HOME

Sakit Hati Ikha, Sakit Hatiku

Posted at Januari 21st, 2019
sakit hati

Aku masih memikirkan bagaimana rasa sakit hati di hati? Sebagai manusia biasa, aku pernah merasakan kondisi dimana hatiku merasa tidak tidak enak akibat omongan orang atau cinta. Tetapi, selama merasakan hal ini, hatiku tidak sampai meraskan apa yang disebut sakit atau sakit hati. Kalaupun aku sampai emosi dan marah besar, hal ini tidak sampai membuatku sakit hati. Sampai sekarang, aku masih memikirkan soal sakit hati. Aku masih penasaran, bagaimana kondisi hati yang sedang merasakan sakit?

Sakit hati adalah ke-manusiawi-an. Maka nikmati saja kesakithatianmu

Entah apa pengertian sakit hati, yang jelas, kondisiku sekarang seperti orang sakit. Walaupun begitu, aku seperti tidak memiliki penyakit. Aku masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.

Abaikan. Aku bosen memikirkan kondisi ini.

Sore ini, aku ingin menemani sosok host alias VJ live streaming di Kuttu. Ia bernama Ikha. Nama aslinya Farikhah. Ia mantan host di Gulipe yang entah kenapa kehadirannya dianggap tepat. Aku bertemu dengan sosoknya di hari-hari terakhir perpisahanku dengan Clara Oktavia di dunia live streaming GuLipe. Dan sekarang, di Kuttu, aku hanya menemani dirinya seorang tanpa Clara Oktavia lagi. Bisa dikatakan, ia seperti sosok pengganti Clara Oktavia.

Andai tidak ada perjumpaanku bersama Ikha, aku harus bagaimana? Tentunya, aku akan berfokus mengurusi proyek tanpa aktif kembali di dunia live streaming, salah satunya proyek blog. Masalahnya, aku mengurusi proyek blog yang berkaitan dengan dunia live streaming. Proyekku bisa bermasalah bila aku berhenti di dalam dunia live streaming. Aku membutuhkan banyak pengalaman di dunia live. Memang, aku bisa mengatasi dengan mem-fiksi-kannya. Tetapi, hal ini pun membutuhkan pengalaman nyata. Pengalaman nyataku bersama bintang live streaming masih kurang. Di samping masih kurang dalam pengalaman bersama bintang live streaming, semangatku turun jika kehilangan sosok pemberi motivasi. Clara Oktvia adalah sosok pemberi motivasi. Masalahnya, ia sudah tidak aktif di dunia live streaming. Bahkan, aku kehilangan kontak Clara Oktavia di Instagram sebagai satu-satunya alat komunikasi. Jadi, tidak ada kehadiran Ikha dalam kehidupanku cukup menghambat proyekku.

Orang yang di-spesial-kan adalah orang yang paling mudah membuat kita sakit hati

“Makasih Dindut,” ucapan terimakasihku sembari diberi kata panggilan sayang. Aku sudah menganggap Ikha sebagai adikku. Ya, kalau “adik ketemu gede”, ini tidak ada istilah “dilarang menikah”. Tetap saja, takdir jodoh masih berlaku.

“Iya Abang pea,” balas Ikha dengan khas nyablak betawi.

“Sotoy lu, Ndut, udeh bae-bae bilang makasih, di-pea-in.”

“Wakakakak. Opet lu dapet berapa?”

“Dikit, Cuma 50. Spender Lb sudah pada pensi. Sepi lb sekarang.”

“Hiks hiks hiks, sedih dah gua.”

“Nanti gua topup”

“Ah lu ngomong doang. Dasar pembohong lu.”

“Kemaren kan udeh.”

“Ih, kemaren tuh bulan kemaren pea.”

“Wakakak.”

