo dapet duda kan? Hihi. Sampean gimana, membandingkan pada sesuatu yang belum ada di hadapan.”

“Bukankah, aku pernah berkeinginan melamarmu? Aku kan perjaka?”

“Takdir! Allah. Aku tidak sanggup mengharapkan perjaka seperti sampean ini yo. Aku mah apa, barang bekas.”

“Aku sedang bertanya, bagaimana bila kamu mendapatkan perjaka? Apakah kamu akan tetap melakukan pernikahan sederhana tanpa resepsi?”

“Rameh ing gawe mas. Terserah sampean. Tapi yang sederhana saja acara resepsinya. Udah dong. Jadi sedih gini, sampean keduluan takdir orang lain.”

“Masa aku harus berlomba dengan takdir? Ya sudah lah, kamu sekarang melakukan pesiapan pernikahan sederhana untuk minggu depan. Jangan mikirin niatku lagi. Takdir!”

“Takdir!”

“Persiapan Pernikahan Adalah Niat”

Aku tidak menyangka bila Nok Ayu dilamar sesudah ungkapan niat seriusku pada waktu itu. Waktu itu, Nok Ayu tidak merespon. Aku pun berniat berhenti komunikasi online. Masa tenggang setelah lamaran dari orang lain pun cukup singkat, satu minggu sebelum pernikahan. Aku pikir, Nok Ayu sudah memiliki calon ketika aku memintanya jalan-jalan beli baju lebaran sebagai pandangan pertama namun ia menolaknya. Ia menolak dengan alasan sudah memiliki calon. Buatku, calon seperti Nok Ayu adalah calon yang sudah melamar di depan keluarganya. Aku menganggapnya begitu khusus Nok Ayu. Aku pikir, Nok Ayu sudah memiliki calon resmi ketika aku berniat melamarnya. Ternyata, waktu itu belum Nok Ayu belum dimiliki alias si pria belum melamarnya. Sebulan berlalu, tepatnya seminggu setelah lebaran, Nok Ayu dilamar. Aku merasa lemah mengingat harapanku gugur.

Sebelum mengetahui Nok Ayu mau dilamar, aku sempat menanyakan kembali padanya sebagai persiapan rencana matangku menuju pernikahanꟷyang mungkin sederhanaꟷbersama Nok Ayu. Masalahnya, aku masih agak belum percaya bahwa Nok Ayu sudah memiliki calon pada waktu itu. Aku menanyakan kembali setelah berlangsungnya acara pernikahan adik pertama, tepatnya sudah tanggal 15 Juni. Sebelum bertanya, aku melakukan persiapan perasaan terlebih dahulu, khawatir terjadi yang tidak diinginkan untuk perasaanku. Tentunya, aku menyiapkan pertanyaan dengan bahasa yang terkesan indah namun sederhana. Padahal, aku sudah tahu jawaban sederhana yang akan dijawab Nok Ayu walapun aku tidak menginginkan hal ini. Mengapa aku sudah tahu jawaban sederhana dari Nok Ayu? Aku memiliki firasat seperti itu, apalagi ditegaskan dengan ucapan Nok Ayu sebelumnya bahwa dirinya sudah mempunyai calon. Tetapi, aku harus mencoba untuk menanyakan status pasti sekarang ini, barangkali ada harapan lagi untuk melakukan perencanaan pernikahan nanti, sekalipun sederhana tanpa resepsi.

“Nok, di malam acara pernikahan adik, aku ingin bertanya sekali lagi. Mohon dijawab. Apakah Non Sebenarnya, apakah Nok Ayu sudah memiliki calon? Bila belum memiliki calon, aku ingin membayangkan persiapan pernikahan yang serius walaupun sederhana tanpa resepsi. Kalau sudah memiliki calon, aku tidak akan lagi membayangkan ini. Keinginanku sederhana.”

Tidak menunggu waktu lama, Nok Ayu membalas.

“Insya Allah aku sudah memiliki calon. Mohon maaf. Moga dilancarkan.”

