HOME
Home » Buku Bercerita » Wanita Karir Clara Oktavia Dalam Buku Cerita

Wanita Karir Clara Oktavia Dalam Buku Cerita

Posted at Agustus 20th, 2018 | Categorised in Buku Bercerita

Wanita karir Dinda Clara mau kemana? Membuat jawaban dari pertanyaan ini sedang aku nantikan setelah ia lulus kuliah. Tentu, ada banyak tempat agar Dinda Clara bisa menjadi wanita karir, salah satunya karir wanita rumah tangga.

Apakah rumah tangga bisa dianggap karir wanita? Bisa, asalkan wanita bekerja dan berkarya di rumah. Apalagi, era online jauh lebih bisa memaksimalkan karir wanita untuk kerja dan bisnis di rumah.

Membuat blog buku cerita lebih kepada: aku menggiring Dinda Clara pada kesuksesan dalam karir wanita. Setidaknya, aku bertugas sekedar pencerita kehidupan untuk kesuksesan karir wanitanya. Setiap langkah prestasi, mulai dari ikut serta esai, lulus seleksi sebagai asisten dosen, lolos trial di live streaming terbaru, berkeinginan jadi youtuber, aku mendukungnya. Apa alasankuku tidak mendukungnya? Tidak ada alasan. Justru ini bagian dari kesuksesan karur untukku juga. Terpenting, Dinda Clara menjadi wanita karir yang sukses.

“Aku menggiring Dinda Clara pada kesuksesan dalam karir wanita lewat blog ini”

Harapanku, karir wanita Dinda Clara masih berkaitan atau ditambah dengan dunia online yang sedang ia jalani. Lah, ini kan bagian dari proyekku juga. Bila aku kehilangan aktifitas Dinda Clara dalam dunia online, aku mau menulis seperti apa untuknya? Tetapi, apapun keinginan Dinda Clara dalam kesuksesan karir wanita, aku harus mendukungnya.

Sekarang ini, ia menjalani karir wanita sebagai penyiar di live streaming. Kebetulan, ia live streaming di Go Live. Iya, betul, aku anggap aktifitas live streaming bagian dari karir wantanya juga. Bila dikatakan bisa mendapatkan uang atau gaji, aku juga tidak bisa memastikan mendapat berapa karena belum tahu banyak persoalan ini. Sepertinya seorang penyiar hanya mendapatkan jumlah kecil uang saja. Tetapi, walaupun kecil, penyiar live streaming tetap dianggap sebagai sosok yang berkarir. Tentunya, Dinda Clara bisa disebut wanita karir sebagai penyiar live streaming.

“Dinda Clara adalah wanita karir di live streaming”

Tetapi, jangan tanya “apakah kamu sudah gajian, mendapat uang?” Sepertinya, pertanyaan ini agak sensitif untuk penyiar walaupun ada penyiar yang seneng ceplak-ceplok. Lagi pula, uangnya seberapa sih? Antara penyiar dan viewer hanya sekedar menjalin komunikasi via online. Ada pun mereka mendapatkan uang, itu hanya bonus saja.

Malam yang dinantikan tiba. Dinda Clara akan memulai live streaming yang kedua. Sebelumnya, ia mengawali live streaming sebagai trial, uji-coba. Berhubung trial dianggap lulus, Dinda Clara melanjutkan lagi di hari berikutnya. Kebetulan, Dinda Clara akan memulai live kedua di jam malam.

Aku menanti suara pemberitaan datang. Suara itu berasal dari aplikasi Go Live. Kalau sudah suara dari Go Live, ini bisa dijadikan tanda kalau Dinda Clara sedang live. Tetapi, kadang suara tidak berbunyi bila aplikasinya belum dibuka sama sekali sejak pagi atau dalam waktu yang lama.

Tingtong!

Yes! Dinda Clara sedang live.

Tetapi, aku selesaikan dulu pembuatan banner gambar. Banner Gambar ini untuk kebutuhan artikel blog yang sebelumunya sudah ditulis.

Lagi pula, aku tidak mau menjadi orang yang hadir pertama. Aku agak gugup bila aku sendiri yang menemaninya mengobrol. Aku sosok pria yang kurang pandai dalam obrolan. Bila sudah sekitar 10 menit, aku masuk ke ruangan Dinda Clara.

Ketika aku masuk ke ruangan Clara, beberapa orang sudah berbincang-bincang dengannya. Syukurlah. Tentunya, salah satu orang itu adalah sosok sudah menjadi pahlawan untuk karir wanita Dinda Clara di live streaming terdahulu dan sekarang. Pahlawan Clara itu bernama Mister X. Entahlah, siapa nama aslinya.

“Iwan sudah dikasih tahu?” tanya Mister X

“Belum. Belum ada yang dikabarin. Paling cuma Kak Ubay doang, karena dia nanya mulu.”