Pertemuanku dengan sosok Ikha sungguh di luar rencanaku. Maksudku, niat hati ingin bertemu dengan sosok foto cewek yang dijadikan backroud milik Ikha, ternyata, aku dipertemukan dengan sosok yang berbeda dengan foto yang ia pasang. Ada kesan, aku merasa tertipu. Tetapi, kejadian ini merasa diuntungkan. Akhirnya, aku menemukan pengganti yang tepat. Karakternya memang meresap dihatiku dan sesuai harapanku dari dulu, baik karakter berteman atau berumah tangga. “Eh gimane yang berumah tangga?”. Bahkan, Ikha jauh lebih baik dalam menjalin hubungan di live streaming daripada Clara Oktavia. Hal ini dikarenakan aku dan Ikha sering bekerjasama mencari koin emas atau biasa disebut Lucky Bag (LB) di banyak room Kuttu.

Jangan mengharap pertemuan tanpa memberi dan menerima rasa sakit hati

“Maafkan Ikha, gue sempet gak meresapi bahwa elu jauh lebih baik. Gue masih sulit melupakan sosok Dinda Clara.”

“Iye gak nape-nape. Awas lu kalau kalau di room Sandra. Lu mah opet ngobrol.”

“Duh, kagak percayaan banget dah. Sue lu. Kagak bakal nemeni Sandra lagi. Udeh dijelasin, gue ngobrol juga sambil opet. Lu mah kayak orang cemburu aje.”

“Kagak ih. Gue kagak cemburu.”

“Ya udah lu sono cari room yang ada Lucky Bag-nya. Lu nanti share.”

Aku sejenak berpikir mengenai hubunganku dengan Ikha. Aku memikirkan istilah “Tak kenal maka tak sayang”. Ya, istilah itu itu mengindikasikan bahwa pengenalan membuahkan rasa kasih-sayang. Namun, istilah itu jauh lebih tepat bila diperuntukkan dengan hubungan lawan jenis. Banyak sekali kisah teman tapi mesra pada hubungan lawan jenis. Aku juga mengalami apa yang disebut dalam istilah “tak kenal maka tak sayang”. Artinya, aku sudah cukup mengenai karakter Ikha membuatku memiliki rasa sayang tersendiri. Ya, aku menyayangi Ikha. Rasa sayang ini bisa berbuah persahabatan, teman tapi mesera, pacaran atau bahkan sampai pernikahan. Aku masih memikirkan nasib ke depan atas rasa sayang ini. Yang pasti, aku lebih menikmati rasa sayangku seperti layaknya abang ke adik.

Berikanlah pengertian sebagai arti kenal dengan penuh rasa kasih-sayang sebagai pelebur sakit hati

Aku teringat ucapan Ikha, “Gw gak cari pacar di dunia live streaming ini. Gw cuma cari duit dan temen banyak.”

Aku paham akan kondisi Ikha. Padahal, aku juga memiki pandangan yang sama yaitu tidak mencari calon istri di live streaming. Aku hanya berkeinginan Ikha menjadi pintu jodoh dengan siapapun. Tetapi, Ikha tidak bisa diandalkan untuk mencarikan calon untukku.

Memang, aku memiliki bayangan untuk menjadikan Ikha sebagai istriku. Tetapi, itu hanya bayangan. Bukan karena aku tidak berminat berumah tangga bersama Ikha dan fakta kehidupannya, bukan. Tetapi, ini sudah menjadi problematika aku sendiri. Aku sendiri punya banyak masalah yang membuatku tidak sanggup serius mencari jodoh. Aku pun tidak bisa menjalin apa yang disebut “pacaran”. Bisa dikatakan, hatiku selalu sakit alias aku seperti sakit hati bila menjalin hubungan tanpa ada kepastikan menjalin pernikahan.

“Sakit hati? Kok pacaran malah lu sakit hati lu?” tanya Ikha.

“Gak kuasa bayangin ketidakpastian. Buat apa menanti ketidakpastian?”

“Ya lu lamar kale biar cepet.”

“Gue belum bisa serius oneng.”

“Ya elah, napa lu? Sakit hati kenapa? Penyakiten lu ya?” tanya penu ledek Ikha.

“Gue kan udeh cerita, pikun lu? Gue punya masalah mudah kurang kalium. Kondisi gini bikin banyak organ tubuh kurang bekerja maksimal.”

“Oh gitu. Sabar ya. Terus lu maksud mengharapkan gue sebagai istri ape? Gue udeh baca tulisan elu. Main rahasie neh.”