Aku tidak paham mengenai ucapan Nok Ayu yang ini. Kalaupun ucapan ini bermakna bahwa ia belum memiliki calon, berarti pada waktu itu, ia berbohong mengenai statusnya. Lagi pula, ucapan insya Allah bermakna sesuatu harapan akan datang. Artinya, dalam waktu dekat, ia akan memiliki calon. Ia akan kedatangan seseorang pria yang ingin melamarnya. Apakah ucapan itu bermakna bahwa ia sudah memiliki calon? Kalau pun benar sudah memiliki calon, ucapan Insya Allah Non Ayu tidak tepat. Namun akhirnya, waktu telah menjawabnya bahwa ia baru saja dilamar setelah aku mempertanyakan lagi status Nok Ayu.

“Persiapan Pernikahan Adalah Modal”

“Apakah Nok Ayu berbohong?”

Entah lah, aku hanya meresapi bahwa kejadian kebohongan ini seperti yang pernah aku alami bila memang Nok Ayu sudah melakukan kebohongan. Aku merasa, aku menjadi pihak yang layak untuk dibohongi mengenai pecintaan. Waktu itu, aku ada harapan mengajak teman SMA untuk menuju pernikahan. Kebetulan, ia berada di Pekanbaru. Aku mengajaknya melakukan persiapan pernikahan. Ia pun menyetujui walaupun kita terpisah jarak yang begitu jauh. Aku sudah meminta izin pada paman untuk melakukan lamaran sebagai upaya persiapan pernikahan nanti walaupun menikah dengan cara sederhana tanpa resepsi. Namun di tengah komunikasi, ketika sudah membahas serius persiapan pernikahan sederhana dengan resepsi, Your Is sulit sekali diajak komunikasi. Suatu hari, ia mengungkapkan bahwa dirinya sudah memiliki calon. Ia meminta untuk tidak mengganggunya lagi. Persiapan-pesiapan lamaran dan pernikahan sederhana pun dibatalkan. Aku merasa sedih mengingat Your Is memperlakukan hal ini dengan tega hanya karena aku mengeluhkan jarak yang begitu jauh.

Sejak kejadian itu, aku tidak lagi berkomunikasi lagi bersama Your Is. Hatiku sakit.

Beberapa tahun kemudian, Bapak meninggal dunia. Your Is pun meminta maaf atas perlakuan dirinya padaku di hari-hari mengenang kepergian Bapak. Selama ia belum meminta maaf, ia tidak menikah sama siapapun. Entah, apa yang terjadi pada Your Is. Yang jelas, aku merasa ada harapan lagi. Tetapi, ini bukan harapan. Lagi-lagi, aku bernasip seperti kepada Nok Ayu. Aku didahului orang lain.

Sebelum Your Is, sebenarnya, ada beberapa kegagalan lagi walaupun kasusunya bukan kebohongan seperti yang dilakukan Nok Ayu dan Your Is. Aku menduga mereka berdua melakukan kebohongan. Kasus sebelumnya, aku mendapatkan kegagalan melakukan persiapan pernikahan dengan beberapa wanita yang berstatus LDR. Kekagalan itu diakibatkan ketidaksetujuan keluarga khususnya orang tua. Setiap aku berhubungan, aku mendapatkan kasus yang sama. Masalahnya sepele yaitu mereka tidak mau anaknya dibawa pergi mengikuti suaminya. Aku yang berjarak jauh, tidak bisa menuruti keinginan mereka mengingat aku sendiri memiliki pekerjaan dan bisnis di daerahku tinggal. Karena tidak menemukan kesepakatan, aku mendapatkan kegagalan melakukan persiapan pernikahan walaupun dilakukan dengan sederhana sekalipun tanpa acara resepsi.