Aku tertawa.

Ya, aku mengakui kalau aku selalu bertanya bahkan mengompor-ngompor persoalan live streaming. Bagiku, ini juga bagian langkah sukses berkarir.

“Cahya belum dikasih tahu?” tanyaku.

“Belum juga. Nanti aku kabar-kabari tim-tim aku, he he…”

Dengan kondisi mata Dinda Clara yang selalu berkedip-kedit agak tidak normal karena matanya kering setelah lama melihat layar komputer, ia nampak lesu. Pembicaraannya cenderung layu seperti bukan sosok Clara yang biasanya. Maklum, ia juga belum tidur puas. Tetapi, ia tetap semangat menghadirkan senyuman manis dan hiasan kerudungnya yang membuat wajahnya agak bulat.

Dor!

Pahlawan Clara mengirimkan hadiah demi hadiah. Mungkin, ini sebagai pembangun dari lesunya. Tidak tanggung-tanggung, ia mengirim banyak give untuk Clara. Kalau dihitung, ia menghabiskan uang 80.000. Ahai, sepertinya. Aku juga tahu berapa harganya. Aku pun membeli 100 koin seharga 20.000 untuk Dinda Clara.

“Ma’acih Mister X”

Aku pun mencoba mengirim satu poin.

“Cieh, yang sudah beli koin. Ma’acih Kak Ubay”

“Aduh, Dinda, kenapa pakai dibilangin coy? Ha ha…” kataku dalam hati.

“Koin gretongan,” jawabku.

Setelah itu, pesimis datang kembali pada sosoknya. Ia mempertanyakan persoalan kelanjutan karir wanita Dinda Clara di layar live streaming. Secara, ia harus memenuhi target bak MLM agar bisa langgeng berkarir di live streaming. Target menapatkan pemberian koin sampai 6000 tiap bulan harus diraihnya. Bahkan beberapa orang menyebutnya tupo, tutup poin. Ya, begitulah aktifitas di dunia live streaming. Bila tidak seperti itu, pemilik bisnis bisa bangkrut karena tidak ada pemasukan dari pembelian koin.

“Jangan mengeluh, jangan minder. Santai ada Mister X, ha ha.”

“Ya maksudku, aku pasrahin aja ama Yang Maha Kuasa. Apapun takdirnya, aku terima.”

“Kita dukung terus dia, ok!” kata Mister X.

“Semangat,” balasku.

Aku pun rela mempertahankan karir wanita Dinda Clara di dunia live streaming walaupun sumbangsihku sedikit. Kehadirannya memang berharga buatku. Cerita hidupnya memang dibutuhkan untuk kelangsungan karirku sebagai penulis, khususnya di blog spesial Clara. Entah, apa jadinya bila Dinda Clara berhenti dari karir dunia live streaming.

“Cerita hidup Dinda Clara mendukung karirku sebagai penulis”

“Pengen jadi youtuber nih. Kalau aku jadi youtuber gimana ya? Misal, aku gak ada kerjaan, di rumah. Terus jadi youtuber. Vidio tentang apa ya?”

Aku senang sekali mendengar rencana karir wanita Dinda Clara yang ingin menjadi youtuber. Mungkin, aku bisa membantu memarketingkan channel-nya. Kalau blog milikku sudah menghasilkan ribuan kunjungan per hari, pelanggan channel-nya bisa jadi melimpah. Tentunya, ini hanya karir tambahan saja. Aku mengharapkan lebih dari ini. Kalau mau optimal, aku lebih mendukung pada karir wanita yang mengandalkan skill ilmunya. Vidio youtube hanya sarana menyampaikan apa yang dimiliki si youtuber. Memangnya, vidio Youtube mau diisi apa bila nol kemampuan?

“Wih, aku dukung kamu jadi youtuber.”

“Tapi aneh deh, kenapa ya orang-orang tuh pada suka liat youtuber-youtuber yang isinya gak penting seperti jalan-jalan ke mal dan lainnya? Buang-buang kuota banget. Aku sih sukanya vidio youtube yang emang penting seperti tutorial make up, tutorial masak dan lainnya yang emang bermanfaat.”

“Ya begitulah. Emang begitu yang diminati. Vidio-vidio yang emang sekedar hiburan belaka.”

“Tapi kan buang-buang kuota. Aku mah kalo jadi youtuber mau bikin vidio yang bermanfaat seperti tutorial dan lainnya.”

“Namanya juga anak milenial. Sukanya yang begitu.”

Pembahasan karir wanita untuk Dinda Clara berakhir di pembahasan youtube. Selanjutnya, obrolan biasa untuk mengisi waktu live streaming.

Live streaming pun selesai.

Aku bergerak sedikit untuk melancarkan oksigen. Menuju meja makan, aku meminum air secukupnya.