“Itu fiksi, ha ha… Jangan percaya tulisan itu.”

Kalau aku sudah berharap pada seseorang dengan membawa perasaan sayang, cinta, itu artinya, aku harus siap merasakan sakit hati. Bukan dikatakan sakit hati. Aku sendiri masih bingun pengertian sakit hati. Yang jelas, aku merasakan dimana kondisi tubuh seperti tidak ada ototnya ketika menghadapi permasalahan cinta. Yang  pasti, perasaan alias hati menjadi tidak enak.

Sakit hati akan datang bergantian. Gantungkanlah harapan pada takdir Tuhan. Tuhan jauh lebih paham tentang hatimu

“Ya elah lu, drama. Lu kan tinggal cari cewek yang pacaran ama elu. Lu udah terpenuhi harapan itu.”

“Sue lu. Namanya pacaran, tetep saja masih dalam harapan. Emangnya elu mau hidup berstatus pacaran mulu?”

“Ya kagak.”

“Gua mah bisa kali tinggal nunjuk. Persoalanya bukan sekedar nunjuk. Dibilang gue punya beberapa problem. Masa gue nyuruh si cewek nunggu gue nyelesain masalah?”

“Kali aja mau. Emang selain lu penyakiten, masalah lain apa?”

“Gue miskin. Emang elu mau ama cowok miskin?”

“What? Dikira elu udah menter. Gua mah mau aja, wakakak”

“Sue lu, gak usah drama. Elu nanti mewek sambil nyanyiin lagu ‘Mamah oh Mamah aku ingin pulang’,”.

Aku tidak bisa mengharapkan Ikha menjadi istriku juga karena kondisi kehidupan Ikha sendiri. Aku tidak mau menjadi bagian orang yang bikin Ikha sakit hati. Aku bisa membayangkan bagaimana sakit hati seorang Ikha menghadapi permasalahan cintanya. Aku merasakan kesedihan sampai air mataku meleleh ketika ia mencurahkan sakit hati dirinya. Ibaku, sayangku, perjuanganku berpadu berirama membayangkan kehidupan cinta yang dipenuhi rasa sakit hati. Tetapi, aku berjanji untuk tidak membahas masalah sakit hati Ikha ini dimanapun. Aku tidak mau Ikha menjadi sedih dan bertambah sakit hatinya.

Masalah tempat tinggal rumah tangga juga harus dipertimbangkan dalam menseriuskan hubungan bersama Ikha. Jarak yang jauh, antara Cirebon dan Jakarta menjadi hal yang  perlu dipikirkan untuk keseriusan. Aku tidak ingin Ikha pindah rumah hanya karena menikah dengan cowok sepertiku. Aku mengenal Ikha sebagai orang yang setia menjaga beberapa ponakannya. Ikha juga merawat kedua orang tuanya, terutama bapaknya yang sekarang masih terkena struk ringan. Belum masalah usaha, Ikha masih menjalaninya dengan rutin sebagai pemasukan harianya. Kebiasaan itu yang membuatku berat memilih Ikha sebagai istri. Aku bisa saja pindah mengikuti kehidupan sang istri. Aku bekerja dan usaha online. Tetapi, aku juga memiliki kondisi yang sama seperti Ikha. Aku tidak bisa pindah mengikutinya. Bahkan aku sudah bertekad tidak akan meninggalkan wilayah ini. “Emang konter siapa yang jaga?”

Untuk masalah masalah tempat tinggal rumah tangga, aku tidak membicarakannya pada Ikha. Untuk apa aku menceritakan masalah ini? Menceritakan masalah tempat tinggal pada Ikha, ini sama saja dengan mengharapkan Ikha sebagai jodohku, sebagai istriku. Kalau sudah berharap, aku seperti menaruh ujung pisah di depan dadaku. Suatu saat, pisau itu akan dengan mudah menancap. Tentunya, aku bisa sakit hati. Aku tidak mau berharap sebelum beberapa problem yang menghalangiku dalam dunia percintaan selesai atau setidaknya ada yang selesai atau terminimalkan.