Entahlah, kenapa kegagalan persiapan pernikahan selalu gagal? Aku pun tidak pernah memikirkan meriahnya acara pernikahan, cukup sederhana. Bahkan, pernikahan tanpa resepsi pun, aku menerimanya walaupun sebaiknya harus ada resepsi. Ini semata-mata untuk memudahkan pernikahanku sendiri. Kenapa kegagalan selalu datang? Apakah aku memiliki salah pada urusan pernikahan? Padahal, aku tidak pernah berurusan dengan pernikahan. Bahkan, adik kedua menikah terlebih dahulu. Adik pertama menyusul kemudian di tahun berikutnya. Aku pun merasa senang jika adik yang terlebih dahulu melakukan pernikahan sekalipun kedua adiknya melakukan pernikahan dengan cara meriah, ramai sebagai layaknya acara pernikahan dengan resepsi. Aku tidak pernah menghambat-hambat pernikahan orang lain, apalagi pada keluargaku sendiri. Tetapi, aku sering mendapatkan hambatan, halangan menuju pernikahan sekalipun pernikahan sederhana tanpa resepsi.

Persiapan Pernikahan Adalah Komitmen

Memang, aku memiliki ketakutan tersendiri menghadapi pernikahan, mulai dari ijab-kabul sampai dengan resepsi pernikahan. Bukan dikatakan takut, melainkan kondisi fisikku tiba-tiba merasa pusing, lemes dan tidak bisa berpikir menghadapi keramaian acara khususnya acara resepsi pernikahan. Makanya, aku lebih baik melakukan pernikahan sederhana tanpa perlu persiapan resepsi walaupun sebenarnya aku menginginkan pernikahan dengan resepsi. Sepertinya, pernikahan sederhana tanpa resepsi menjadi solusi tersendiri. Pernikahan sederhana tanpa resepsi tidak perlu melakukan persiapan berbagai hal yang bisa menjadi beban fisik dan psikis. Entahlah, walau demikian, aku ingin merasakan pernikahan dengan resepsi penuh keramaian.

Sebagian orang berkeinginan melakukan pernikahan sederhana tanpa resepsi sehingga tidak membutuhkan periapan-persiapan yang bisa menguras banyak terutama keuangan. Tetapi, sebagian besar memang berkeinginan melakukan pernikahan dengan disertai resepsi, salah satunya untuk mempertahankan tradisi pernikahan khas daerah masing-masing.

Aku mengenag kembali acara akad dan resepsi pernikahan adik pertama. Acara itu memadukan dua tradisi yang tidak jauh berbeda, antara tradisi warga Buntet Pesantren dan Wanasaba Kidul. Hanya saja, kekhasan pada acara resepsi yang memang ada perbedaan yang mencolok. Tradisi genjringan, terbangan beserta bacaannya yang memang sudah mentradisi sejak lama di area Buntet Pesantren. Sebenarnya, ada tradisi ‘asya-‘asya, hanya saja tidak dilakukan mengingat akadnya berlangsung di desa Wanasaba. Kalau di Wanasaba Kidul, aku melihat tradisi seperti tradisi yang baru dimulai, belum begitu lama.

“Persiapan Pernikahan Siap Menghadapi Tradisi Pernikahan”

Aku ingin menghayati pernikahan dengan resepsi atau biasa disebut resepsi pernikahan untuk pemahaman diriku sendiri yang masih gelisah pada acara resepsi. Resepsi sendiri diartikan sebagai pertemuan resmi yang diadakan untuk menerima tamu seperti acara pernikahan atau pelantikan menurut KBBI. Menurutku ada nilai berharga dalam tradisi resepsi pernikahan. Kalau dikatakan tidak ada resepsi, sepertinya, ini kurang mensyiarkan. Nabi SAW sendiri menyuruh untuk mensyiarkan pernikahannya dengan mengundang beberapa tahu dan menyuguhkan hidangannya. Mungkin, istilah resepsi pernikahan sederhana bisa diterima. Kalau dikatakan pernikahan tanpa resepsi, aku menilainya kurang dalam mensyiarkan pernikahan. Apalagi, dalam resepsi pernikahan, ada nilai mempertahankan tradisi khas daerah masing-masing.

Bulan berjalan, aku mendapatkan kejutan.

“Hi Kak Ubay. Napa tak beri kabar?” basa-basinya.

Aku tahu, setelah adegan pemlokiran itu, aku tidak lagi berhubungan. Bagaimana mau berhubungan bila akun Instagram miliki di blokir?