Hari ini, aku mendapatkan sesuatu yang berharga. Aku ungkapkan pendapatan berharga ini pada sosok yang kini menjadi tokoh utama di buku cerita novel Spagete Clarafah.

Berharga sekali cerita malam ini. Moga aku bisa menghadirkan suguhan cerita Dinda Clara terbaik di blog Bukubercerita.com. Moga langgeng jadi penyiar. Nyampe target 100K follower Instagram.

Karir wanita cenderung lebih sering dalam kondisi terancam. Ketika wanita sedang berjaya dalam bekerja hasil berjuang mati-matian, hal ini bisa binasa seketika setelah menjalin sebuah pernikahan. Alasannya simpel yaitu “mengurus anak”. Memang, suami bisa memaklumi kondisi wanita bekerja. Toh, mereka sama-sama memiliki hari libur. Masalahnya, siapa yang mengurusi anak setiap waktunya ketika mereka hidup berdua saja di tengah kesibukan mereka. Inilah kondisi terancamnya.

“Karir wanita sering dalam kondisi terancam”

Banyak wanita karir diidentikkan sebagai orang yang melantarkan keluarga khususnya anak. Anaknya diurus orang tuanya yang sudah lanjut usia atau asisten rumah tangga. Bayangkan, mereka menikah menginginkan anak. Tetapi mereka sendiri meninggalkan anaknya. Mereka bertemu anak hanya sekedar salam jumpa. Apakah seperti ini? Memang, tidak semua wanita karir sebagai pelantar keluarga. Tetapi, setidaknya, antara karir pekerjaan dan pengurusan anak menjadi masalah kebingungan sendiri untuk wanita.

Bagaimana dengan karir wanita Dinda Clara? Entahlah. Harapanku, ia bisa sukses dalam karir dan berumahtangga.

Lebih baik, aku menulis buku cerita novel sebagai kelajutan dari bab sebelumnya daripada harus memikirkan karir wanita khususnya karirnya. Tentu, ceritanya memasukkan kisah hidup Clara Oktavia.

File novel, aku buka. Di halaman file ms word ini, aku sudah merampungkan setengah novel. Di tengah keterbatasan tenaga, aku menulis cerita dengan stok imajinasi yang ada. Di sampingku, kopi sudah menyambut dengan dingin dalam aktifitas menulis cerita ini.

Tema besar buku cerita ini dianggap menarik karena mempertemukan nama Dinda Clara dengan Adik Arafah Rianti dalam satu judul yaitu Clarafah. Karena menarik, menurutku, novelku layak untuk diterbitan.

Aku akan banyak menceritakan sosoknya dalam novel Spagete Clarafah, termasuk ketika ia menjalani aktifitas sebagai wanita karir. Aku akan berusaha menulis dengan memperhatikan batas-batas tertentu agar Dinda Clara tidak marah, tersinggung. Dalam fiksi, penulisannya cenderung bebas. Bila bebas, kenapa aku tidak bebas menceritakan sosok Dinda Clara dengan suguhan citra positif? Tujuannya, aku ingin membuatnya ‘tersenyum’.

Selamat berjuang, wanita karir Dinda Clara Oktavia. Aku ingin cerita sukses darimu!

No comment for Wanita Karir Clara Oktavia Dalam Buku Cerita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post to Wanita Karir Clara Oktavia Dalam Buku Cerita

Kinos, Teman Baru Cut Syifa Dalam Cerita Romantis

Posted at Oktober 24, 2018

Hari ini, aku harus berbelanja saldo pulsa. Saldo pulsa sudah di bawah 10.000. Sekarang ini, konter distributor berada di area jalan LPI Buntet Pesantren.... Read More

Doa Dan Ucapan Ulang Tahun Untuk Dinda Clara

Posted at Oktober 12, 2018

Dalam gelap malam, aku memikirkan perkataanku pada Dinda waktu itu. Ini persoalan kado doa dan ucapan ulang tahun untuk Dinda Clara yang bertepatan di... Read More

Cerita Kata Kata Cinta Buat Pacar Tersayang

Posted at Oktober 4, 2018

Aku tidak tega membangun cerita banyak seputar kata kata cinta buat pacar tersayang pada Dinda Clara Oktavia. Di samping kita tidak memiliki ikatan cinta... Read More

Cerita Cinta Jarak Jauh Yang Menyakitkan, Oh Dinda

Posted at September 20, 2018

Cinta jarak jauh yang mungkin dirasa menyakitkan sudah aku hindari. Aku tidak sedang mendramatisir sebuah cerita cinta jarak jauh masa lalu karena cerita cerita... Read More

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Blog Cerita Inspiratif Spesial Clara Oktavia

Posted at September 18, 2018

Bagaimana blog cerita inspiratif spesial Dinda Clara Oktavia. Tentunya, saya membahas khusus di kategori blog ini seputar cerita yang berhubungan dengan Dinda Clara. Untuk... Read More