Berikanlah perlindungan atas cintamu dengan jaminan rumah tangga. Itu jauh lebih baik dalam mencegah sakit hati karena cinta

Jam sudah menunjukkan pulul 17.00. Ikha belum juga men-share room-nya sebagai informasi bahwa ia sedang live.

Sambil menunggu, aku mengirim tulisan yang sebelumnya sudah disiapkan. Aku mengirimnya ke Whatsapp Ikha.

Aku memang berharap mendapatkan jodoh, tetapi aku tidak lagi bisa mengharapkan “dia” (siapapun itu) menjadi jodohku. Di samping Allah sudah menakdirkan jodoh masing-masing manusia, aku sudah mengalami kegagalan. Hatiku, menurut orang orang, sakit. Aku sakit hati. Sakit hati bila melihat “dia”ꟷyang diharapkanꟷjatuh pada tangan orang lain.

Aku pernah hubungan dengan cewek jauh. Tak disangka, orang tunya menyiapkan perjodohan. Retak hubungan. Dia dipinang orang lain. Aku jauh, belum bisa apa-apa untuk menseriuskan. Aku hanya merasakan sakit hati.

Tentunya, sang pria yang sudah dipinang berharap berjodoh, menikah. Faktanya, dia (yang aku harapkan jodohnya) tidak berjodoh dengan pria pilihan orang tuanya. Aku merasa sakit hati melihat nasibnya. Hal itu terus berulang. Duh, pasti dia sering mengalami sakit hati.

Kalau sudah seperti ini, apa artinya sebuah “pengharapan jodoh” atas orang tertentu? Gak ada artinya. Buatku, itu terasa menyakitkan hati bila rasa sayang sudah besar, tetapi kandas. Apalagi, aku bukan tipe yang bermain-main dengan asmara, cinta. Jadi, aku takut ombak, he he he. Aku takut sakit hati bermain-main dengan cinta.

Jadi, aku bukan tidak mau berjodoh dengan Ikha, bukan. Aku mau karena emang sudah sayang. Tetapi, aku tidak mau menentukan pengharapan pada Ikha dalam ikhtiar mendapatkan jodoh.

Ckckckckc,,, mata elu bisa jelong baca, ha ha

Whatsapp berbunyi. Aku lihat pesennya.

“Ubayun, hiks hiks.”

“Apa ikhsunsun?”

“Berat badan gue naik 1 kilo, hiks hiks hiks. Lu mah nyaranin makan nasi.”

“Hadeh. Kan gue bilang sedikit aja makan nasinya.”

“Lu harus tanggungjawab.”

“Sini gue makan lemak elu biar berkurang berat badannya, ha ha.”

“Sue lu.”

“Kapan live?”

“Males. Nant malam aja.”

Ikha sepertinya tidak menanggapi tulisanku. Mungkin, ia masih merasakan sakit hati pada persoalan dunia percintaan. Aku memaklumi atas sakit hati yang sudah dialaminya.

“Moga Dindut sembuh dari sakit hati,” doaku dalam hati.

Kategori: Buku Bercerita

No comment for Sakit Hati Ikha, Sakit Hatiku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Sakit Hati Ikha, Sakit Hatiku

Cara Menghilangkan Jerawat Di Wajah

Posted at Juni 26, 2019

Cerita fiksi ini menghadirkan suguhan tentang Cara Menghilang Jerawat Di Wajah. Memang, cerita fiksi di blog ini agak terasa aneh yakni menghadirkan tips dalam... Read More

Cerpen Muslimah : Green Halte Bus

Posted at Juni 25, 2019

Kali ini, aku menerbitkan cerpen muslimah. Cerita pendek fiksi yang menautkan cerita antara wanita muslimah dengan pria muslim lewat perantara jilbab biru. Cerpen muslimah... Read More

Daur Ulang Sampah Plastik Buntet Pesantren

Posted at Juni 24, 2019

Selama menulis tulisan untuk kebutuhan jaringan blog PBN untuk situs buku cerita fiksi dan non fiksi, badanku terasa sakit. Karena itu, aku beristirahat lama.... Read More


error: Content is protected !!