“Dinda, aku benar-benar terkejut. Ada apa? Kok tiba-tiba membuka blokiran? Malah langsung mempertanyakan. Ada-ada aja nih, Dinda,” kataku pada gadis yang bernama Dinda Ayu.

“Kangen aja. Maaf dulu udah memblokir. Tetapi, setelah Kak Ubay ngungkapin rasa sayang, aku kepikiran terus. Kenapa aku malah bener-bener kangen.”

“Syukurlah. Aku juga kangen.”

“Gimana kabar Kak Ubay?”

“Baik.”

Perjumpaan membuahkan kedekatan. Aku merasa heran saja, kenapa gadis itu begitu dengan denganku?

“Kamu beda sekarang, jauh lebih mudah diajak komunikasi bersamaku.”

“Kak Ubay gak ngerti perubahanku ya?”

“Agak ngerti, he he. Cuma aku gak mau sakit hati untuk sosok gadis yang pernah aku sayangi.”

“Kok pernah? Emang sekarang udah gak sayang? Gimana kalau kita sama-sama sayang?”

“Maksud Dinda? Nih, maaf nih, kepalaku sampai pusing soal perubahan Dinda padaku. Ada apa sih? Hihi…”

“Ada yang mau diiket dengan cincin sama Kak Ubay.”

“Siapa?” tanyaku memancing.

“Persiapan Pernikahan Adalah Siap Menerim Ujian Pernikahan”

Sebelum mendapatkan jawaban, aku melakukan persiapan terlebih dahulu. Sebagai persiapan yang lebih matang, aku menghentikan komunikasi. Aku biarkan membalas lama. Ini cara melakukan persiapan perasaan. Kalau sudah berbunga-bunga seperti ini, badanku lemas, kepalaku pusing. Apalagi, aku terjatuh dalam derita hati, jauh lebih dari itu. Jadi, lebih baik aku melakukan persiapan.

Lebih baik, aku membeli kebutuhan vocer dan saldo pulsa terlebih dahulu. Biasanya, aku tidak membawa ponsel. Bisa jadi Dinda akan meneleponku bila tidak membalas lama. Pasti dia akan miskol.

Lama ditinggal, Dinda benar-benar menghubungiku.

Aku buka dengan penuh persiapan perasaan. Aku sudah tahu jawabannya. Tetapi, aku harus tetap melakukan persiapan perasaan karena pasti bikin badanku lemas.

Setelah membaca balasannya, aku merasa senang campur bingung.

“Kalau Kak Ubay gak mau ngiket cincin, ya sudah, aku juga gak mau.”

“Aku mau, kenapa tidak?”

“Yang benar?”

“Sebenarnya udah niat dari dulu. Aku mau menikahi Dinda. Tapi bingung ongkosnya, Dinda. Mahal.”

“Jadi selama ini Kak Ubay bingung serius sama Dinda karena masalah ongkos? Ya ampun Kak, tega. Kak Ubay diem saja.”

“Gimana mau ngungkapin, akunku diblokir!”

“Ya habisnya Kak Ubay cuma manfaaatin aku doang, buat cerita blog lah, buat cerita novel lah. Diiklanin di Facebook lah. Tapi gak pernah nganggap aku. Aku kecewa, kesel, sedih. Tahu gak, kalau Kak Ubay serius sama rasa sayangnya, aku bakalan terima. Aku juga takut kalau main-main. Apalagi kita jauh. Tapi ah, udah lah. Untung sekarang semua terbongkar. Kesel ama Kak Ubay! Napa sih miskin jadi andalan tidak percaya diri banget.”

Aku menelepon Dinda. Ia sepertinya mengungkapkan masalah hati yang dahulu.

“Dulu, aku ini siapa dan kamu siapa? Jarak juga jauh.”

“Paling tidak Kak Ubay usaha.”

“Maafin. Tapi sekarang, aku percaya diri.”

“Ya udah, kapan ngiket cincin?”

“Persiapan Pernikahan adalah Siap Mempertahankan Pernikahan”

Pada awalanya, keluarga melakukan persiapan untuk pelamaran dengan gadis yang tiba-tiba memintaku untuk menikahinya. Aku tidak memiliki persiapan melainkan umur yang sudah seharusnya melakukan pernikahan. Aku ingin menuruti keinginan gadis. Lagi pula, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang pernah aku harapkan waktu itu. Apalagi, gadis itu masih aku sayangi walaupun tidak sebesar waktu itu. Keinginannya membuatku kaget sekaligus lemas. Bukan itu saja, bayangan jarak yang sangat jauh membuatku terbebani. Tetapi, terpenting dua keluarga tetap menyetujui walaupun sebenarnya aku pun setuju. Kini, aku menemui waktu untuk melakukan perjalanan pelamaran.

Waktu pun tiba, persiapan pelamaran sudah beres. Aku dan keluarga berangkat. Acara lamaran ini tidak seperti acara lamaran kedua adikku. Karena jarak yang begitu jauh, Cirebon-Pekanbaru, aku hanya ditemani keluarga besar saja yang berangkat: ibu, saudara kandung dan ipar. Walaupun begitu, aku dibantu biaya keberangkatan dari saudara ibu dan bapak. Mereka mendukungku untuk melakukan pelamaran. Aku sangat senang, beban pun berkurang.

Sesampaihnya di sana, aku dan keluarga menetap di salah satu rumah kontrakan untuk beberapa hari. Rumah kontrakan itu milik saudara gadis. Kebetulan, saudaranya mau pergi untuk beberapa minggu sehingga rumahnya tidak terpakai. Aku merasa beruntung mengenai jalan kemudahan itu. Memang, sengaja kami melakkukan penginapan dalam waktu lama di kota Pekanbaru. Ini semata-mata untuk melakukan persiapan kembali yakni persiapan pernikahan sederhana tanpa resepsi. Aku dan keluarga tidak mungkin pulang kembali setelah melakukan pelamaran pada gadis yang pernah aku sayangi. Di samping biaya yang cukup mahal, jarak yang jauh, kondisi fisikku pun tidak bisa dibawa lagi, lemas tidak berdaya.

Tiba-tiba, badanku kaku, tidak bisa bergerak. Aku mencoba untuk menggerakkan.

“Ah! Huh…”

Aku terbangun gara-gara mimpi yang melelahkan.

“Ya ampun, kenapa terbangun? Baru saja sampai ke Pekanbaru.”

Aku hanya termenung menggapai harapan yang sulit tergapai. Harapanku hanya tergapai dalam lamunan dan impian saja. Aku tidak bisa merubah mimpi menjadi nyata. Padahal, aku hampir saja menggapai nyata bersama orang yang pernah aku sayangi. Tapi, sudah lah. Terpenting, i love dinda.

***

Selesai sudah cerita fiksi persoalan persiapan pernikahan sederhana tanpa resepsi yang ujung ceritanya untuk Dinda. Apakah anda menikmati cerita fiksi di atas yang tidak memenuhi standar menulis cerita fiksi alias cerpen?

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Persiapan Pernikahan Sederhana Tanpa Resepsi Untuk Dinda

Saranghaeyo, Mbak Cantik

Posted at Juli 7, 2019

Tiba-tiba saja sepeda motor yang di kendarai berhenti di ujung jalan. Meski telah di starter ulang, matik hitamnya tetapi tidak menyala. Berhubung hampir terlambat,... Read More

Cerpen “Clara”

Posted at Juli 6, 2019

Aku menghadirkan cerpen fiksi “Clara”. Entah, dalam cerpen fiksi ini, cerita tentang apa yang dihadirkan. Aku membaca seklias, cerpen fiksi ini berisikan seputar impian.... Read More

Cara Menghilangkan Jerawat Di Wajah

Posted at Juni 26, 2019

Cerita fiksi ini menghadirkan suguhan tentang Cara Menghilang Jerawat Di Wajah. Memang, cerita fiksi di blog ini agak terasa aneh yakni menghadirkan tips dalam... Read More


error: Content is protected !!